Tentang Keterlambatan

Posted: June 12, 2018 in Kata-Kata
DCIM102MEDIA

Kamar rasa kapal pecah kala itu

Saya hanya mau berbaring sejenak, merasakan kelelahan dari perjalanan dan drama keterlambatan sehari sebelumnya

Saya diantar ke kamar D7 di lantai dasar, gedung B yang berada di ujung lorong, setelah menjelaskan beberapa tempat penting di area asrama dan juga jadwal makan di kantin, petugas bergegas kembali ke meja kerjanya. Saya segera membuka koper yang sudah terabaikan sejak kemarin, walau sadar ia memang terasa basah sejak di Bali. Saya mengangin-anginkan pakaian yang terasa lembab dan basah hampir di semua sudut kamar. Tak lupa saya mengganti celana dengan sarung, merasakan kebebasan bergerak dalam tradisi yang sangat-sangat sederhana.

Sore hari saya beranjak dari kamar, kebiasaan menjelajah membuat saya penasaran menyusuri keadaan sekitar asrama St. Thomas Moore. Tepat di depan asrama, di seberang jalan, ada salah satu univeristas terbesar di sini, Western Australia University, meski tak sempat berjalan masuk sore ini, tapi esok hari saya memuaskan diri menjelajah keindahan kampus yang cukup tua tersebut. Saya berbelok ke kiri jalan, menuju hamparan air nan luas mirip sebuah danau. Setelah berada di sisi danau, yang sebenarnya adalah sebuah sungai, Swan River, saya menyaksikan keindahan kota Perth dari kejauhan. Di sisi jauh terlihat jelas gedung-gedung tinggi menjulang sementara sisi lain berbagai jenis perahu bersandar dalam barisan yang rapi di dermaga kayu modern yang terlihat sangat indah bak sebuah lukisan.

Saya menikmati sore di sini dengan keramahan alam yang sangat asri dan pun begitu dengan berbagai jenis unggas yang berjalan di sekitaran sungai ini. Angsa hitam yang terlihat memamerkan bentuk tubuhnya terlihat sangat menakjubkan di balik bayangan matahari yang mulai tenggelam. Kumpulan burung-burung jenis seagull yang terbang berkelompok sesekali terlihat mengganggu ataupun diganggu tepatnya oleh anak-anak kecil yang sibuk berceloteh dengan teman-temannya. Saking terbawa suasana, malam ini saya terpaksa melewatkan makan malam di kantin, untungnya petugas kantin berbaik hati memberikan makanan Ausi pertama saya, kentang goreng dan beberapa iris daging saus. Tak lupa saya mengambil beberapa buah untuk kemudian menikmatinya di kamar. Dan setelah makan, baru tersadar juga, tak ada air minum di kamar. Dan sini tak ada toko kelontong ataupun alfamart dan indomaret yang selalu buka dan berada dimana-mana, untungnya ada fountain air minum yang terdapat di sisi kanan kantin yang mengharuskan saya berjalan malam-malam hanya untuk menghilangkan dahaga, walau setelah sampai di kamar malah saya kembali merasa haus karena jarak yang cukup jauh.

Dan lagi-lagi keterlambatan menutup cerita malam ini, mungkin takkan pernah terlupakan akan bahaya terlambatan dan pentingnya memperhatikan ketepatan waktu, tapi satu hal yang pasti, waktu tidak akan pernah bertambah dan berkurang, akan tetap seperti itu, jadi jangan pernah membuang-buang waktu yang kita miliki. Nikmati saja semua, karena ada waktunya saat waktu-waktu kita menjadi kenangan dan mungkin kita takkan punya waktu yang sama untuk mengulang lagi apa yang terjadi di waktu itu. Selamat menikmati waktu, jangan lupa berbahagia selalu.

 

Bersambung…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s