Pengalaman Berpuasa di Geraldton, Australia Barat

Posted: June 15, 2018 in Australia Daily, daily life
Tags: , ,

Pengalaman berharga untuk sebuah toleransi yang sangat tinggi dan rasa persaudaraan dari muslim yang menjadi minoritas di Negeri Kangguru ini. Selamat Hari Raya Idulfitri, semoga kita selalu dalam kesehatan dan keselamatan menjalankan hidup yang lebih bermanfaat.

IMG_0258Puasa pertama tahun ini dimulai hari kamis, 17 Mei 2018, bertepatan dengan segera dimulainya musim dingin di Australia. Meski tinggal di bagian barat Australia dan lumayan dekat dengan Indonesia, bahkan tak ada perbedaan waktu disini dan di tempat asal saya. Tapi, untuk masalah ibadah Ramadan yang berdasarkan kalender hijriah, durasi menjalankan puasa akan berbeda, waktu mulai berpuasa lebih lambat sedangkan waktu berbuka puasa lebih cepat, sekitar 30 menit.

Walau waktu berpuasa yang lebih singkat sedikit, tapi tantangan berpuasa di sini lebih banyak, karena ada banyak perbedaan dari bulan puasa yang selama ini saya rasakan di Indonesia.

Yang pertama adalah suhu udara yang lebih rendah, karena sudah menjelang dan masuk musim dingin saat menjalankan ibadah puasa. Yang paling susah adalah bangun tepat waktu untuk sahur, berhubung pemanas ruangan hanya di kamar, begitu menuju dapur ataupun ke kamar mandi untuk berwudhu, maka serangan udara dingin, lantai yang dingin, piring yang dingin apalagi air yang tentu bisa sedingin es. Dan terkadang yang paling menjengkelkan adalah makanan yang terlalu cepat dingin. Tentu tahulah bagaimana susahnya membangun selera makan saat sahur, apalagi jika makanannya terasa dingin semua, nafsu makan akan berkurang drastis. Namun ternyata suhu yang lebih dingin di sini, justru membuat rasa lapar tidak terlalu sering menghampiri pun begitu dengan rasa haus, Alhamdulillah.

Yang kedua adalah lingkungan tempat tinggal yang hampir semua tidak berpuasa. Tak ada perbedaan bulan biasa dan bulan puasa di sini. Di pusat perbelanjaan tak ada musik religi yang dimainkan, di sepanjang jalan tak ada spanduk ucapan selamat berpuasa juga dan di tempat kerja pun orang-orang tetap makan dan minum pada saat jam istirahat. Tapi untungnya, dengan jadwal yang cukup padat hingga pukul tiga sore, biasanya waktu berpuasa tak pernah terasa susah apalagi merasakan lapar dan dahaga yang berlebih. Terlebih lagi, orang-orang yang ada disini sangat menghormati kepercayaan yang dianut orang lain, apapun itu. Guru-guru yang bekerja dengan saya memberikan keistimewaan kepada saya, tugas yang dimudahkan, pekerjaan yang diringankan dan sering pula makanan yang mereka berikan khusus untuk saya. Teringat jelas pada sebuah acara makan besar di sekolah, yang tentu saja tak memungkinkan bagi saya untuk mengikutinya, saya diberikan bungkusan khusus berisi kue-kue lezat untuk berbuka puasa, tak jarang juga saya diberikan makanan tuk berbuka puasa, pernah sekali diberi masakan lobster atau udang besar dengan saus keju untuk menu berbuka. Ah, mereka adalah orang baik yang diutus untuk membuat cerita ini lebih berwarna.

Belum lagi keluarga orang Indonesia di sini, yang memberikan banyak makanan selama bulan puasa ini, mulai dari kurma, kari ayam, rendang, ayam bakar, kue-kue hingga serundeng atau bajabu’, yang tentu saja bisa mengurangi kerinduan akan kampung halaman. Tak terlupakan undangan makan bersama saat berbuka atau traktiran buka puasa di resto yang tentunya membuat puasa di negeri orang itu terasa lebih indah dari yang dibayangkan. Selalu bersyukur untuk semua ini tentunya.

 

Perbedaan lainnya adalah ibadah yang tak semeriah di Indonesia. Suasana masjid di sini  bisa dikatakan sangat sepi untuk kuantitas jamaahnya, tapi kualitas ibadah mereka menurut saya tetap sama. Tarawih dimulai langsung setelah shalat isya selesai, dengan imam yang didatangkan langsung dari Malaysia, tarawih selalu berlangsung khusyuk. Jumlah rakaat tarwihnya lebih banyak dari yang biasa saya lakukan di Indonesia, dengan witir yang tetap tiga rakaat hanya saja diantarai salam setelah dua rakaat. Setelah tarwih, beberapa jamaah yang tidak terburu-buru dengan urusan penting akan tinggal melakukan zikir bersama, mirip zikir rate’ di desa kelahiran bapak saya, hanya saja mereka yang kebanyakan berasal dari muslim pulau Cocos ini melantunkan puji-pujian yang lebih bervariasi. Malam pun diakhiri dengan membaca Quran satu juz setiap malam secara bersama-sama dalam kelompok, biasanya saya mendapat satu sampai dua lembar untuk diselesaikan.

Orang-orang muslim di sini selalu senang untuk membantu, saya ingat sekali betapa mudahnya mereka memberikan tumpangan untuk saya ke masjid atau sekedar mengantar saya ke halte bus saat saya lelah berjalan kaki dari masjid. Dan selama Ramadan, walau tak selalu, saya tetap bisa beribadah tarwih di masjid meski jarak yang cukup jauh dengan bantuan mereka yang selalu berbaik hati tanpa pamrih.

Meski tak ada takbir keliling, tapi semarak syukur dan takbir tetap meriah di masjid saat magrib hingga masuk waktu isya di hari terakhir puasa. Pun begitu dengan persiapan lebaran yang jatuh pada hari Jumat ini, meski tak semeriah persiapan di Indonesia, tapi kebersamaan mungkin akan terasa juga di sini, acara makan bersama pun direncanakan digelar setelah shalat Ied di masjid. Meski tak bersama keluarga di kampung halaman, tapi doa dan harap tetap sama, semoga kita semua saling memaafkan. Mari menyambut dengan penuh kebahagiaan. Sekali lagi, selamat merayakan hari lebaran tahun ini. Salam hangat dari Australia Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s