Archive for July, 2018

“Iye bapak, tunggu dulu di kelas ka ini sekarang, diusirka nanti kalau jawab telpon!” Jawab si Mamat dengan nada pelan sambil berbisik. Wajah bapaknya dengan kumis tebal terpampang jelas di layar hapenya. “Ini tantemu mau bicara nak” jawabnya singkat diikuti pergantian wajah yang tampil di layar “Ididih, putihmu nak sekarang!” sang tante langsung memuji wajah Mamat yang sudah terlihat agak putih. Tak mau mengecewakan keluarga yang jauh di Pulau Sulawesi sana, Mamat akhirnya tetap menjawab telepon hingga selesai dengan mendekatkan hape ke arah wajahnya, mungkin hanya hidung si Mamat yang terlihat jelas di layar hape sang bapak.

Mamat kini melanjutkan kuliah di salah satu Universitas terbaik di Australia, ia mendapatkan beasiswa dari pemerintah dan sudah memulai kuliahnya sejak bulan Februari kemarin. Hidup sebagai anak rantau yang kini berada di negara lain, membuat Mamat semakin sering dihubungi oleh sang Ayah, bahkan hampir-hampir intensitas telepon si bapak tersayang mengalahkan seringnya waktu nelpon sang pacar yang ada di Aceh sana. Memang bukan lagi kebiasaan baru sang bapak untuk rajin menanyakan keadaan Mamat, dulu sejak kuliah S1 di salah satu kampus negeri di Makassar, ia telah intens dihubungi untuk memastikan keadaan Mamat baik-baik saja. (more…)

Cerita Sumur Tua Buccello

Posted: July 30, 2018 in Cerpen, KKN

“Di sini nak, banyak orang pake ini tempat sebagai tempat mandi dan ambil air saat musim kemarau. Tidak pernah kering airnya” begitu kata ibu posko kami saat kami baru tiba di sumur berbentuk persegi dengan air yang terus mengalir keluar dari dasar sumur yang lebih mirip kolam kecil.

(more…)

Ini adalah salah satu pertanyaan yang muncul dari kebanyakan teman-teman di Indonesia, dan memang masalah biaya ataupun jumlah uang yang dihabiskan untuk hidup di negara besar seperti Australia selalu jadi hal yang menarik untuk dipertanyakan. Namun sayangnya, tak ada jawaban pasti berapa total biaya yang dikeluarkan, hanya bisa memberikan gambaran kasar saja, kisaran total biaya yang dihabiskan dalam seminggu atau sebulan. Itupun akan bervariasi tergantung tempat tinggal dan kebutuhan pribadi.

Saya sendiri tinggal di Kota Geraldton, sebuah kota yang tidak terlalu besar namun memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Untuk kebutuhan sehari-hari, seperti bahan makanan, alat-alat kebersihan dan pakaian dapat diperoleh dengan mudah di kota ini. Untuk pilihan tempat belanja kebutuhan pokok pun ada beberapa yang bisa jadi pilihan, seperti supermarket Woolsworth, IGA, ataupun Coles, sedang untuk kebutuhan pakaian dan sebagainya ada yang namanya Target, pun juga dengan alat-alat perkakas atau perlengkapan rumah akan mudah didapatkan di Toko Bunnings. Semua yang tadi saya tuliskan adalah toko-toko besar yang hampir semua ada di daerah Australia yang lain. Selain itu tentunya ada juga toko-toko kecil yang menyediakan pilihan yang lebih beragam tuk jenis barang tertentu di masing-masing kota. (more…)

Tiba-tiba saja suasana jadi mencekam, suara anjing yang menyalak dari kejauhan menambah rasa was-was. Suara gemuruh di langit pun sudah hampir sejam terdengar, bukan angin atau hujan seperti beberapa malam lalu, tapi helikopter yang sedari tadi mengudara di area tempat tinggal saya. Nampaknya mereka masih mencoba menyusuri dan mengintai tempat-tempat strategis untuk memastikan keadaan aman terkendali.

