Pengalaman Mendaftar LAP

Posted: July 5, 2018 in Kata-Kata

Saat masih mengajar di sebuah lembaga kursus, saya sering merasa kagum dengan mereka yang kuliah di luar negeri, apalagi jika mereka juga bekerja di negeri asing tersebut. Adalah Kak Andi Syurganda, seorang senior di Kampus Ungu dulu, berhasil mencuri perhatian saya dari postingan tulisan beliau di blog pribadinya. Tulisan pengalamannya mengajar di sekolah Australia Barat menjadi sebuah mimpi yang tentu saja tidak mudah untuk diwujudkan, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk menjadi nyata.

Dan begitu pengumuman pendaftaran itu dibuka, saya pun segera membuka alamat website yang disebutkan, menjelajah tiap kalimat di panduan pendaftaran yang diberikan, memahami setiap persyaratan yang tertulis dalam bahasa Inggris tentunya, dan akhirnya, saya memutuskan untuk mundur, tidak berniat lagi mendaftar. Yah, saya memutuskan untuk tidak mendaftarkan diri pada saat pertama kali membaca pengumuman program ini. Persyaratannya terlampau berat.

Ada dua hal yang membuat saya ciut untuk mendaftar kala itu, yang pertama adalah pengalaman mengajar Bahasa Indonesia kepada penutur asing, dan kedua adalah penguasaan kesenian dan budaya seperti kemampuan menari atau bermain alat musik tradisional yang tidak satupun saya kuasai, terlebih lagi saat itu saya belum memiliki sertifikat TOEFL sama sekali.

Setahun berlalu, pengumuman program yang sama kembali muncul di beranda akun facebook saya. Tahun ini keadaan saya cukup berbeda, dengan bekal sertifikat TOEFL yang sudah masuk kriteria yang disyaratkan, dan semangat untuk ikut merasakan hidup di luar negeri, saya pun tak ragu lagi untuk mendaftar. Untungnya pada tahun tersebut telah ada pengalaman berinteraksi dengan penutur asing dan hal tersebut menjadi bahan essai yang cukup mendukung, terlebih lagi hasil konsultasi singkat nan padat dari senior di atas, saya memantapkan hati mendaftar program ini. Perihal kemampuan seni budaya yang diharapkan oleh penyelenggara, saya hanya bisa memberi janji untuk mempelajari tarian atau sejenisnya jika kelak terpilih.

Saya pun membuat essai yang diminta, meminta gambaran dan saran dari kak Anda tentang isi essai saya, dan beliau dengan senang hatipun memberikan beberapa masukan yang sangat berarti. Karena saya tahu bahwa essai ini sangat penting, saya membuatnya dengan penuh pertimbangan, materi yang disusunpun harus benar-benar sesuai dengan apa yang dicari oleh tim seleksi. Saya memaparkan bagaimana pandangan saya tentang Bahasa Indonesia, pengalaman saya mengajarkan Bahasa Indonesia, keterampilan seni dan pemahaman budaya yang saya miliki, serta kehidupan saya yang mandiri sehingga akan mampu beradaptasi dengan mudah jika nanti terpilih dan ditempatkan di daerah yang jauh berbeda dari tempat asal saya.

Surat rekomendasi saya dapatkan dari pimpinan di tempat kursus saya bekerja, meski harus membuat dalam bahasa Inggris, saya memastikan bahwa pimpinan saya mengerti apa yang saya tuliskan di surat rekomendasi tersebut sebelum dia menandatanganinya. Hal ini terlihat sepele, tapi sangat penting untuk memahamkan orang yang terlibat dalam proses seleksi apa yang terjadi, agar kelak semisal diminta untuk mengkonfirmasi ulang informasi yang diberikan, tidak terjadi kesalahpahaman.

Untuk surat pernyataan, semua saya tulis dengan format ala kadarnya, persis format yang ada di buku panduan pendaftaran. Saya hanya mengganti nama dan tanggal serta tak lupa membubuhinya dengan tanda tangan setelah menempelkan sehelai materai di sisi kiri tempat tanda tangan saya. Ada satu dokumen yang sempat membuat pusing, surat jaminan. Surat ini masuk dalam salah satu persyaratan utama. Saya tak tahu bentuknya seperti dan harus meminta siapa untuk menjadi penjamin saya. Awalnya saya akan meminta sang boss di tempat kerja untuk menjadi penanggung jawab kepulangan saya, tapi rasa-rasanya kurang sreg. Akhirnya, saya tuliskan nama bapak saya sebagai penjamin saya. Pertimbangan hubungan keluarga dan juga beliau menyandang pekerjaan sebagai PNS, tentu saja bisa memberikan kejelasan dan kepastian bahwa beliau akan mampu mengusahakan kepulangan saya jika semisal ada kendala di Australia kelak. Untuk format surat ini saya buat seperti bentuk surat pernyataan yang umum dipakai, saya masukkan data diri bapak saya, data saya dan ditutup dengan pernyataan kesediaan beliau untuk menjadi penjamin saya, tak lupa tanda tangan bermaterai Rp6000 menjadi pelengkapnya.

Untuk berkas sertifikat TOEFL dan Ijazah serta Transkrip Nilai semua telah siap jauh-jauh hari, maklum berkas ini lagi ngetrend kala itu, saat para pemburu beasiswa lagi ramai-ramainya. Syukurlah berkat niat lanjut kuliah lagi, nilai TOEFL saya bisa memenuhi kriteria walau hanya lebih 7 poin saja dari yang disyaratkan. Untuk SKCK, saya tak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkannya, cukup bersabar sedikit di kantor polisi maka selembar bukti kelakuan baik akan didapatkan.

