Naik Bus Antar Kota Di Australia Barat

Posted: July 12, 2018 in Kata-Kata

Pertama kali saya ke lokasi penempatan di Kota Geraldton mengharuskan saya berkendara selama kurang lebih enam jam lamanya dengan menggunakan bus ukuran besar berkapasitas 60 penumpang. Selama perjalanan, terlihat jelas jalan yang lancar dan agak sepi dengan kendaraan yang hanya sekali-kali berpapasan dengan bus yang saya gunakan, namun kendaraan yang melintas tersebut rata-rata berkecepatan tinggi, terdengar dari bunyi gesekan udara saat saling berpapasan.

Di sepanjang rute bus hanya pemandangan semak raksasa dan beberapa pohon dengan warna kecoklatan dan nampak kering yang bisa dinikmati. Tak sehijau di Indonesia, begitulah yang terlintas di pikiran saya kala itu, maka hampir sepanjang perjalanan saya menghabiskan waktu terlelap tidur. Mungkin perjalanan terlihat membosankan saat itu, tapi seiring semakin seringnya saya bepergian dengan naik bus, saya sadar bahwa negara ini kadang memiliki wajah yang berbeda.

Keadaan jalan dan pemandangan semak di sekitarnya

Pemandangan di sepanjang jalan akan tidak selalu sama sepanjang tahun, itu yang dapat saya amati. Pada musim panas semua terlihat kering dan menyakitkan mata. Tapi begitu musim dingin tiba, semua pun menjelma menjadi tanaman hijau yang menyejukkan mata. Saya bahkan sangat menikmati pemandangan yang disuguhkan di sepanjang perjalanan saat musim tersebut. Ditambah dengan berkeliarannya ternak-ternak di ladang, seperti sedang melintasi desa imajinasi yang ada di film Hollywood.

Moda transportasi darat ini memang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk tiba di tempat tujuan jika dibandingkan dengan menggunakan pesawat. Namun sangat ekonomis jika dilihat dari segi harga tiketnya, bahkan bisa sampai 3x lebih murah dari tiket pesawat. Saya pun pernah sekali naik pesawat tuk tujuan yang sama, ke Perth, hanya butuh satu jam saja untuk total waktu yang dibutukan hingga berada di daerah kota.

Untuk menggunakan layanan bus antar kota ini, penumpang bisa melakukan pembelian tiket secara online melalui web resmi transWA.gov.au, memilih jadwal keberangkatan dan pembayaran pun bisa dilakukan di web tersebut. Tersedia juga pembelian tiket di tempat keberangkatan di masing-masing daerah, jika tidak memiliki akses untuk pembayaran online.

Jika berangkat dari Geraldton, penumpang harus menuju ke daerah bekas stasiun kereta api yang berada di Chapman Road, di tempat ini terdapat sebuah loket kantor pelayanan bus TransWA, bus pemerintah penghubung kota di WA-Western Australia. Di loket inilah kita bisa melakukan pemesanan tiket secara langsung. Saya seringkali membeli atau dibelikan tiket oleh pihak sekolah secara online, jadi saya ke loket tersebut hanya untuk mencetak tiket karena tiket ini bisa digunakan juga saat menggunakan kereta api di Perth nanti.

Di tempat ini, juga tersedia label kertas yang bisa digunakan untuk menandai barang berupa tas atau koper kita. Informasi yang diberikan dilabel berupa asal keberangkatan, terminal tujuan, nama dan nomor HP. Setelah mengisi saya dan semua penumpang mulai menuju bus. Jangan bayangkan ada banyak bus, karena di tempat keberangkatan ini hanya ada satu bus. Jadi semua mendekat dan memberikan tas ke petugas yang mengatur posisi barang di bagasi sesuai tujuan. Setelah itu para penumpang akan membentuk antrian menaiki bus. Tapi sebelumnya itu, seorang petugas akan mengecek tiket tepat di depan pintu, tiket diberikan, nama dilingkari, dan sang petugas yang biasanya merangkap sebagai supir juga akan meneriakkan nomor kursi yang diberikan.

Setelah naik ke bus, akan ada nomor yang terpasang di atas dua kursi, menghadap ke lorong agar mudah dibaca. Tak ada aturan pasti seperti di pesawat yang mengharuskan nomor tiket mana yang harus duduk di dekat jendela atau lorong, jadi kita bebas menentukan. Jika ingin menikmati pemandangan selama perjalanan maka datanglah/naiklah lebih awal, tapi kalau senang keluar masuk kamar kecil, mungkin ada baiknya duduk di dekat lorong, agar orang di samping kita tidak merasa terganggu.

Di atas kursi terdapat bagasi untuk tas kecil, jadi kalau malas memangku atau meletakkan tas di bawah kursi, menyimpannya di tempat tersebut bisa jadi pilihan, hanya saja akan sulit untuk selalu dijangkau, jadi jangan simpan makanan di tempat tersebut jika akan menikmatinya dalam perjalanan.

Untuk kursi bus sendiri terasa cukup nyaman, sandarannya pun bisa diatur sesuai kebutuhan. Yang paling beda dari pengalaman naik bus di Indonesia adalah penggunaan sabuk pengaman. Jadi bukan hanya berkendara dengan mobil saja yang mengharuskan semua penumpangnya menggunakan sabuk pengaman, tapi semua orang di atas bus harus juga menggunakan sabuk pengaman. Di samping kiri atau kanan, tergantung posisi duduk, terdapat sandaran tangan yang menyediakan dua colokan usb dan akses media hiburan berupa colokan headset yang menawarkan siaran musik berbagai genre dan audio film yang diputar untuk menghibur penumpang. Jadi dengan akses lubang headset tersebut, perjalanan akan semakin menyenangkan tentunya, dan tenang saja, kalau tidak membawa headset, biasanya sudah ditawarkan oleh petugas saat naik di bus secara gratis, jika tidak ditawarkan silakan cek di kantong kursi di tempat duduk masing-masing pasti telah ada disiapkan terselip bersama buku panduan keselamatan dan kantong plastik untuk sampah.

Di bagian belakang bus, terdapat toilet yang dapat di akses oleh semua penumpang, jadi jangan khawatir jika kebelet buang air, silakan gunakan fasilitas tersebut, karena jika menunggu bus berhenti maka akan sangat lama. Bus hanya berhenti 2 kali selama perjalanan diluar dari perhentian di tempat pengambilan penumpang. Perhentian pertama adalah saat waktu istirahat dan makan, biasanya sekitar jam 10 atau 11. Sedang perhentian kedua adalah saat setengah perjalanan, dimana bus akan berhenti di tempat khusus dan melakukan pergantian supir dengan bus dari arah sebaliknya. Jadi supir yang membawa saya dari Geraldton akan kembali ke Geraldton dengan mengendarai bus lain yang sedang menuju Geraldton.

Setelah tiba di stasiun tujuan, penumpang dapat langsung turun, mengambil barang di bagasi di bawah bus,jika ada, dan meninggalkan stasiun menuju ke mobil yang telah menunggu atau menuju flatform kereta api untuk melanjutkan perjalanan ke bagian kota yang dituju.

Saya sendiri sudah terbiasa dengan perjalanan bus sampai berjam-jam, dan perjalanan bus di Ausi memang lebih baik dari sisi fasilitas dan kenyamanan penumpang, tapi selain itu mungkin saya masih senang bepergian di Indonesia, lebih menantang dan bebas dari sabuk pengaman. Hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s