Pesan singkat dari nomor pemerintah kota baru saja masuk, saat melirik jam weker di dekat TV, terlihat kedua jarumnya hampir menunjukkan pukul 11 malam. Pesan ini nampaknya dikirim dari pemerintah kota Geraldton, isinya berupa info singkat adanya tahanan yang kabur dari penjara siang tadi, peringatan untuk berhati-hati dan memastikan semua pintu dan jendela tertutup rapat pun menjadi kalimat penutup dari sms tersebut. (more…)

Tulisan Tak Berjudul

Posted: July 23, 2018 in Curcol, Rasa

Tulisan ini tak berjudul, karena hanya sebuah bentuk keresahan saat berpikir tentang bagaimana masa depan akan hadir nantinya. Meski semua akan selalu jadi misteri, dan tak ada yang pernah bisa menebak seperti apa esok, apakah kita akan siap dengan segala konsekuensinya? Atau hanya berharap waktu yang akan membawa keajaiban dan tiba-tiba semua berjalan sebagaimana yang diharapkan semua orang.

Ketika saya melihat orang lain mendapatkan rezeki yang nampaknya lebih baik dari saya, entah itu masalah keluarga, pekerjaan atau pun pendidikan, lantas muncul keinginan untuk merasakan juga hal tersebut, muncul di benak ini semacam rasa tidak enak hati karena tidak bisa juga seperti itu. Kenapa orang bisa dengan mudahnya, yah bagi saya terlihat mudah, mendapatkan hal yang saya dambakan, sedang saya tidak bisa?

Parahnya, saya terkadang mulai menyalahkan masa lalu, mulai menyesali apa yang telah lalu, mirip anak kecil yang menangis karena es krimnya terjatuh, padahal si bocah itu sendiri yang berlarian di lantai yang licin lantas akhirnya tergelincir, jatuh lagi dengan pantat yang terbentur keras, tepat di tulang duduk, yang sakitnya bisa bikin mata kehilangan warna hitamnya. Dulu sering sekali terpikir pula, kenapa bukan kuliah di jurusan lain saja, kenapa tidak kuliah langsung di luar Sulawesi saja, tentu jaringan akan lebih baik, tentu prospek kerja akan lebih bagus. Dan penyesalan ini, kadang datang menghampiri berkali-kali, menitipkan beban rasa bersalah yang semakin hari semakin membuat hidup berat tak bergairah dan menjalani sisanya tanpa penuh makna. Maunya tidur saja, kerja pun tak ada yang dinikmati, hanya menghitung waktu hingga gajian tiba, dan begitu seterusnya, lagi dan lagi.

(more…)

Sebuah tulisan sebagai pengingat diri akan beratnya berusaha untuk tetap konsisten dalam melakukan sesuatu.

Bahkan tulisan inipun tertatih-tatih dalam setiap kata yang akan tertulis. Butuh waktu lama tuk bisa berlanjut ke tahap ini. Saat mulai menulispun sudah memikirkan seberapa panjang tulisan ini, apakah hanya berakhir satu kalimat di atas tadi, atau hanya paragraf ini saja sebagai lanjutannya dan kemudian berakhir lagi di daftar draft tulisan yang ujung-ujungnya tak pernah lagi tersentuh.

Tapi saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkannya, teringat dengan tips ampuh dari salah satu kelas menulis dulu, untuk mendapatkan ide dalam menuliskan sesuatu selalu gunakan metode bertanya, 5W1H, bertanyalah terus dan jawab dalam tulisan. Jadi dalam tulisan ini saya akan langsung menjawab saja pertanyaan yang terlintas dan melihat seberapa jauh saya bisa berjalan dengan pertanyaan itu dalam bentuk rangkaian kata-kata.

