Perpustakaan Umum di Kota Perth

Posted: July 15, 2018 in Australia Daily, Cerpen

Sebagai ibu kota, Perth memiliki fasilitas yang sangat lengkap, bahkan di kota ini terdapat dua perpustakaan umum yang hanya berjarak sekira tak lebih dari 5 KM saja. Saat libur sekolah musim dingin, saya menyempatkan mengunjungi kedua perpustakaan terbesar di Australia Barat tersebut. Adalah Western Australia State Library atau Perpustakaan Propinsi Australia Barat (jika kita menyamakan tingkatan wilayah di Indonesia) dan Perth City Library atau Perpustakaan Kota Perth. Jadi secara ringkas, ada perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah propinsi dan pemerintah kota/kabupaten.

IMG_9880

Perpustakaan Wilayah/Propinsi Australia Barat

Yang pertama saya kunjungi adalah Perpustakaan Wilayah yang bagi saya merupakan perpustakaan terbesar yang pernah saya kunjungi selama ini. Lokasi yang berada sangat dekat dengan stasiun kereta membuat saya hanya membutuhkan waktu singkat untuk menemukan lokasi keberadaannya, di Kawasan Kebudayaan atau dikenal juga sebagai Cultural Centre Site, yang merupakan kawasan khusus untuk pengembangan kebudayaan, makanya di daerah ini terdapat sekaligus tiga museum yang sama-sama menjadi pusat pelestarian dan pengkajian seni tradisional dan modern yang ada di kota Perth.

 

 

IMG_3820

Tampak belakang gedung perpustakaan wilayah, sangat besar.

 

Dari depan sudah terlihat jelas betapa megah bangunan perpustakaan ini. Begitu melintasi pintu kaca besar, meja resepsionis telah siap menyambut kita,  pun begitu dengan beberapa petugas keamanan akan sigap membantu mereka yang kebingungan  atau ada hal yang mungkin akan ditanyakan. Meja resepsionisnya berbentuk lingkaran dengan kaca bening pembatas yang mengharuskan kita berdiri untuk berbicara dengan para petugasnya. Ada empat orang dalam lingkaran besar tersebut, terlihat jelas beberapa tulisan pembagian tugas mereka di kaca depan, seperti bagian informasi dan peminjaman buku.

Belum sempat menuju ke meja resepsionis, perhatian saya tiba-tiba tertuju dengan penanda sebuah pameran gratis yang berada tepat beberapa langkah dari pintu masuk, saya pun memutuskan berbelok ke arah yang ditunjukkan. Ternyata ada pameran peninggalan bersejarah dari koleksi museum yang ditempatkan di sini, mungkin karena museum lagi dalam masa renovasi jadi koleksinya dipamerkan saja disini. Tak begitu lama menikmati benda-benda yang dipamerkan, saya memilih keluar dan kembali berniat menuju ke meja resepsionis. Sebenarnya saya hanya ingin bertanya tempat khusus untuk mengakses komputer, tapi begitu mendekati meja resepsionis, papan petunjuk yang berukuran besar dan berwarna mencolok langsung menjawab pertanyaan saya, langkahpun terhenti dan saya berbelok arah. Saya bergegas melangkah meninggalkan area pintu masuk tersebut menuju ruang yang terlihat mirip area working zone.

IMG_1760

Working Area, tempat mengetik, menulis, mengerjakan tugas dan akses komputer.

Ruangan yang begitu luas di mulai dipadati orang-orang yang sibuk bermain komputer dan laptop. Untuk menuju ruangan besar raksasa tersebut, saya harus melewati sebuah ruang kaca kecil di sisi kiri yang menjual berbagai souvenir dan kenang-kenangan hasil kerjama sama dari pihak museum dan perpustakaan wilayah sedang di sisi kanan, ada penampakan lift yang tembus pandang bergerak menaikkan orang-orang ke lantai atas, nampaknya lift itu mengisyaratkan bahwa jalan menuju ruang baca ada di sisi seberang saya. Saya tak menghiraukannya dulu, bergegas mencari tempat yang pas untuk segera duduk.

 

Ruangan ini berisi beberapa perangkat komputer yang dapat diakses secara gratis, ada komputer yang dilengkapi kursi bagi mereka yang akan berlama-lama menggunakan komputer, namun juga ada beberapa perangkat komputer yang tidak dilengkapi kursi, namun mejanya diangkat lebih tinggi, jadi untuk mengaksesnya orang-orang harus berdiri, nampaknya ini diperuntukkan untuk mereka yang buru-buru atau hanya perlu menggunakan komputer untuk waktu singkat saja. Untuk menggunakan komputer yang ada kita harus memiliki kartu akses dari perpustakaan, biasanya akan diminta kartu identitas dan kemudian akan diberikan kartu perpustakaan, dan semua gratis. Saya yang hanya berkunjung dan iseng-iseng ingin mencoba layanan komputer pun dapat dengan mudah mendapatkan kartu akses tersebut.

