Berasal dari pengalaman pribadi, yang seluruhnya merupakan hasil coba-coba, tulisan ini hanya sebuah bentuk keresahan yang jauh dari sebuah hasil penelitian dan pemikiran yang matang. Di akhir masa tugas yang sisa menghitung hari saja, saya dapat menyimpulkan beberapa hal penting untuk diketahui dan diperhatikan agar dapat menikmati waktu tinggal sementara di negeri Kanguru, Australia.

Berasal dari pengalaman pribadi, yang seluruhnya merupakan hasil coba-coba, tulisan ini hanya sebuah bentuk keresahan yang jauh dari sebuah hasil penelitian dan pemikiran yang matang. Di akhir masa tugas yang sisa menghitung hari saja, saya dapat menyimpulkan beberapa hal penting untuk diketahui dan diperhatikan agar dapat menikmati waktu tinggal sementara di negeri Kanguru, Australia.

Tiba di Australia sebagai asisten guru Bahasa, saya ditempatkan di sebuah daerah yang jauh dari pusat kota. Tepatnya di Geraldton, bagian utara kota Perth, Ibukota Australia Barat. Begitu tiba, saya langsung dihadapkan dengan masalah administrasi dan aturan di Ausi. Tapi berkat bantuan orang-orang baik di Gero, nama imut untuk Geraldton, saya berhasil melaluinya walau dengan drama lucu bin mengharukan.

Si Gero yang lucu dan imut!

Jika kalian berkesempatan untuk ada di posisi saya, atau kebetulan terdampar di tempat yang tak jauh beda, ada beberapa tips yang mungkin bermanfaat menurut saya, apalagi jika kalian baru pertama kali hidup di luar negeri seperti noraknya diri saya ini: Read the rest of this entry »

 

IMG_4868

Teman-Teman Seperjuangan, Asisten Bahasa Australia Barat 2018!

 

Saya tiba-tiba teringat dengan penerus saya kelak. Sisa menghitung hari saya akan meninggalkan tugas saya sebagai asisten guru di Gero. Dan beberapa bulan lagi, pengganti saya akan hadir mengemban tugas yang sama dengan saya.

Kami tidak saling kenal, meski tentunya sudah saling bertukar informasi singkat serta tanya jawab tentang pengurusan visa dan persiapan keberangkatan melalui grup WhatsApp yang dibuat.

Ada beberapa catatan singkat dan subjektif dari saya, agar kelak menjadi language assistant tidak terlalu membebani tapi lebih dinikmati. Read the rest of this entry »

Dulu dan Nanti

Posted: December 1, 2018 in Australia Daily
Tags: , , ,

Saya ingat ketika pertama kali datang ke Ausi, negara maju, penuh warga keturunan Eropa. Dimana-mana orang berkendara dengan tertibnya. Banyak gedung menjulang. Jalan yang begitu bersih. Juga taman-taman asri nan sejuk.

Beberapa hari berikutnya, saya berada di Gero, suasananya berbeda dari ibu kota. Tak ada gedung tinggi, bangunan ciamik ciri khas Eropa, dan juga kereta cepat tuk transport massalnya.

Jauh di pedalaman ini, saya belajar banyak hal baru. Hari-hari berganti seiring musim berganti. Cuaca berangin, suhu panas dan dingin silih berganti menyapa. Saya pun bersyukur iklimnya tak seekstrim region lain di belahan timur dan selatan. Salju pun tak turun di musim dinginnya.

Tugas saya pun selalu penuh kejutan. Kadang berlalu biasa saja, kadang merasa terlalu berat tuk kemampuan saya yang biasa saja. Namun tak jarang, kebahagian dan rasa senang memenuhi dada diakhir hari-hari yang melelahkan.

Memang perpisahan adalah akhir dari semua perjalanan. Mungkin cerita di sini akan menjadi kenangan di masa tua. Bercerita bahwa keagungan dan kebesaran bangsa lain, keberagaman yang begitu dihormati dan tentang semua kearifan budaya yang dijaga selalu.