Saat ini waktu menunjukkan pukul 10.37, malam ini udara kembali terasa sangat dingin bagi saya yang terbiasa tinggal di daerah tropis berdekatan dengan garis khatulistiwa. Suhu masih wajar menurut orang-orang sini, 17 derajat saja, tapi dinginnya sudah menembus tulang-tulang saya, hingga kadang ke toilet terpaksa ditahan-tahan, demi menghindari dinginnya air. Ditambah lagi diluar sedang hujan disertai angin yang lumayan kencang berhembus, suasananya jadi agak melow. Gara-gara hujan ini pula hari ini rencana ke perpustakaan tadi sore pun terpaksa ditunda, padahal waktu akhir pekan seperti ini adalah waktu terbaik tuk bisa bersantai di perpustakaan yang hanya bisa buka hingga pukul 5.30 sore saat hari kerja.

Saat ini saya menulis menggunakan sebuah laptop yang baru, meski merupakan barang bekas, tampilannya tak kalah dengan barang baru. Mungkin memang rejeki saya dapat barang bagus ini dengan harga yang lumayan murah, meski yah untuk biaya penggunaan seperti pembelian aplikasi lumayan mahal, tidak seperti Windows laptop yang bisa menggunakan program gratis hasil download-an di beberapa situs gratisan. Meski begitu, untuk kenyamanan dalam menulis dan tingkat responsif saat digunakan,  kemampuan laptop ini sangat jauh di atas laptop-laptop yang pernah saya coba. Mulai dari proses booting saat dinyalakan hingga buka tutup aplikasi, semuanya terasa sangat lancar dan tentunya tampilan di laptop ini lebih segar dan ciamik. Terlebih lagi didukung dengan daya tahan baterai yang menurut saya luar biasa meski ukuran laptop yang justru sangat tipis. Jadilah menulis apapun terasa lebih cepat dan nikmat, eh.

Memang akhir-akhir ini saya sering menulis apa saja, terutama pengalaman selama berada di Australia beberapa bulan ini, banyak yang masih ingin saya tuliskan tapi terkadang saya melihat tak ada respon atau bahkan tak ada pembacanya sama sekali. Padahal dalam dunia kepenulisan terkadang feedback dari pembaca adalah energi yang bisa tiba-tiba menyulut semangat tuk menulis dan menulis. Tapi pada akhirnya saya sadar, jika hanya menulis untuk dapat pujian ataupun mendapat banyak viewers, maka saya telah mengkhianati diri saya sendiri. Pasalnya memang dari awal saya ingin menulis untuk menaklukkan ego saya, menaklukkan rasa tidak konsisten dan pastinya untuk mengembangkan kemampuan menulis saya yang masih sangat jauh dari kata baik.

Saya merasa betul tulisan saya masih sangat kurang dalam berbagai hal, makanya selalu tidak percaya diri untuk mengirimkan tulisan saya ke media, belum lagi dengan berbagai keterbatasan waktu untuk membuat tulisan yang berbobot. Meski beberapa minggu lalu sempat dikenalkan dengan alur mengirim essay ke mojok.co oleh teman facebook yang tulisannya telah berhasil diterima disana meski awalnya harus mencoba berkali-kali, tapi setelah melihat tulisan orang-orang di sana, saya malah langsung merasa ciut, mengecil dan tak bernafsu lagi, biarlah kata-kata ini vulgar sedikit. Tapi mudah-mudahan bulan depan sudah mempunyai cukup keberanian untuk itu. Apalagi jika semesta mulai mendukung.

Iya, nampaknya semesta berkonspirasi. Tadi siang, sempat berkomunikasi dengan salah seorang mahasiswa yang kebetulan ingin mendaftar di program yang sama dengan saya, dari penjelasannya, dia kerjanya sebagai freelance di sebuah situs lumayan besar dan bekerja sebagai content-writer. Dari tulisannya yang sempat saya baca, wah ternyata dia adalah salah satu orang yang tulisan-tulisannya sering ke shared di linimasa sosial media saya. Mudah-mudahan hal tersebut adalah tanda sebagai jalan untuk terjun juga nantinya ke dunia freelance content-writer, namanya rejeki tidak bisa ditebak kan.

Memang sudah ada jalan untuk terjun ke dunia tulis menulis konten yang tentunya sedikit banyak bisa mengembangkan bakat plus menerima upah, tapi mungkin butuh waktu lagi, kira-kira kapan yah? Yakin aja segera. Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat memotivasi tuk lebih giat dan sering menulis.