Untuk setiap kali penggunaan komputer, dibatasi paling lama 20 menit saja untuk komputer yang berdiri (saya hanya sempat mencoba yang model berdiri ini), untuk masuk cukup mengetikkan nomor kartu akses dan kita sudah bisa berselancar dengan kecepatan internet yang lumayan kencang. Sayapun sempat mencoba mencetak satu lembar dokumen dan semua terlihat muda dan jelas dengan petunjuk yang tersedia di layar, jadi hanya perlu mengikuti instruksi saja. Sebenarnya sama dengan menggunakan komputer sendiri untuk mencetak dokumen, bedanya hasil cetakan kita tidak akan langsung keluar dari mesin cetak, jika belum di bayar lebih dahulu. Cara bayarnya dengan menggunakan uang virtual yang ada dalam kartu akses kita, jika belum ada isinya, maka harus diisi lebih dahulu di mesin pengisi saldo kartu akses, setelah terisi, kartu tersebut kita bawa ke mesin cetak/fotocopy lantas kita tinggal letakkan kartu kita, maka otomatis terdeteksi dokumen yang akan kita cetak, pastikan dokumen yang akan dicetak sudah benar, dan proses cetak akan segera dimulai setelah saldo kita dipotong secara otomatis. Untuk biaya cetak atau fotocopy dikenakan biaya mulai dari 20 sen hingga dua dollar perlembar tergantung ukuran dan hasil cetak warna atau hitam putih saja.

Untuk layanan wifi gratis yang disediakan, nampaknya masih mengecewakan untuk standar kecepatan dan daya muat halaman webnya. Setelah terhubung dengan jaringan wifi gratisnya, saya mencoba untuk melakukan browsing dan membuka beberapa laman, dan rupanya memang tidak sekencang jaringan wifi gratis di Perpustakaan Geraldton yang pernah saya ceritakan. Membuka halaman web saja setengah mati, apalagi untuk membuka video di saluran Youtube tentunya. Sayapun urung menjelajah dunia maya, dan memantapkan diri menjelajah dunia nyata saja dengan berkeliling perpustakaan.

Di ruangan besar ini ada berbagai jenis meja yang sangat nyaman untuk tempat mengetik ataupun mengerjakan tugas. Kebanyakan orang yang berlama-lama dengan komputer atau laptop mereka mengerjakan sesuatu terkait dengan tulis menulis dan membaca tentunya, seperti tugas kuliah dan bahkan di depan saya duduk tadi, ada seorang guru yang sedang memeriksa tugas kimia mahasiswanya.

Selain meja-meja khusus untuk mengetik dan menulis, ada juga beberapa sofa aneka bentuk yang sangat menarik dilengkapi dengan banyak colokan sehingga pengunjung dapat bersantai dengan nyaman sambil mengisi ulang baterai gawai yang lagi kosong atau hampir habis. Di ujung ruangan, terlihat di atas terdapat ruangan para staff perpustakaan yang ditandai dengan akses khusus di tangga naik yang hanya diperuntukkan untuk karyawan perpustakaan. Di bawahnya ada mesin cetak dan foto kopi, alat pemotong kertas dan mesin pengisi saldo kartu akses tadi. Semua terlihat dimanfaatkan dengan baik, hampir setiap saat terlihat orang silih berganti menggunakan fasilitas tersebut.

Di sudut-sudut ruangan lain di lantai dasar ini ada banyak ruangan kecil yang berfungsi berbeda-beda, ada yang menjadi sudut hiburan dan edukasi koleksi museum yang sedang dipamerkan kala itu, ada ruang belajar dan pertemuan grup-grup kecil di sampingnya berjejeran. Sedang di bagian tengah dari lantai satu adalah bagian penghubung berupa anak tangga yang berbentuk spiral melingkar ke atas dan dua buah elevator kapasitas besar di belakangnya. Selurus dari pintu masuk adalah pintu keluar ke jalan Francis, dimana sebenarnya Perpustakaan ini berada. Jika berjalan dari pintu masuk menuju pintu belakang tersebut, maka kita akan melintasi kafe disebelah kanan, dan setelah itu ada ruangan teather dan galery belakangnya, dimana toilet dan kamar kecilnya di sisi lain berhadapan dengan pintu masuk teater, hanya beberapa meter dari pintu keluar.

TempImage

Suasana Perpustakaan tampak dari lantai 1

 

Di lantai dua sampai lantai tiga semua adalah tempat koleksi buku berbagai jenis, tapi ada satu lantai yang diberi kode di tombol lift lantai M berisi koleksi buku dan alat permainan dan peraga untuk anak-anak, dari jauh sudah terlihat warna warni mencolok dan sangat menarik tentunya untuk anak-anak. Saya pun tak sempat masuk ke area tersebut, maklum umur saya sudah tidak tergolong ke dalam kategori tersebut.