Perayaan di sini tak terbatas satu atau dua saja. Setiap pekan mereka merayakan kebersamaan. Dimana fasilitas publik benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakatnya. Rasa kebersamaan terjalin dari interaksi dan juga saling memahami.

Saya mungkin pulang dengan pengalaman baru, menjadi pribadi yang baru, namun kesederhanaan dari perjalanan hidup selamanya akan membekas di ingatan.

All Language Assistants 2018, Anwar, Ismail, Arif, dan Galuh!

Taruh dimana yah? Perasaan tadi ada di sini” pikirku dalam hati. Sembari mencari-cari, akhirnya saya sadar kacamata itu ada dia atas kepala saya.

Mungkin hal tersebut sering terjadi, mencari-cari sesuatu yang sebenarnya ada di dekat. Saking dekatnya ia sering tak terlihat.

Hidup kadangkala tak jauh-jauh dari hal seperti itu. Terkadang kita mencari kebahagian dengan sebuah perjuangan jauh ke penghujung dunia lain, tanpa sadar banyak kebahagiaan yang sudah disediakan dekat di lingkungan sekitar kita.

Keluarga dan kampung halaman pun sebenarnya adalah kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan yang dicari untuk rasa damai dan tentram. Mungkin jika berada di kampung dan di antara keluarga, sangat pasti kita takkan merasa hal itu berharga.

Rasa berharga akan nilai keluarga dan kampung ini akan begitu terasa saat kita jauh dari mereka. Terpisah jarak membuat kita menjadi lebih bijaksana menilai dari sudut pandang yang berbeda.

Jika masih merasa kebahagiaan belum dicapai, masih merasa perlu mencari dan mencari hingga kadang putus asa, cobalah berhenti sejenak. Jangan dipaksakan.

Kalau perlu berpetualang dulu ke tempat lain, berpindah dulu ke pekerjaan baru, atau masuklah di komunitas yang menawarkan suasana baru.

Jangan takut dengan perubahan, siaplah hadapi tantangan apapun itu. Karena bagaimanapun susahnya, sulitnya, rumitnya, sebuah persoalan pasti akan ada akhirnya.

Ingat selalu, semua akan terasa mustahil sampai kita selesai melakukannya.

 

IMG_4291

Sudut kota Gero Bebas nan Damai

 

Kenapa terlalu cepat berhenti, saat kita belum sama sekali memulai.

Saya tak pernah memungkiri bahwa memulai sesuatu yang rutin merupakan perjuangan berat. Dalam berbagai bentuk usaha membangun sebuah kebiasaan, langkah awal menjadi penentu memulai, tapi menjaga konsistensi melakukan adalah kunci keberhasilan.

Saya selalu mencoba, memaksa diri menghasilkan sebuah tulisan dalam sehari, sekurang-kurangnya satu tulisan saja, namun selalu saja berakhir dengan halaman kosong tanpa sebaris kalimatpun. Paling banter sebuah judul dan kalimat pengantar. Begitu saya menulis, tiba-tiba khawatir dengan hasilnya. Terlalu berharap banyak dari ketidakpastian respon pembaca.

Orang-orang memang banyak berkata bahwa, cara termudah dalam menulis adalah menceritakan ulang sesuatu yang sudah dialami. Tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dalam perjalanan di Australia, saya belum mampu melihat pengalaman pribadi sebagai cara termudah mendapatkan ide tulisan.

Konsumsi publik dan selera pembaca selalu jadi pertimbangan saya. Selama ini menjadikan tulisan sebuah sumber informasi selalu jadi landasan saya menulis. Ketika tak ada unsur informasi yang ada dalam tulisan saya, rasanya tulisan tak berfaedah, hanya untuk kepuasan diri sendiri.

Tak jarang, saya pun banyak mencontoh tulisan-tulisan yang menurut saya bermanfaat untuk dibaca, apakah itu informasi yang berbeda, ataukah cara penyajian berbeda untuk informasi yang sama.Ujung-ujungnya rasa kecewa selalu ada, selalu menggebu-gebu diawal, tapi kembali pesimis di akhir.

