Shalat di Pusat Kota Perth, Australia Barat

Posted: July 15, 2018 in Australia Daily, jelajah

Jika diibaratkan di Indonesia, maka Western Australia atau Australia Barat merupakan salah satu propinsi di Australia. Propinsi yang terkenal dengan wilayah yang kering dan nampak kecoklatan pada peta ini terletak sangat dekat dengan Indonesia. Tak heran jika banyak orang dari Australia Barat (WA) yang memilih untuk berlibur ke Indonesia, seperti ke Bali atau Lombok dan daerah lain di Jawa, ketimbang berlibur ke kota lain di Australia, seperti Sydney dan Canberra karena harga tiket pesawatnya lebih murah. Bahkan dengar-dengar banyak yang memilih untuk mengobati gigi mereka yang bermasalah ke Indonesia dibanding di Australia karena biaya tiket pesawat ke Indonesia ditambah biaya perawatan gigi mereka akan lebih murah berkali-kali lipat dibanding biaya perawatan gigi di Australia. Yah, masuk akal sih, secara perawatan gigi di Indonesia saja mahalnya luar biasa apalagi di negara bermata uang dollar, mereka juga bisa sekalian berlibur juga jadinya.

Kota terbesar yang ada di Australia Barat adalah Perth. Karena berperan sebagai ibu kota propinsi, kebanyakan pusat bisnis dan kantor-kantor perusahaan besar berkumpul di sini. Tak mengherankan juga mengapa banyak penduduk yang tinggal dan berkegiatan di sekitar pusat kota, bukan hanya penduduk lokal tapi para pendatang yang berasal dari berbagai negara, menetap dan bekerja di kota ini adalah pilihan dan juga kebutuhan mereka. Tak terkecuali masyarakat Muslim yang berasal dari berbagai negara di dunia.

Sependek pengalaman saya berada di kota ini, saya tidak hanya bertemu dengan saudara muslim dari negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura, tapi juga dari Timur Tengah, Turki, Iran, Afrika, bahkan Amerika dan negara-negara Eropa. Tapi tentu saja jumlahnya tak begitu banyak jika dbandingkan dengan jumlah pemeluk agama lain ataupun penganut paham Ateis yang tak memercayai adanya Tuhan. Karena tergolong kaum minoritas, fasilitas ibadah mereka  di kota ini pun tak begitu banyak, saya sendiri baru menemukan dua tempat khusus untuk umat Muslim beribadah di Kota Perth ini. Masjid Besar tertua di pusat kota dan sebuah Mushalla Kota yang ada di lantai dasar sebuah apartemen mewah di kawasan pusat bisnis.

Sebuah mesjid tua yang pertama kali di bangun di Perth menjadi destinasi pertama saya bersama teman-teman Language Assistants saat akan melaksanakan shalat Jumat di Perth untuk pertama kali. Letaknya yang berada di 427 William Street ini sangat mudah diakses dari stasiun bus dan kereta api kota Perth. Lokasinya berada di jejeran toko-toko khas barang-barang Asia, seperti makanan dan produk dari Jepang, China dan Korea. Di jalan tersebut juga, jika berjalan tak jauh setelah masjid ada sebuah rumah makan Indonesia, namanya Manise, makanannya terasa sangat Indonesia, bahkan Coto Makassar yang sempat saya cicipi tak kalah nikmat dengan Coto Makassar yang ada di ibu kota Sulawesi Selatan yang jauh di sana. Masjid ini sendiri dapat di tandai dengan mudah jika memperhatikan bagian depan masjid yang dihiasi dua pohon sejenis kurma (mungkin) yang cukup besar dan berada di trotoar jalan. Begitu menemukan pohon mirip palem atau kelapa sawit dari jauh tersebut, berarti masjid sudah ada tepat di depan.

IMG_2606

Jika dilihat dari luar, bentuk masjid terlihat seperti bangunan modern bergaya Turki, menurut saya, dengan beberapa sudut berbentuk benteng dan puncak yang tak berbentuk kubah. Bangunan masjid ini pun tampak terdiri dari dua buah gedung yang terhubung dengan perantara berupa lorong menuju bagian belakang masjid. Sebelah kanan adalah bangunan utama masjid, dimana Imam dan jamaah pria melakukan shalat, sedangkan di bagian kiri adalah gedung yang diperuntukkan bagi para kaum hawa beribadah, namun saat hari Jumat, yang mana jamaah pria akan membludak, maka separuh bagian gedung ini juga dijadikan tempat menampung jamaah laki-laki yang kerap kali meluber hingga ke bagian halaman gedung. Saking tak seimbangnya daya tampung dan kapasitas masjid dan jumlah jamaah shalat Jumat, maka halaman dimana pengurus masjid sudah menyiapkan hamparan tikar dan karpet sebagai sajadah menjadi pilihan mereka yang datang terlambat tuk shalat jumat.