Saya berhasil menulis sejauh ini, dengan menjawab tiga pertanyaan saja, kapan, pakai apa, dan kenapa? Ternyata lumayan efektif, dan sekarang waktu menunjukkan pukul 10.59, saatnya beristirahat karena besok pagi adalah hari Senin yang tentunya akan sibuk-sibuk lagi.

Geraldton, 22 Juli 2018.

PS: Tulisan ini selesai dicek dan diedit sedikit agar lebih profesional lagi pada pukul 11.10. Lumayan.

Patung Kangguru di salah satu taman di pusat kota Perth.

“Iya, memang Kangguru itu hewan nasional di Australia, tapi kami juga makan kangguru, dan saya waktu kecil pernah punya kangguru sebagai hewan peliharaan di rumah” cerita seorang guru yang pernah mengantar saya ke sekolah. Mungkin kita yang ada di Indonesia tahunya kangguru itu hewan asli Australia yang tentunya mendapat perlakuan spesial, tapi ternyata kangguru itu sama sekali tidak spesial di sini.

Sebelum saya lanjut cerita, saya mau berbagi pengetahuan dulu bagi mereka yang belum tahu, nama Kangguru jika dilihat dalam kamus Bahasa Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ternyata ia bukan penulisan yang benar, menurt KBBI yang benar itu Kanguru, berikut kutipan yang saya peroleh dari KBBI versi online: (more…)

Selama berada di Geraldton, saya banyak melihat perbedaan antara sikap dan perilaku seorang anak dan perlakuan yang didapatkan oleh anak kecil di sini jika dibandingkan di kampung halaman saya.

Anak-anak merupakan makhluk lucu-lucu nan menggemaskan yang selalu membuat situasi jadi tak menentu. Terkadang kehadirannya begitu diharapkan, tapi tak jarang keberadaanya menjadi masalah yang tak dirindukan. Yang pasti dimanapun berada, anak kecil selalu mendapat perlakuan istimewa, tak terkecuali di negara-negara maju. Tulisan ini akan melihat seperti apa perlakuan yang diberikan terhadap anak-anak dan bagaimana sifat dan kelakuan anak-anak yang sering saya temui. (more…)

Disclaimer: Sebenanya tulisan ini ditujukan untuk Language Assistant berikutnya,tapi belum tepat waktunya dipublish di blog LAP jadinya nebeng disini dulu.

Pada liburan musim dingin, tepatnya bulan Juli, pengumuman tentang pengurusan Tax-Return akan mulai masuk di email. Tax-Return adalah pembayaran uang pajak dari penghasilan yang diperoleh. Jadi saat gaji kita dibayarkan, ada pajak yang dikenakan, sekitar $200-an jumlahnya setiap kali terima gaji. Dari pajak itu akan dikumpulkan dan akan dibayarkan/diberikan kembali melalui proses Tax-Return ini pada bulan Juli untuk periode Juli tahun lalu sampai Juni tahun ini. Jadi uang pajak yang kita akan klaim adalah uang dari pembayaran gaji kita dari bulan Januari sampai Juni saja, sedangkan untuk gaji dari bulan Juli sampai Desember, nanti baru bisa diklaim tahun depan pada bulan Juli juga. Pengumuman ini dapat dicek juga di akun HRMIS masing-masing.

Untuk melakukan klaim atau lodge tax-return tersebut, bisa dilakukan secara online atau menggunakan agen. Dengar-dengar beberapa LA tahun sebelumnya menggunakan agen, tapi saya dan beberapa teman melakukan sendiri secara online dan prosesnya tidak terlalu sulit. Setelah membuat akun di MyGov (jika belum silahkan buat dulu, caranya sangat mudah, sama dengan pendaftaran media sosial saja, siapkan saja alamat surel/email, nomor telepon aktif, dan beberapa secret question/pertanyaan untuk verifikasi yang harus diberikan jawabannya saat login pertama kali). Setelah memiliki akun MyGov, silahkan login dan masuk ke Tab Services, seperti tampilan di bawah ini:

(more…)

Berusahalah, Selalu!