Tulisan ini adalah sebuah bentuk keresahan dari penulis biasa, seperti saya. Ketidakpercayaan atas tulisan sendiri melihat pembaca yang nampak tak menikmati. Dan ujung-ujungnya adalah tulisan yang lari ke sana kemari tanpa arah dan tujuan pasti. Beruntung jika jadi sebuah tulisan, jika tidak, maka hanya sebuah kekecewaan lagi dan lagi.

Dan sudah saatnya saya berhenti, dari semua ketidakpercayaan itu, saya percaya, suatu saat, tulisan saya akan merajai banyak media, menjadi trending topik, dan tidak perlu lagi melihat tulisan orang lain sebagai contekan yang kadang menjadi lebih buruk. Dan mungkin tulisan saya berikutnya adalah sebuah bentuk kebebasan ekpresif dari diri saya. Tak perlu lagi menanyakan kenapa tulisan berubah dan tidak terarah, jawabannya singkat, saya hanya mau menjadikan tulisan saya media aktualisasi diri saya dan eksistensi saya.

Jangan jadikan acuan, dan jangan jadikan penghakiman, semua orang berhak atas kemerdekaan berekspresi!

 

 

IMG_2533

Bukan sekedar berjuang, tapi juga bertahan!

Terkadang, intan permata itu dapat ditemukan setelah menggali jauh ke dalam kerak bumi, sejauh-jauhnya, bahkan karena terlalu jauh, orang memutuskan berhenti dan kembali tanpa hasil. Mungkin pernah melihat gambar ilustrasi dua orang yang menggali di dua terowongan, yang satu sudah hampir tiba di dekat permata dan berlian,mungkin sisa beberapa kali mengayunkan alat penggali sudah dapat menemukannya. Sedang yang satu baru setengah jalan. Tapi digambar tersebut, yang sudah hampir mendapatkan batu-batu permata itu malah berbalik badan, karena merasa putus asa dan mengira hasilnya akan sama saja, ia berhenti berusaha dan akhirnya tidak mendapatkan apa-apa setelah perjuangan panjangnya tersebut. Sedang yang satu, jika ia terus berusaha akan tentu tiba di dimana kumpulan batu permata itu berada. Usaha kerja keras, hasil pun akan didapatkan.

 

Jika terus bekerja keras, berusaha terus pantang menyerah, maka dunia akan memberikan penghargaan atas keuletan kerja dengan kesuksesan yang pasti akan didapatkan. Begitulah orang-orang banyak memotivasi, terdengar meyakinkan.

Memang hal yang klise sekali, banyak yang setuju, tapi tunggu dulu. Tidak semudah itu Fergusso! Read the rest of this entry »

img_0871

Bidiklah titik tertinggi!

 

Wah, akhirnya diterima juga jadi pengajar Bahasa Indonesia. Meski masih harus mengurus VISA untuk memastikan keberangkatan ke sana. Rasa bahagia dan senang saya hampir jadi luar biasa, jika ia memiliki wadah maka sudah tumpah-tumpah karena tidak dapat tertampung lagi. Masa-masa menunggu surel dari panitia penyeleksi dan departemen pendidikan yang mengurus kontrak kerja pun serasa mendebarkan, ada manis-manisnya ibarat menunggu balasan surat cinta kala SMP dulu.

Tapi ternyata semua penantian tak selalu berakhir bahagia, adakalanya menorehkan luka karena ketidakjelasan yang diberikan, kata anak jaman now itulah namanya di-PHP. Hal itulah yang terjadi, saya mengirimkan aplikasi visa saya saat teman yang lain belum mengirimkannya, saya memberikan semua informasi selengkap-lengkapnya tapi ternyata saya hanya digantung tidak jelas hingga tahun berganti. Malah teman yang lain, semua sudah mendapatkan kejelasan. Saat mereka sudah terbang ke negara seberang, saya masih memandang langit dari daratan pulau di Indonesia.