Tenggat waktu yang lumayan singkat membuat proses pendaftaran terasa cukup buru-buru. Setelah memeriksa dengan saksama, melihat lebih teliti setiap dokumen, dan memastikan formulir pendaftaran yang terlampir di email adalah formulir yang telah diedit, akhirnya saya menekan tombol kirim, send, dan pesan pemberitahuan muncul di layar atas komputer saya, pesan anda telah dikirimkan. Proses pendaftaran pun telah selesai.

Saya pun menunggu hasil pengumuman dengan kembali beraktivitas seperti biasa. Tak terasa bulan berlalu begitu cepat dan email yang ditunggu pun muncul di kotak masuk saya. Terlihat jelas subjek emailnya adalah Language Assistan Program yang saya daftari tersebut. Begini isi emailnya :

Yah, saya ditolak. Untuk kesekian kalinya, pengalaman mendaftar program internasional kembali membuahkan hasil nihil. Saya mengabarkan hal tersebut ke kak Anda, terima kasih tuk waktunya kak Anda, dan beliau membalas dengan singkat saja, “Silahkan coba lagi tahun depan”, begitu katanya.

Kegagalan tersebut tentu bukan hal yang terlalu membuat sakit hati, karena saya sadar kriteria yang diharapkan memang jauh dari yang saya tawarkan. Saya mulai melihat kembali berkas-berkas saya, dan melihat dengan jelas kesalahan kecil yang luput dari pengamatan saya, saya lupa menandatangani formulir pendaftaran saya. Saya ingat benar hal itu terjadi karena bentuk file pdf yang bisa diedit tersebut membuat saya hanya mengisi data langsung di file pdf-nya, tidak mencetaknya dan kemudian menuliskan data yang diminta dan memindainya lagi ke bentuk pdf. Hal tersebut tidak saya lakukan. Tapi apa iya hanya karena lupa tandatangan saja? Atau memang saya yang belum masuk kriteria, apalagi program ini dibuka tuk seluruh pemuda pemudi Indonesia, dan yang dipilih hanya empat orang saja. Tak ada kejelasan dari penolakan yang saya dapatkan dan semua kembali terlupakan.

Seiring berjalannya waktu, perhatian saya beralih ke pendaftaran beasiswa LPDP. Sayangnya, saya harus mendapatkan jawaban yang sama dari penyedia beasiswa, saya belum lulus di tahap wawancaranya. Kegagalan yang cukup membuat down ini menjadikan semangat untuk mencoba mendaftar program ke luar negeri jadi berkurang. Pun begitu, kala pengumuman program LAP kembali muncul di beranda saya, dengan niat setengah-setengah, penuh kepasrahan, saya mencoba lagi mendaftar. Berkas-berkas saya lengkapi lagi, formulir pendaftaran yang dulunya bermasalah, sudah saya pastikan untuk menandatanganinya, dan tepat di akhir deadline pengumpulan berkas saya mengirimkan email pendaftaran saya.

Sebenarnya pendaftaran kali ini tidak mendapatkan perhatian khusus dari saya, hanya sekadar memanfaatkan masa berlaku sertifikat TOEFL yang saat itu berada ditahun akhir penggunaanya, kan lumayan dengan nilai yang lebih sedikit dari permintaan sudah memberi sedikit jaminan. Pikiran saya kala itu, dicoba tak mengapa, gagal jadi pengalaman.

Saat liburanpun tiba, saya tidak disibukkan dengan kegiatan mengajar lagi, tempat kursus dimana saya bekerja pun mengalami kesulitan finansial hingga mengharuskan saya beristirahat dari rutinitas tersebut. Saat itupun saya berada di kampung halaman, di Kabupaten Luwu, menikmati perayaan hari kemerdekaan RI, dan sejenak merasakan ketentraman rumah yang jarang saya rasakan di kota tempat kerja saya. Email pengumuman pun muncul di notifikasi smartphone saya. Saya duduk di ruang tamu, berusaha menebak sebelum membuka penuh email tersebut. Tak begitu penasaran saya menekan ikon email baru di kotak masuk saya. Terbaca jelas isinya seperti ini :

Ah, saya tidak bisa percaya dengan apa yang saya lihat, saya mengulang membacanya lagi, dan lagi. Dan akhirnya setelah tiga kali buka tutup pesan yang sama tersebut, saya meyakinkan diri sendiri, saya diterima sebagai salah satu language assistant untuk tahun 2018. Hati saya rasanya penuh dengan rasa bangga dan haru, ibarat balon yang diisi gas nitrogen yang terus dipompa, saya melambung jauh dan tinggi. Alhamdulillah, dan syukur saya ucap berkali-kali. Setelah kembali dari lambungan rasa bahagia yang sempat membuat melayang tadi, saya memberitahukan ke orang tua saya. Meski masih sedikit kurang percaya diri, karena masih ada proses yang ditempuh, tapi setidaknya jalan tuk ke luar negeri sudah mulai terbuka. Inilah bukaan I dari kelahiran mimpi itu.

Dan begitulah awal proses mengikuti program asisten pengajar Bahasa Indonesia ini. Di cerita selanjutnya akan melanjutkan perjalanan saya, pengalaman menunggu email kepastian dari departemen pendidikan Ausi, pengurusan VISA yang menggalaukan hingga drama keterlambatan di bandara akan coba saya ceritakan di bagian selanjutnya.  Jika ada yang menarik perhatian dan tanya di benak anda, apapun itu, saya akan sangat senang jika mendapatkannya di kolom komentar. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s