Kamar Tanpa Kasur

Posted: December 25, 2017 in daily life

Kami Panggil Ia Rumah

Kamarnya lumayan luas, ukurannya pas dengan kami berdua, hanya tikar alas dan tak ada kasur. Meja tanpa kursi dan meja panjang tuk belajar lesehan. Di sudut ada ruang sempit depan pintu WC kami sebut ia dagud mini, singkatan tuk dapur dan gudang tepatnya. Ada kompor portable yang kami bawa dari Makassar dan karton bekas beli ricecooker yang tertumpuk berdampingan layaknya pasangan muda mudi yang mojok di sudut ruangan.

Bapak kost memberi harga lumayan murah, dengan fasilitas kamar mandi dan WC dalam kamar, bebas biaya air dan listrik, ia hanya mematok harga 550 ribu saja.  Diberi pula kami bantal kepala dua biji. Jemuran pun disisakan area buat kami menempatkan pakaian-pakaian basah yang siap tuk berjemur.

IMG_20170925_125503.jpg

Layangan Putus Terdampar Di Depan Kamar

Bapak dan Keramahannya

Hari pertama kami dipinjamkan motor oleh si Bapak untuk mengambil barang yang dititipkan di kantor pelatihan. Motor matic yang warna hitammnya udah pudar terpapar sinar matahari  tersebut, masih dapat melaju cukup kencang, sayangnya tak ada STNK pun juga lampu depan yang tak lagi berfungsi. Andai motor ini lengkap surat-surat dan lampunya mungkin sudah dia tawarkan ke kami  untuk kami sewa.

Dia tak memberikan kami helmet kala itu, katanya tidak ada sweeping atau sejenisnya di sana. Dia kalau pun keliling sekitar area rumahnya tidak pernah sekalipun pake helm. tp katanya jangan dicontoh. Walhasil kami pun sempat ditegur di tempat pelatihan waktu ambil barang.  Petugas keamanan mengingatkan kalau tidak lengkap helmnya, tidak boleh masuk. Untungnya karena kami masih baru, jadi tuk kali ini saja kami diperbolehkan masuk dan mengambil barang-barang kami.

Sore dan Teras Rumah

Di sore hari kami lebih sering duduk di depan gerbang pagar rumah si bapak. Bukan di depan kamar kost, tapi di depan rumah di luar pagar, di sisi sebelah rumah di tepi jalan gang. Biasanya segelas teh hangat atau kopi hitam dan snack ringan, pisang goreng ataupun roti menjadi menu penikmat senja. Terkadang saya merasa rumah ini seperti rumah di kampung saya, kala kepanasan saya pun tak segan membuka baju dan bertelanjang dada, duduk meminum kopi bercerita ngawur ngidul sambil menebar senyum pada pejalan kaki yang melintas di depan kami. Mereka yang lewatpun seakan menghormati kami, penuh keramahan membalas senyuman, membungkukkan badan sebagai bentuk hormat dan permintaan izin melintas. Ah, rasanya kata ‘tabe’ di tempat ini sama adanya di kampung yang jauh di sana.

Ketika duduk di depan, suasananya akan lebih sejuk, walau tak ada pemandangan yang begitu menarik. Hanya langit biru yang tetap menarik mata ini, langit yang sejak siang hingga sore selalu dipenuhi layangan aneka warna dan bentuk. Rupanya angin di sini sedang semangatnya berhembus. Andai ia dapat juga menghembuskan kerinduan rumah yang mulai terasa di awal perjalanan ini, mungkin cerita ini akan lebih lebih indah lagi.

Denpasar, September 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s