Saya pun mulai pesimis, saya berubah apatis menjalani keseharian tanpa mau menjadikan hasil keputusan imigrasi hal yang penting lagi. Saya hanya berpikir jika rejeki takkan kemana, jadi biarlah waktu yang menjawabnya. Dampaknya pun tak main-main, saya hampir-hampir melupakannya, saya tak mempersiapkan apapun untuk memenuhi tugas saya kelak di sana. Awalnya saya berjanji untuk belajar tarian daerah, musik-musik tradisional bahkan seni kriya asli Toraja yang bisa saya tampilkan kelak di sekolah. Namun kemalasan pun tak lagi bisa dibendung. Semua seakan tinggal kenangan saja.

Setelah tak lagi ditunggu kabarnya, pihak imigrasi pun muncul menggoda saya. Namun bukan kabar baik yang ia berikan, sebuah lampu merah yang dikirimkan sebagai tanda VISA saya ditolak. Biaya pengurusan VISA pun hangus dan tak dapat dikembalikan. Sayapun mencoba untuk kembali berprasangka baik, mungkin ada doa-doa orang lain yang lebih menginginkan saya di Indonesia ketimbang merantau sebentar ke Australia. Berkabarlah saya ke keluarga di kampung. Sang ibu, juru bicara dan juru kunci di keluarga saya, menyerahkan semua keputusan ke saya. Tapi sebelum beliau mematikan sambungan telepon, disempatkannya memberikan semangat agar saya mau mencoba sekali lagi, kalau memang tidak berhasil, berarti itulah rejeki saya. Read the rest of this entry »

Lakukan Saja!

Posted: September 22, 2018 in Australia Daily, Curcol

Saya tiba sesuai jadwal yang diberikan dari TransWa, bus antar kota di Australia Barat, yang membawa saya dari Geraldton pagi tadi. Meski harus berjalan tertatih-tatih karena sudah telat dan beban tas lumayan berat, saya berhasil tiba tepat waktu di area keberangkatan di Platform market. Setelah menuliskan nametaguntuk tas saya, saya lalu mencetak tiket di counter yang tersedia. Karena tiket bus Transwa juga bisa digunakan sebagai tiket kereta Transperth di kota Perth, maka sudah seharusnya tiket tersebut dicetak saja, agar bisa dengan mudah diperlihatkan ke petugas jaga di pintu masuk dan keluar stasiun di Perth nanti.

Begitu tiba di Stasiun East Perth, saya langsung menuju ke area tunggu kereta yang menuju pusat kota Perth untuk kemudian mampir ke Perpustakaan Wilayah Australia Barat yang berada tak begitu jauh dari stasiun kota Perth. Tujuan saya tak lain adalah untuk mengisi ulang baterai telepon genggam saya yang mulai berkurang dan juga menchargebaterai kamera yang ternyata kosong melompongkarena lupa dimatikan sejak tadi malam. Selain itu, sekalian juga saya bisa melaksanakan kewajiban sholat yang sudah masuk waktunya. Memang tak ada tempat khusus untuk sholat di sini, namun sudut-sudut ruangan yang sangat luas namun bersekat-sekat dan juga sepi senyap, membuatnya pas untuk dijadikan pilihan lokasi sholat saat terdesak.

Hari sabtu ternyata jam tutup perpustakaan ini cukup lama, yakni pukul 5.30. Saya pun bisa menghabiskan lebih banyak waktu di sini. Bukan hanya masalah koneksi internet gratis dan colokanlistrik yang banyak tersedia, saya juga merasa sangat nyaman di tempat ini. Pengunjung yang sibuk membaca, menulis dan mengetik serta berdiskusi dalam kelompok kecil tampak tak menimbulkan suasana gaduh sama sekali. Terlebih lagi ruangan tiap lantainya begitu luas, ditambah kursi dan sofa super empuk, maka ‘anu’ apalagi yang kamu cari?, makanya tempat ini tentu pas sekali untuk memanjakan diri yang sedang kelelahan.

Read the rest of this entry »

Maaf saya lupa!

Posted: September 19, 2018 in Australia Daily

Hari pertama di kelas adalah pengalaman yang tak mudah untuk saya gambarkan dengan kata-kata. Mungkin karena perasaan yang campur aduk kala itu, akhirnya tak banyak yang bisa saya ingat dengan detail. Tapi, daripada tidak ada sama sekali yang tercatat, lebih baik saya tuliskan saja seadanya, siapa tahu nanti bisa jadi pengingat di hari tua nanti.

