Merasakan Ketegangan antara Valentino Rossi dan Marc Márquez

Posted: June 10, 2018 in Australia Daily, Kata-Kata
Tags: , , ,

14 Februari adalah hari kasih sayang sedunia, katanya, dimana banyak orang di belahan dunia lain merayakan dengan bunga dan coklat yang  diberikan kepada orang terkasih. Namun, bukan hal tersebut yang spesial bagi saya hari ini. Hari ini perjalanan pertama kali melintasi batas negara Indonesia, semua mimpi yang tercipta ratusan hari yang lalu, akan terwujud. Ku tatap nomor tiket pesawat Sriwijaya Air yang akan mengantarkan menuju pintu keluar Indonesia, Bali International Airport, saat masih menunggu di bandara Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan.

Tiba di sini agak telat karena hujan yang membasahi jalanan, om mobil gocar, saya lebih senang menyebutnya seperti itu, membawa saya tiba sekitar sejam lebih awal. Ada om Lias, adik Ibu yang bekerja di Makassar, dua adik saya yang kebetulan ada di Makassar, dan juga si Rahmat, teman kerja di Pare yang ikut semangat mengantar hari ini, meski nyatanya ia datang untuk mengambil barang titipan yang tertinggal di Pare minggu lalu. Rahmat ini adalah mahasiswa penerima beasiswa LPDP, yang seminggu lagi akan berangkat ke Australia, yang akan menjadikan dirinya satu di antara sekian banyak mahasiswa international dari Indonesia di Melbourne University.

Di dalam pesawat mulai ramai dengan penumpang yang berjalan menuju kursinya, saya mendapat tempat duduk di dekat lorong, jadinya hanya bisa melihat dari jauh jendela pesawat yang masih cerah meski hujan cukup deras di luar sana. Ah, terbayang sudah perjalanan yang akan teringat selamanya ini, mendarat dan merasakan sensasi di luar negeri, walau sudah jelas bagaimana keadaan di daerah barat Australia yang tidak semewah di daerah selatan dan ibukotanya. Lebih mirip gurun katanya namun tetap saja bagian dari Australia, salah satu negara maju di dunia.

Jam tangan saya seakan berputar dengan lebih cepatnya saat menyadari pesawat berikutnya ternyata berangkat sejam lagi, dan pesawat ini belum pula mendarat entah karena cuaca ataukah antrian pesawat di landasan bandara. Pun saat mendarat, pintu pesawat tertahan begitu lama sebelum akhirnya terbuka, dan yang dibuka bukan pintu depan dahulu, yang jelas-jelas lebih cepat bagi saya keluar dari situ, tapi malah pintu belakang, dari jendela jelas penumpang lainnya mulai berjalan di luar pesawat, mau rasanya membuka pintu darurat yang hanya sepelemparan batu di depan kursi saya dan melompat saja keluar, atau malah terbang saja menembus dinding pesawat. Ada rasa kesal yang sering dirasakan saat detik-detik akhir dan anda tidak bisa melakukan apa-apa selain berharap hal buruk terjadi, ban pesawat yang tiba-tiba kempes, misalnya, ataukah sang pilot pesawat kena diare jadi batal berangkat dulu, dan saat ini saya dalam mode tersebut, maafkan saya yang egois wahai Pak Pilot.

Sayapun berlari dari pintu pesawat dan turun tangga, namun harus bersabar lagi dalam bus yang nyatanya tidak lebih cepat dari lari saya. Saat sisa 10 menit gate keberangkatan ditutup saya baru sadar, ada barang di bagasi yang mau tak mau harus segera saya ambil. Jantung ini entah kenapa memompa darahnya lebih cepat, mungkin ada pembagian sembako darah di bagian otak yang lagi stress memikirkan harga yang harus dibayar jika benar terlambat tiba di pintu keberangkatan.

Saya tak lagi melihat jam, entah pukul berapa, hanya berusaha tenang dengan doa-doa yang tidak lagi masuk akal, sambil menunggu bagasi yang tak juga muncul dijalurnya. Seketika muncul, ia, sang koper pinjaman akhirnya terlihat juga, seakan senyum-senyum jahat, mirip senyuman mereka yang sering datang terlambat dan tak pernah merasa bersalah, tak banyak gaya, ia saya tempatkan di atas trolley yang sudah siaga dilajur keberangkatan,haha. Saya pun meluncur, bak orang-orang yang senang berlarian dengan kereta dorong di depan yang penuh dengan koper dan tas saya. Eh, tiba-tiba sadar, saya belum tahu dimana sebenarnya tempat yang dituju, setelah bertanya akhirnya tujuan semakin terlihat jelas yaitu jelas jauhnya.

Andai ada si jin dari lampu ajaib, yang tiba-tiba berkata “Sebutkan 3 keinginanmu?” maka tak ada kata lain selain, berikan saya kekuatan super bisa langsung berada di ujung antrian. Namun lamunan berakhir saat lift terbuka, pintunya bergerak slowmotion, orang-orang berjalan perlahan dan melambat, ada informasi jelas di papan informasi digital, nomor penerbangan yang telah saya hafal mati setelah melihatnya bermenit-menit saat menunggu. Dan tak ada lagi yang bisa dilakukan, kata petugasnya pintu telah ditutup, laporan data penumpang telah ditandatangani sang pilot, kayaknya sih pilot gagal mendapat diare hari ini, dan “Semua siap berangkat, Pak” kata petugas dengan mantapnya.

Ah, sudahlah, katanya pesawat itu adalah pesawat terakhir, pesawat berikutnya ada di esok hari pukul setengah delapan tepatnya. Saya mengambil smartphone yang terlihat sedih pula, mengecek harga tiket untuk penerbangan berikut, dan, wowww-tiga w menandakan ekspresi sebenarnya, harganya 3 kali lipat dari tiket yang sudah saya beli, itupun beli dengan uang yang sulit didapatkan, akh, ingin rasanya berteriak, mau menyesal tapi tak ada gunanya, beberapa orang nyatanya akan menertawai, tapi untunglah ini pengalaman pertama, ada alasan klasik tuk tidak terlalu bersedih. Intinya, waktu adalah hal yang mahal, beberapa menit saja bisa sangat berarti, pun begitu dengan beberapa perbedaan detik, yang akan menentukan kemenangan Rossi atas Marques. Semua dari sang penentu, saatnya beribadah karena magrib telah tiba, mengaduh mudah-mudahan semua berjalan lebih lancar esok harinya. Selalu menenangkan jika anda berserah diri pada sang Ilahi, karena semua adalah takdirnya.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s