Archive for June 14, 2018

Di saat merantau, belajarlah melepaskan kenyamanan dan berusaha ikhlas menerima perubahan, agar kita tahu arti rumah yang sesungguhnya.

DCIM102MEDIAPukul 09:00 pagi, Ibu Pam menjemput saya dari asrama, setelah menumpang tidur selama dua malam saja, saya diantar ke stasiun East Perth untuk kemudian bertolak ke lokasi penempatan saya selama program ini. Saya melihat dari jendela beberapa gedung tinggi menjulang di sisi jalan yang kami lalui, saking tingginya, beberapa bahkan tak dapat saya lihat puncaknya dari dalam mobil sedan hitam yang melaju lancar di pagi yang hangat ini.

img_20180217_083948_hhtPerjalanan saya menuju Geraldton, kota pelabuhan di pesisir Mid West, menggunakan bus besar yang di sini di sebut ‘coach’. Tiket sekali jalan AU$ 68 atau setara 680 ribu rupiah dan di tiketnya tertera durasi perjalanan yang akan memakan waktu enam jam. Meski sudah sering melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan bus, tapi kali ini pengalaman dan suasananya benar-benar berbeda. Bus dan semua kendaraan di sini menggunakan sabuk pengaman kepada semua penumpang. Jadi bisa dibayangkan, selama enam jam dengan ikatan sabuk pengaman di badan mungkin akan terasa kurang nyaman, tapi bagi saya justru lebih aman dan tidak terlalu terasa lelah. Di dalam bus terdapat fasilitas kamar kecil, colokan USB dua buah untuk mengisi baterai handphone atai gadget yang lowbet, juga disediakan hiburan video/film terbaru atau berbagai jenis musik yang dapat dinikmati dengan mencolokkan headseat yang dibagikan gratis.

Tak ada pemandangan sawah atau perkebunan yang begitu hijau sepanjang perjalanan, hanya semak dan perkebunan yang tak begitu sejuk di mata, membuat saya menghabiskan waktu beristirahat dan baru terbangun saat bus berhenti di sebuah pom bensin beristirahat dan membiarkan para penumpang menikmati makan siang yang dapat di beli di toko yang ada di area pom bensin. Saya sendiri menikmati roti gulung isi daging dan minum dingin yang tadi sudah dibelikan ibu Pam sebelum bus berangkat.

Saya tiba lebih awal dari waktu yang dijadwalkan, dan untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Ibu Katie dan Ibu Tiana yang selama persiapan keberangkatan kami hanya berinteraksi melalui aplikasi facebook. Ibu tiana memberikan saya nasi rendang lengkap dengan kerupuk udang, katanya biar saya tak usah repot menyiapkan makan malam tuk hari ini. Setelah bersalaman dan pamit, saya diantar oleh ibu Katie menuju tempat tinggal saya yang berada dekat dari salah satu sekolah tempat saya mengajar nantinya. Dalam perjalanan, kami singgah di supermarket untuk membeli kebutuhan harian yang saya perlukan, tak banyak yang dapat saya beli, hanya susu, telur, roti, mentega, keju dan buah apel. Hanya itu yang dapat terpikirkan kala itu, terlebih lagi saya harus meminjam uang ibu Katie untuk membayarnya karena kantong tempat saya biasa menyimpang uang berada entah di bagian mana dari tas atau koper yang sudah sulit dijangkau.

img_20180217_152107

Saya tiba di rumah Pak Mark yang telah menunggu kedatangan kami menjelang pukul empat sore. Hanya ada Pak Mark di rumah, sedang istrinya Ibu Toni berada di Perth. Setelah ibu Katie beranjak pergi, Pak Mark mengajak saya masuk ke kamar dan menjelaskan beberapa bagian rumah dan fasilitasnya. Saya membayar sewa $150 perminggu untuk sebuah kamar dengan kamar mandi dan toilet, akses internet dan kulkas tersendiri. Fasilitas yang sangat lengkap menurut saya, belum lagi akses terhadap mesin cuci, pengering, microwave dan peralatan dapur yang dapat saya gunakan untuk masak-memasak. Rumah yang nyaman dan termasuk baru dengan kolam renang di halaman belakang rumah, meski kecil tapi cukup untuk meredam teriknya matahari saat musim panas, katanya menjelaskan.

Ada beberapa hal yang menarik dari kota Geraldton ini, meski terlihat kecil dan sepi, tapi tak ada beda dengan keadaan masyarakat yang ada di kota besar. Meski tak ada gedung tinggi menjulang seperti di Perth, tapi fasilitas publik, semua tersedia. Hanya saja, pada akhirnya saya menemukan kekurangan dari sisi akses angkutan umum bus yang terbatas, karena memang penduduk yang tidak terlalu padat dan lebih banyak yang memiliki kendaraan pribadi dari pada pengguna angkutan umum di sini. Saking terasa kecilnya, penduduk kota Geraldton dapat saling mengenal dengan baik, sangat mudah bertemu dengan orang-orang yang anda kenal di pusat perbelanjaan. Tak heran, banyak orang yang menjadikan Geraldton sebagai rumah mereka, mudah-mudahan ia juga menawarkan keramahan yang sama terhadap saya. Selamat datang di Geraldton, Ismail, katanya berbisik dari balik jendela yang berhembus bersama hangat angin musim panas.

img_20180315_182829

Bersambung …