Posted: July 20, 2018 in Kata-Kata

“Hidup tiada mungkin, tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan, mulia adanya”

Kalimat tersebut adalah lirik lagu yang dulu selalu terngiang saat pentas seni kegiatan perkemahan diadakan. Hampir-hampir semua kegiatan yang berupa paduan suara akan menempatkan lagu ini sebagai lagu wajib, yang mau tak mau mengharuskan peserta menguasai dengan baik setiap nada-nada dan iramanya, bahkan beberapa menambahkan variasi nada khusus yang menjadikannya terdengar lebih indah lagi. Saya bukan salah satu dari kelompok paduan suara yang siap selalu bernyanyi, tapi keterlibatan saya sebagai anggota regu Organisasi Kepramukaan di sekolah tentu membuat saya hafal dengan baik lagu tersebut.

Saya sangat antusias dengan kegiatan Pramuka bahkan sejak saya SD. Menjadi kegiatan yang sarat kegiatan fisik dan menguji daya tahan tubuh menjadikan Pramuka sebuah pilihan terbaik bagi mereka yang ingin aktif dalam hal positif. Bukan hanya baris berbaris, menyusur sungai dan mendaki gunung hampir kami lakukan setiap bulan, belum lagi kegiatan perkemahan sabtu-minggu dan perkemahan akbar yang digelar sekali setahun, semua kalau memungkinkan pasti akan diikuti. Saat itu satu-satunya kendala yang selalu menghambat adalah permohonan izin dari pihak sekolah. Yah, terkadang jadwal kegiatan yang bertepatan dengan hari sekolah mengharuskan kami berusaha mati-matian meyakinkan pihak sekolah agar tetap memberikan izin mengikuti kegiatan. Jika tak kunjung mendapatkan persetujuan, tak jarang teman-teman sepakat ‘bolos’ bersama hanya untuk bisa ikut dalam sebuah kegiatan.

Terlihat sedikit nakal juga waktu itu, namun jika melihat kembali apa yang kini bisa dikenang dari kegiatan pramuka, tak ada sedikitpun sesal yang muncul. Bagaimana tidak, dengan tempaan rasa disiplin, kemandirian, kesetiakawanan, kecintaan terhadap alam dan lingkungan menjadikan mereka yang pernah menjadi anak pramuka merasa manfaat yang berarti dalam hidup mereka. Saya tak berbicara dengan asumsi semata, tapi begitulah adanya, setidaknya jika orang-orang yang pernah mengenyam asam garam berkegiatan di alam bebas dan berorganisasi di kepramukaan, tak akan mudah bagi mereka menyerah dengan keadaan.

Saya sendiri merasakan hal tersebut, menjadi terbiasa dengan hidup mandiri karena sering ikut perkemahan, terbiasa hidup sederhana karena sering tidur beralaskan tikar di tenda, bahkan terbiasa makan seadanya karena sering makan telur dan indomie rasa ‘hambar‘ di setiap perkemahan. Sungguh setelah kesusahan akan ada kemudahan. Selain terbiasa dengan itu, saya juga jadi sering bereksperimen dengan berbagai hal, mencoba mengeksplorasi tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi, atau berani melakukan apa yang belum pernah atau belum sempat saya lakukan.

Selama berada di Ausi pun saya sangat sering mencoba-coba sesuatu. Terkadang membeli makanan atau produk baru yang ujung-ujungnya berakhir di tempat sampah, tidak habis dikonsumsi karena rasanya yang aneh atau tidak cocok dengan selera saya yang suka rasa asin dan pedas. Belum lagi dengan aneka masakan hasil kreasi saya dari melihat resep-resep yang berseliweran di sosial media, atau resep dari orang tua di kampung, yang berakhir dengan bentuk menyeramkan atau rasa yang diluar perkiraan. Semua itu seakan menjadi pengalaman yang tentunya takkan bisa saya dapatkan jika tidak berani untuk mengambil risiko, tak berani untuk mencoba. Setidaknya dengan begitu rasa penasaran saya dapat terjawab dan saya tak harus ragu lagi mengakui bahwa saya bisa atau tidak bisa memasak makanan tersebut.

