Berkunjung ke Museum di Geraldton

Posted: July 4, 2018 in Australia Daily, daily life, jelajah
Tags: ,

IMG_0052

Hari ketiga libur musim dingin membawa saya ke kunjungan setengah hari di Museum yang terdapat di bibir pantai Geraldton, di kawasan Marina tempat bersandarnya kapal-kapal pesiar milik orang-orang kaya di sini. Kegiatan operasional museum dimulai pada pukul 9:00 pagi hingga tepat pukul 3 sore. Saya memilih datang setelah mengisi perut siang ini, biar lebih semangat mengeksplore lebih lama seluruh sisi museum. Teringat dulu sempat mampir melihat-lihat sekilas, namun sayang, saat itu keadaan sangat ramai, jadi lebih memilih untuk datang lagi di lain waktu.

Museum merupakan tempat murah untuk menghabiskan waktu luang, apalagi saat liburan seperti sekarang. Biasanya akan ada kegiatan khusus selama musim liburan yang disediakan oleh pihak museum. Pada liburan kali ini, museum Western Australia di Geraldton ini mengangkat tema “Thuri Munga” yang artinya siang dan malam. Tema tersebut menjadi rujukan bentuk kegiatan yang disediakan untuk diikuti oleh anak-anak atau juga pengunjung lainnya. Saya yang sedang ingin menjelajah seisi museum mencoba salah satu kegiatan tuk anak-anak SD di sini, berburu benda-benda yang ada dalam kertas panduan. Setelah membayar biaya 3 dollar, petugas jaga memberikan selembar kertas menampilkan hewan-hewan dan benda yang harus di temukan dalam museum. Sederhana namun sangat menarik, karena untuk menemukan semua benda itu, mau tidak mau kita harus mengelilingi museum dan memperhatikan semua sudut yang telah diberi tanda matahari (siang) dan bulan (malam). 

Di sudut lain terdapat kegiatan gratis untuk anak-anak mempelajari tentang hewan-hewan yang aktif saat malam dan siang hari. Sedangkan untuk kerajinan tangan, workshop kecil di depan meja resepsionis menawarkan kegiatan yang tak kalah serunya yaitu membuat topeng dari karakter hewan Thuri Munga.

Saya merasa takjub dengan koleksi yang ada di sini, belum lagi dengan pembaruan koleksi yang ditampilkan di bagian tengah museum yang disesuaikan dengan tema kegiatan. Saya ingat betul pertama kali ke sini koleksi yang dipamerkan tidak seperti yang sekarang. Mungkin hal ini sudah umum terjadi di dunia permuseuman, tapi bagi saya mungkin ini hal menarik untuk diterapkan di tempat asal saya, kalau misalnya belum diterapkan seperti ini. Museum bisa jadi lebih menarik untuk dikunjungi berkali-kali, lagi dan lagi.

Koleksi yang ada sangat bervariasi, dari hewan dan tumbuhan, alat pertanian dan perkakasnya, dan terlebih benda purbakala yang terkait laut dan tambang, seperti perahu dan alat tambang sederhana. Dari dulu Geraldton ini dikenal sebagai kota maritim dan perintis daerah tambang di Australia Barat. Terlebih lagi wilayah perairan lautnya sangat dekat dengan rute pelayaran masa lalu dari Eropa dan Asia. Bagian paling ujung dari museum menampilkan galeri tentang kapal Batavia dan beberapa kapal karam lainnya yang tenggelam di kawasan Australia Barat. Mengikuti informasi yang diberikan pada tiap puing-puing dan benda-benda dari kapal tersebut seakan membawa ke kisah masa lalu, bagaimana ganasnya lautan menenggelamkan kapal-kapal penting pengangkut emas dan barang berharga kala itu. Yang lebih menarik lagi, Kapal Batavia tersebut ada hubungan erat dengan Indonesia, Batavia adalah nama lain Jakarta tempo dulu dan merupakan bentuk catatan sejarah dari VOC, badan dagang Hindia Belanda di masa itu.

Selain itu, sejarah tentang pertempuran di lautan antara Australia dan Jerman pun di pamerkan dengan sangat epik di salah satu ruangan museum. Perjalanan kedua kapal yang terlibat dalam pertempuran, hingga pertemuan keduanya di gambarkan secara kronologis dengan timeline berupa benang merah dan putih. Ibarat sepasang kekasih, kedua kapal ditakdirkan bertemu secara tak sengaja, tapi dengan pertempuran singkat selama satu jam saja, kedua kapal harus karam. Sayangnya, tak ada satupun awak kapal dari HMAS Sydney yang berhasil selamat, semua dinyatakan hilang, sedangkan ratusan awak Germany masih sempat menyelamatkan diri dan menjadi informan penting dalam beberapa kepingan kisah bersejarah tersebut. Kisah mereka sangat menarik dan diabadikan di museum ini, bahkan sebuah film pendek dengan gambar sangat realistis dapat dinikmati dengan menggunakan kacamata 3D di mini teaternya. Mungkin bagi orang-orang yang senang dengan memori masa lalu yang bernilai sejarah, maka tempat ini wajib dikunjungi.

IMG_6715

Tak terasa waktu tutup museum telah diumumkan lewat pengeras suara, dari jendela kaca terlihat jelas ombak di luar pun mulai terlihat tenang, sebelumnya gelombang air laut nampak agak menggila dengan hujan yang cukup deras mengguyur. Saya bergegas menuju tempat keluar sambil menyempatkan diri membaca daftar kegiatan di papan pengumumannya. Siapa tahu ada kegiatan lain yang tak boleh tuk dilewatkan, apalagi jika kegiatannya itu gratis.

Sebelum pulang, sebenarnya akan lebih baik mengunjungi tempat souvenir yang berada di belakang meja resepsionisnya, terdapat berbagai pernak pernik khas Geraldton dan Australia yang bisa dijadikan buah tangan sebagai pengingat akan kunjungan ke museum ini. Mungkin kelak sebelum pulang ke Indonesia, saya harus menyempatkan sekali lagi ke sini, siapa tahu sudah ada tersedia souvenir yang menarik hati untuk di bawa pulang ke negeri tercinta.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s