Archive for February 21, 2014

Dalam keseharian kita sebagai mahasiswa tingkat S2, tentu saja tuntutan menulis dan menuangkan ide itu bukan hal yang baru dan tentu saja perlu perhatian khusus. Jenis tulisan inipun lebih dikenal dengan Tulisan Akademik. Kami sendiri merasa menulis akademik terkesan menantang dan penuh dengan kegalauan. Terkadang memulai tulisan itu memakan waktu 2 hari, menyempurnakan isinya baru pada H-2, bahkan ada yang katanya (ini hanya katanya) tulisannya bisa selasai pad malam hari sebelum hari deadlinenya. Hm, apa sebenarnya yang menjadi kendalanya yah? Menurut hemat penulis sendiri ada banyak hal, namun kali ini kita akan coba mengintip apa dibalik semua itu.

Sebenarnya menulis akademik itu mudah. Dalam tulisan akademik, kita dituntut untuk mengemukakan pendapat kita dan tetap mengantispasi kontra argumen yang mungkin muncul. Kita harus mampu untuk mengatur ide yang kita punya dalam barisan kata yang panjang ataupun singkat. Jalan ceritanya tidak akan sepenting kejelasan dari tata letak yang logis tentang ide-ide tersebut. Terkadang kita juga harus menguasai kosakata teknikal dan juga penggunaan yang tepat terhadap kata-kata tersebut dalam bidang ilmu kita.

(more…)

(Mantan) Ruang

Posted: February 21, 2014 in Cerpen, Kuliah
Tags: , , , , ,

Jumatan telah selesai, kami meluncur dengan kecepatan biasa-biasa saja, melontarkan deru polusi mesin matic dan honda supra yang sedari tadi menemani. Kami bertiga, ada A, I, dan U..(kurang E dan O). Kami bertiga tadinya berbanyak-banyak ria, namun tuntutan profesi, kami berpisah meniti karir di dunia berbeda (dunia lain juga). Kami tadinya dihampiri kegalauan dengan tingkat bervariasi, mulai tinggi, sedang, dan rendah. Si A mungkin rendah, atau juga sedang, aku masih sedang pun tak tinggi, Namun si U, ternyata galaunya tertinggi. Muasalnya tak lain adalah penutup kepala kulit membalut plastik elegan dengan kaca yang sisi kerenitasnya tak lagi diragukan, telah dipinjam orang lain tanpa sepengetahuan kami. Sang peminjam yang tak segan-segan mencongkel dan memindahkannya ke tempat yang tak kami ketahui lagi, tanpa kabar, nampaknya ia tak bermaksud mengembalikannya lagi.

Diluar kegalauan itu, si U tetap bersyukur pada_Nya, toh hanya bagian kecila tersebut yang diambil, gimana kalau yang diambil bagian besarnya? Hm, selalu ada jalan tuk mengajari kita bersyukur. Setidaknya pengalaman kali ini menampar-nampar kami untuk melihat dari segala sisi. Tadinya kami melihat dari sisi efisiensi waktu, ternyata kami teledor dalam hal keamanannya. (more…)