Jika saya hitung-hitung lumayan banyak resep masakan yang telah berhasil saya coba di negeri Kangguru ini. Bakwan adalah produk pertama saya. Setelah berhasil menemukan adanya sayur kol, sayapun membuatnya dengan campuran terigu tanpa ada takaran, hasilnya pun tak mengecewakan. Juga saya berhasil membuat perkedel jagung beberapa bulan lalu, meski rasanya belum terlalu pas, namun kata guru yang mencoba, perkedel tersebut rasanya sangat enak. Pun begitu dengan sambal tomat tumis yang menjadi pilihan percobaan saya setelah mendapati banyak tomat dan lombok yang diberikan seorang teman guru di sekolah, rasanya tak kalah enak buatan mereka yang di kampung nan jauh sana. Saya bahkan sempat berhasil membuat bakso dari campuran daging giling dan tepung tapioka, meski bentuk dan rasanya lebih mirip siomay, namun setidaknya bisa mengobati rasa rindu akan makanan berkuah tersebut.

Terkadang pula hasil dari masak-memasak saya tidak sesuai hasil jika bahan-bahan yang dibutuhkan tak begitu lengkap saya dapatkan. Sebutlah proses membuat pisang goreng Peppe‘ yang merupakan penganan atau olahan pisang muda goreng yang gurih dan renyah karena digeprek dan digoreng lagi. Meski telah berhasil mendapatkan pisang berwarna hijau yang menandakan pisang yang masih muda, namun ternyata jenis pisang yang berbeda dan kesegaran pisang yang mengecewakan karena ternyata sudah lama dipetik, membuat rasa dan tekstur gorengan tersebut tak begitu memuaskan, alih-alih mendapatkan rasa gurih dan renyah, malah manis dan empuk yang didapatkan. Tak berbeda jauh dari percobaan saya membuat Sarabba, minuman jahe tradisional, yang rasanya justru terasa aneh dengan pedas yang sepat dan pahit. Saya tak tahu pasti apakah gula merah yang bentuknya memang aneh, ataukah takaran kurang tepat dari jahe super mahal (jahe benar-benar mahal disini, bisa mencapai 400 ribu rupiah satu kilo) yang saya gunakan.

Juga begitu saat saya mencoba membuat kue donut dengan resep dari hasil berguru pada ibu tersayang. Dengan merasa bahwa bahan berupa terigu yang telah tercampur pengembang akan menghasilkan adonan yang sama dengan terigu yang diberi ragi pengembang, saya membuat donat dalam jumlah yang tak sedikit. Bukan sengaja membuat dalam porsi besar, namun karena campuran adonan yang begitu lembek, mengharuskan saya menambah tepung lagi dan lagi hingga akhirnya hampir satu bungkus terigu berat satu kilogram habis tercampur. Tak tanggung-tanggung ada 20 lebih biji donat yang saya hasilkan. Setelah matang dan diberi pelengkap meses coklat memang kue donat saya masih lumayan enak tuk dinikmati, tapi jika dibandingkan dengan donat yang sering dibuat ibu di kantin, maka akan sangat-sangat jauh berbeda kelembutan dan tekstur rotinya.

Tapi dari pengalaman itu semua, saya bisa belajar banyak hal, salah satunya dengan tidak asal-asalan dalam takaran bahan yang digunakan dan selalu menggunakan bahan dan petunjuk yang disebutkan di resep yang ikuti, jika tidak maka jangan harap hasilnya pun akan sama. Mungkin sama halnya dengan hidup ini, terkadang kita mengeluh dengan hidup yang kita jalani, bahkan terkadang berharap bisa sukses seperti orang-orang yang sedang berlimpah rejeki, padahal memiliki daya juang seperti orang sukses atau mengerjakan apa yang orang-orang tersebut kerjakan kita masuk tidak mau. Jika berharap tumbuh padi, maka tanamlah padi. Semoga bermanfaat.