Menakar Rasa Kecewa

Posted: December 31, 2017 in Smiler Writing

Saya mengingat semua yang terjadi pada hari itu, tapi entah mengapa saya lupa untuk mengatakan selamat tinggal.

Orang terdekat sudah saya hubungi, orang tua dan kerabat family pun sudah tahu dengan rencana saya. Setelah hubungan ini terjalin begitu lama, bahkan sejak kami lulus SMA, saya sudah memantapkan hati memilih dia sebagai wanita terakhir yang akan menemani hingga ajal menjemput. Telah saya tetapkan minggu kedua Januari 2015, saya akan melamar dia. Memang bukan waktu yang singkat tuk bisa sampai di posisi ini, dimana saya merasa mapan dan pantas tuk meminang anak gadis orang.

***

Begitu beratnya, kau lepas diriku

Sebut namaku jika kau rindukan aku

Aku akan dataaaang…

Ah, lagu “Mungkinkah” yang begitu popular di era 90an menjadi pengantar sendunya perpisahan kami malam itu. Mungkin Grup Band Stinky dan suara mellow Andrew dapat menyatu dengan suasana hati saya saat itu. Sebuah perpisahan harus terjadi, besok saya bertolak menuju ke Papua, tanah yang asing tak pernah terpikir untuk dijama oleh anak Makassar ini. Keberhasilan sebagai karyawan baru teknisi controller di PT.Freeport, salah satu tambang terbesar di Indonesia saat itu, mengharuskan saya meninggalkan kampung halaman. Jurusan teknik pertambanganlah yang memuluskan jalan saya bisa diterima di tempat ini, meski hanya lulusan universitas swasta, namun koneksi dan pengalaman yang saat praktik lapangan menjadi nilai plus bagi saya.

Di usia 27 tahun ini, saya harus meninggalkan keluarga saya, orang-orang hebat yang takkan pernah cukup balasan kebaikan saya tuk jasa mereka. Bapak, seorang supir antar kota, menjejalkan hidup di jalan tuk membesarkan anak-anaknya, Ibu pun demikian mencurahkan seluruh jiwa dan raganya menopang pendidikan saya hingga menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah. Keikhlasan, tekad dan juga doa restu dari mereka jualah yang meneguhakan hati merantaukan diri ke negeri nan jauh di seberang pulau.

Tapi mungkin kenangan bersama Rani, gadis Bugis asli yang memikat hati ini, yang mengucurkan air disudut mata ini nantinya. Kami sudah cukup lama bersama, dan mungkin sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan dalam ikatan suci nantinya. Meski butuh waktu yang lebih lama, tuk bisa mengumpulkan uang untuk meminangnya.

Iya, saya akan tunggu. Mungkin kita perlu bersabar lebih lama lagi. Semoga kita berdua dikuatkan hingga tiba masanya kita bersama nantinya” Kata-katanya begitu menguatkan dan membulatkan tekad ini tuk berjuang menghalalkannya.

Bukan rahasia lagi bahwa gaji di pertambangan sangat menjanjikan, fasilitas penunjang pun sangat memanjakan pekerja yang ada jauh dari keluarga mereka. Keadaan tambang di remote area yang jauh dari pusat keramaian kota, mengharuskan pemilik tambang menjaminkan kesejahteraan bukan hanya psikis namun juga financial. Jika dihitung-hitung mungkin gaji saya akan cukup untuk melamar Rani hanya dalam satu tahun kerja, namun ternyata tanggungan saya bukan hanya itu.