Di lantai 1 terlihat lebih ramai dibanding lantai 3, dan hal tersebut mungkin dikarenakan pemandangan yang lebih indah dari lantai 1 ini. Dari sudut yang sejajar dengan pintu masuk di bawah, akan terlihat jelas pemandangan gedung-gedung tinggi menjulang dengan Museum Kota Perth dan Museum Seni Modern berada tepat di hadapan, belum lagi beberapa penampilan yang sering diadakan di panggung terbuka di depan perpustakaan yang dapat terpantau jelas dari balik kaca bening di lantai satu ini. Pemandangan tersebut tidak dapat dinikmati di lantai 3 karena terhalang oleh bagian balkon gedung.

Koleksi buku di sini nampaknya sangat lengkap dan banyak, bahkan setiap lantai memiliki masing-masing genre khusus. Belum lagi dengan tersebarnya meja-meja dan colokan yang hampir ada di setiap sudut, menjadikan tempat ini sempurna untuk menghabiskan waktu bagi mereka yang ingin berkontemplasi penuh ketenangan, karena tak ada keributan yang bisa membuyarkan konsentrasi dan imajinasi yang mungkin muncul.

IMG_8622

Tampak Depan Perpustakaan Kota Perth

 

Selain perpustakaan wilayah, saya pun tak lupa mengunjungi perpustakaan kota Perth yang terletak di kawasan bersejarah, Historical Site, di Hay Street, sangat mudah menemukan tempat dengan aplikasi smartphone atau bertanya pada orang-orang yang sudah lama tinggal di Perth. Jika dibandingkan dengan perpustakaan wilayah, perpustakaan kota ini lebih modern dari segi desain dan tata letaknya. Berbentuk tabung menjulang tinggi, perpustakaan ini di tata sederhana namun sangat nyaman. Di lantai dasar ressepsionis dan petugas keamanan siap sedia di hadapan pintu masuk, sedang di sisi kanan setelah melewati pintu masuk ada kafe kecil yang menawarkan kenikmatan kopi atau minuman lainnya yang bisa menambah semangat jika terlalu lelah dengan bacaan atau tulisan yang sedang dikerjakan.

Tepat di belakang meja resepsionis ada beberapa meja komputer untuk mereka yang ingin terburu-buru atau menggunakan akses internet singkat, mungkin cara penggunaan komputer di perpustakaan kota sama saja dengan perpustakaan wilayah yaitu dengan mendapatkan kartu akses terlebih dahulu lalu masuk ke laman yang tersedia, sayangnya saya tidak sempat mencoba saat berkunjung ke tempat ini.

Di bagian belakang diujung lain lingkaran lantai dasar, di sebelah kanan tepat di belakang kafe ada akses tangga yang melingkar terus ke atas bak spiral, sedangkan di sebelah kiri dari tangga itu ada dua buah lift yang siap membawa pengunjung menjelajah hingga ke lantai lima perpustakaan. Di depan lift sudah tersedia papan petunjuk koleksi yang terdapat di setiap lantai, saya pun menuju ke lantai dua langsung dan mendapati bahwa di ruangan ini ada koleksi tentang sejarah, dan hanya ada meja baca dengan kondisi sangat tenang. Saya pun melihat ke bagian bawah dari sela-sela pembatas yang melingkar ditengah menyisahkan ruang kosong hingga terlihat lantai satu dengan meja dan sofa beserta orang-orang yang bermain laptop di bawah. Sayapun memilih untuk turun dan menyusuri tangga yang terletak di sisi lain dari lift yang tadi saya gunakan.

 

IMG_9897

Tampak dari Lantai 2 Suasana Perpustakaan di Kota Perth

 

Di lantai satu ini kita bisa melihat langi-langit puncak dari gedung perpustakaan. Jadi pada lantai dua hingga empat terdapat rongga di tengah-tengah, sehinga jika kita berada di lantai satu maka dapat dengan jelas melihat orang-orang yang membaca di lantai atas jika mereka duduk di sisi dalam dekat lingkaran pembatas. Terdapat lukisan di langit-langit putih yang terlihat sangat fenomenal dari sisi saya duduk sambil memainkan laptop. Saya duduk di bagian luar dari meja yang disusun melingkari di tengah-tengah gedung, meja-meja ini menyediakan masing-masing colokan dan lampu baca untuk setiap kursi yang ada. Sedangkan pada bagian dalam lingkaran terdapat sofa beserta meja kecil untuk mereka yang mau membaca dan bersantai saja di ruangan ini. Sebenarnya di setiap lantai ada area khusus berupa sofa untuk membaca buku ataukah surat kabar yang disediakan. Sayangnya pada perpustakaan ini tidak terdapat pemandangan langsung ke arah luar perpustakaan seperti yang ditawarkan pada perpustakaan wilayah. Padahal dengan lokasi yang cukup strategis, berada di antara bangunan bersejarah di sisi kanan dan belakangnya, pemandangan yang diberikan tentunya akan lebih memanjakan mata dibanding perpustakaan wilayah.

Itulah gambaran singkat tentang keadaan perpustakaan terbesar yang sempat saya kunjungi saat berada di Perth, jika ada kesempatan silahkan datang dan rasakan sendiri keindahan dan ketenangan yang ditawarkan oleh dua tempat tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s