Ketika Anak SD Australia Mencoba Nasi Kuning

Posted: June 22, 2018 in Kata-Kata

“It smells good Pak Ismail”, “It is better than my mom’s cook” “It’s like we are in Indonesia” juga “Can I have more kuning rice Pak Ismail?” adalah respon dari anak-anak setingkat SD kelas 3 yang hari ini mencoba nasi kuning di kelas bahasa Indonesia.

Entah mengapa tiba-tiba saja sang guru mentor saya memberijan instruksi untuk memasak nasi putih dan nasi kuning di kelas Bahasa Indonesia berikutnya. Dengan bahan sisa dari memasak nasi tahun sebelumnya, saya mengiyakan saja rencana tersebut. Esok harinya, saya memasak dua rice cooker kecil nasi untuk tiga kelas berbeda, dan masing-masing kelas mendapatkan nasi yang baru dimasak, bukan nasi dari kelas sebelumnya. Karena sudah berpengalaman menjadi anak kost yang harus memasak sendiri saat kuliah dulu, masak nasi pun hal yang mudah tuk saya lakukan. Sebenarnya kami menyediakan dua jenis nasi, nasi putih dan nasi kuning. Dan kedua jenis nasi tersebut dimakan tanpa ada tambahan apapun, hanya nasi saja.

Saat kelas dimulai, setiap anak diarahkan duduk di bangkunya masing-masing dan mendapatkan piring plastik yang dibagikan satu persatu. Saat mendapatkan satu sendok nasi putih, beberapa diantara mereka mencoba menciumnya, merasakan aroma nasi segar yang masih mengepulkan asap karena panasnya.

Selain akan merasakan bagaimana gurihnya nasi kuning, mereka juga belajar cara makan nasi menggunakan tangan bukan sendok atau garpu yang biasa mereka lakukan saat menyantap makanan. Saya pun diberikan kesempatan untuk mencontohkan cara makan orang Indonesia dan tata krama yang digunakan saat makan. Susahnya makan dengan tangan bukan pada cara makannya, tapi cari menikmati nasinya. Saking keenakan menikmati, cara makan yang diajarkan tak semua diterapkan. Beberapa anakpun terlihat kesulitan di awal tapi hampir semua menikmati dan merasa nasi yang mereka makan terasa sangat enak.

Tidak semua anak menikmati menyantap nasi kuning, selain ada beberapa dari mereka yang punya alergi terhadap bahan makanan tertentu, juga ada 2-3 orang merasa kurang suka dengan rasanya sehingga mereka tidak menghabis nasi yang ada di piringnya.

Yang menarik dari kegiatan hari ini adalah respon anak-anak yang menyukai nasi kuning meski menyantapnya tanpa lauk atau kerupuk dan sebagainya. Makannya lahap dan bahkan menambah porsi bahkan sampai tiga kali, ada malah yang harus diingatkan sang guru karena terlalu lama menikmati nasinya. Hehehe. Beberapa anak yang duduk di dekat sayapun tak berhenti memuji masakan saya, tahukan bagaimana jujurnya anak-anak dengan apa yang dia rasakan. Dan yang mengharukan, seorang anak laki-laki yang awalnya mengatakan masakan ibunya lebih enak, tiba-tiba mengeluarkan kartu WaggyWonder, sejenis kartu tanda penghargaan yang diberikan ke siswa saat mereka melakukan sesuatu yang dianggap baik, dan memberikan kartu tersebut ke saya, katanya saya berhak mendapatknya karena telah memasak nasi yang enak untuk mereka. Terima kasih kelas, kalian luar biasa dalam mengajarkan apresiasi dan penghargaan terhadap hal-hal sederhana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s