Saya berdiri sebentar sambil melirik jam yang terpasang di sudut kelas, sisa 5 menit lagi, pikirku memastikan jadwal yang sudah diberitahu guru mentor saya tadi. Saya pun lalu duduk kembali, mengecek presentasi sederhana tentang perkenalan diri saya di komputer di meja saya. Kembali merasa ada yang kurang, meski sudah dicek berkali-kali sejak tadi malam.

Saya mulai penasaran seperti apa anak-anak SD di sini saat belajar di kelas. Begitu bel telah berbunyi, murid-murid dengan warna rambut tak hanya hitam mulai tampak berjalan dari kejauhan. Mereka terhenti tepat di depan pintu masuk sambil berbaris menantikan guru mentor saya menyambut mereka. Tentu saja, tak ada pemeriksaan kuku seperti yang dulu saya alami ketika SD. Mereka harus berjalan dari kelas mereka didampingi guru wali mereka, lalu di depan kelas Bahasa ini, barulah diambil alih oleh guru Bahasa Indonesia. Kayaknya proses serah terima ini selalu berlangsung seperti itu, tak jarang saya melihat ada pesan rahasia yang disampaikan oleh guru wali atau pendamping mereka saat proses ini berlangsung. Mungkin sekedar informasi kehadiran, atau pun keadaan stabilitas jiwa dan kedamaian suasana hati siswa-siswa yang datang, entahlah, saya hanya bisa menebak-nebak saja. Read the rest of this entry »

Bukan Rejeki Maka Bersabarlah!

Posted: September 18, 2018 in Australia Daily

Pertama kali tiba di Australia, rasanya lumayan nano-nano, kayak ada manis-manisnya gitu. Mirip kisah sedih orang terlantar, saya harus merasakan hidup tak jelas selama beberapa hari karena belum bisa langsung bekerja. Parahnya lagi, saya harus menanggung biaya hidup selama proses penantian tersebut, penantian selesainya pengurusan surat-surat administrasi hingga saya bisa bekerja sesuai kontrak yang sudah ditandatangani. Apakah saya ditipu? Atau saya yang kurang beruntung saja? Mungkin kita bisa lihat lagi apa yang terjadi hingga saya mengalami keterlambatan kerja tersebut.

Jika merujuk ke cerita saya yang ketinggalan pesawat dari Bali ke Perth, mungkin hal tersebut bisa sepenuhnya menjadi kesalahan saya, namun jika melihat lebih jauh lagi ke belakang, sebenarnya semua ada hubungannya dengan keterlambatan visa saya. Awalnya, semua asisten pengajar Bahasa sudah dibolehkan tiba di Australia dua minggu sebelum kontrak kerja dimulai, dan waktu tersebut memang disiapkan khusus dengan perkiraan sudah cukup memadai untuk mendapatkan legalitas bekerja sesuai aturan di sini. Mengapa sampai dua minggu? Karena kerja sebagai language asisten disini ternyata tak semudah kerja di Indonesia, ada beberapa berkas yang harus benar-benar dimiliki untuk bisa mulai bekerja di sekolah sesuai tugas yang diberikan. Walau hanya sebagai asisten pengajar, bukan guru inti, namun keamanan dan legalitas diatur dengan sangat ketat. Seingat saya, ada beberapa hal yang perlu disiapkan, yang pertama adalah pembukaan rekening bank, lalu dengan menggunakan rekening bank dan beberapa berkas, seperti passport dan visa lalu mengurus keterangan bebas dari tindakan kriminal, dan terakhir mengurus kartu berhak bekerja dengan anak-anak atau working with children check. Tak lupa juga membuat secara online nomor berkas pajak atau TFN yang nantinya akan sangat berguna dalam proses pengurusan pajak. Saya rasa nomor inilah yang jadi nomor sakti di Ausi, mungkin akan saya bahas tersendiri pendapat saya tentang nomor ini di tulisan lainnya, semoga.

Read the rest of this entry »