Saya bukan tipe orang yang suka berterus terang, terkadang saya  membiarkan orang lain tidak tahu apa yang terjadi dengan kehidupan saya. Bahkan kepada Rani pun saya tak selalu terbuka kepadanya. Ada hal yang tak harus saya beri tahukan kepadanya. Sekali-kali saya menghubunginya hanya untuk menanyakan kepadanya apa ia sudah punya calon yang datang melamar. Tentu saya tak benar-benar bertanya tentang itu, saya hanya ingin memastikan bahwa dia masih menungguku. Saya hanya bisa menanyakan itu sekali dua kali, tak begitu sering saya menghubunginya. Saya pun tak pernah jujur padanya dengan keadaan saya yang harus menjadi tulang punggung keluarga saat ini. Selain harus menyimpan uang tuk biaya pernikahan, saya pun harus memberikan kiriman kepada orang tua dan membiayai kuliah dua adik saya. Menjadi tulang punggung keluarga dan itulah nyatanya diriku saat ini. Bekerja bukan hanya untuk diriku sendiri tapi juga untuk mereka yang berarti dalam hidupku.

Hal tersebutlah yang membuat saya harus menunggu lebih lama untuk bisa akad dengan si dia. Karena prinsip yang saya pegang teguh dari dulu, bahwa saya harus mapan dan benar-benar sejahtera untuk siap menikah. Dan uang yang saya akan gunakan menikah haruslah berasal dari penghasilan saya sendiri.

***

Saya sengaja tidak memberikan tanda bahwa saya akan melamarnya saat ini. Sebuah kejutan yang saya berikan kepadanya tentulah akan selalu ia kenang. Saya berencana menghubunginya pagi ini, Saya menelponnya setelah hampir dua bulan tak pernah berkabar dengannya karena kesibukan laporan di tambang dan persiapan lamaran yang memang harus ku bicarakan dengan keluarga besar. Terakhir yang aku tahu, dia masih menjawab hal sama tuk pertanyaan rutinku itu, “Iya, belum ada yang datang”. Begitu dia menjawab saat saya bertanya apa sdh ada yang datang melamar.

Halo, ini saya Adit, gimana kabarnya, Rin?

Adit? Kamu dari mana saja? Sudah 2 bulan Dit.. dan kamu baru menghubungiku lagi?

Iya RIn, aku sibuk dengan laporan dan persiapan di kampung. Eh..aku mau ke rumahmu hari Minggu ini, aku akan datang bersama keluarga ku Rin.

Ke rumah? Bersama keluarga? Jangan bilang kau mau melamarku Dit? Jangan katakan hal itu?

Suaranya seakan semakin berat, seakan menahan tangis yang terekam jelas dari getaran suaranya.

Dit…bulan lalu, seorang laki-laki, anak dari teman baik ibuku, datang melamarku. Sebelumnya, sudah tiga kali saya menolak lamaran dari beberapa laki-laki, karena saya berharap padamu Dit. Orang tua tak mampu lagi ku yakinkan untuk menunggumu, apatahlagi kau tak berkabar lagi dua bulan terakhir ini. Aku tak tahu apa kau benar-benar mengharapkanku atau hanya aku yang berharap lebih. Maafkan aku Dit.

Tapi Rin…kau tahu kan aku selalu memperjuangkanmu, kau tahukan aku telah mempersiapkan semua untuk pernikahan yang selalu terucap dalam doa 2/3 malam mu?

Ah, saya tak mampu mengingat lagi apa yang terjadi setelah itu. Hanya dingin malam dan gelap langit yang teringat jelas malam itu. Saya tak ingat lagi bagaimana hal itu saya kabarkan pada keluarga, yang terasa hanya kehampaan. Apa mungkin Tuhan tak melihat perjuanganku menghalalkan dirinya? Atau mungkin sudah seharusnya waktu yang menjawab semuanya. Kesalahan dan ketidakjelasan, komunikasi yang tidak pernah ku anggap masalah. Saat semua sudah diujung perjuangan dan kini apa harus penyesalan yang terus mengikuti kenangan dan kebodohan tuk selalu menganggap sebuah kejutan untuk dia justru memberikan kejutan begitu memilukan tuk diriku sendiri. Aku hanya bisa tertawa dan berbahagia tuk diriku sendiri. Mungkin takaran kekecawaanku tak dapat terukur lagi. Maafkan aku Tuhan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s