IMG_1497Saat hari jumat saja pintu depan di William St ini dibuka, sedangkan saat hari lain pintu depan akan dibiarkan terkunci sehingga untuk menuju masjid orang-orang harus berputar ke belakang melalui jalan yang berada di samping kiri masjid. Ibadah shalat jumat dimulai pukul satu siang, saya biasanya datang sebelum itu, biar leluasa mengambil air wudhu ataupun menyempatkan ke kamar kecil yang semuanya berada di belakang masjid yang terhubung dengan gedung untuk perempuan. Biasanya ada sandal masjid yang tersedia untuk digunakan usai berwudhu menuju pintu depan masjid. Namun jika tak dapat sandal, setelah selesai wudhu, biasanya sepatu tidak lagi saya gunakan, namun hanya  berjinjit-jinjit melangkah melalui lorong perantara dua gedung hingga ke tangga naik ke ruangan utama masjid untuk menempati shaf yang masih kosong. 

Sebenarnya kedua bagian gedung masjid, baik yang kiri dan juga yang kanan lorong memiliki dua tingkatan, tapi entah mengapa hanya tingkatn kedua saja pada gedung utama sebelah kanan yang digunakan untuk sholat bagi pria, sedang yang ada di bawah lantai satu tidak digunakan dan masih menjadi misteri bagi saya, walau saya sudah sempat melihat beberapa kali pintu kecil dibelakangnya terbuka dan memperlihatkan area gedung yang seakan mirip gudang untuk menumpuk barang-barang. 

Saat memasuki masjid, akan terlihat jelas batasan bangunan asli dengan bentuk yang sangat sederhana di tengah-tengah ruangan yang mungkin berukuran 10×20 meter tersebut, bangunan yang terlihat lebih stylis dengan model yang lebih bersih ini kemungkinan besar adalah hasil tambahan saat dilakukan renovasi bangunan masjid. Di dinding asli yang membatasi tepat di tengah-tengah masjid, terdapat prasasti yang menandakan kapan pertama kali pembangunan masjid itu dimulai. Tercatat ada tahun 1905 di prasasti yang ditulis di atas batu marmer tersebut.

IMG_6673

Di bagian ruangan yang masih asli dengan model awalnya terlihat corak-corak warna warni yang cerah pada langit-langitnya, sedangkan ornamen seadanya terlihat menghiasu dinding depan dekat dari tempat imam dan mimbar untuk penceramah berdiri. Saat hari jumat, ruangan ini akan selalu penuh lebih awal, pasalnya pembatas yang ada di tengah-tengah membuat kita terkadang tak bisa melihat juru khutbah yang menyampaikan ceramah.

Saat shalat Jumat telah usai, akan dijumpai keramaian di bagian belakang masjid, biasanya akan ada penjual beberapa jenis makanan yang harganya tergolong murah rutin menggelar dagangan mereka. Biasanya ada roti khas timur tengah yang diisi dengan daging domba atau kambing ataupun ayam, lengkap dengan minuman dingin kaleng dan air mineralnya. Ada pula penjual nasi lemak dengan potongan irisan daging sapi yang sudah dikemas dalam kontainer yang siap untuk dibawa pulang. Uniknya, jumlah dagangan yang dijajakan tergolong sangat sedikit bahkan terbilang terbatas jumlahnya, dan hampir dipastikan semua jualan tersebut akan habis tak tersisa, bahkan saya pernah kehabisan roti isinya pada waktu pertama kali di Perth. Harganya yang tentu lebih murah dibanding harga untuk makanan yang sama di tempat lain menjadi salah satu alasan menjadikannya laris manis, selain kepastian label halal yang tergolong ekslusif tentunya. Pada kesempatan lain, sayapun mencoba roti isinya yang seharga hanya $2 dan sekaleng minuman soda untuk $1 saja, sangat lumayan tentunya untuk mengganjal perut yang kadang kelaparan berjalan-jalan kesana kemari.

IMG_8918Selain di Masjid Besar Perth tersebut, tempat shalat yang sering sekali saya datangi saat berada di pusat Kota Perth adalah Musallah Kota Perth yang berada di lantai dasar sebuah apartemen. Dulu, lokasi mushalla ini belum terdeteksi di Google, informasinya pun saya dapatkan dari teman yang membaginya di grup Whatsapp. Lokasinya berada di Murray St nomor 101 tepat di antara Pizza Hut dan Hotel Madam Saud. Jika telah menemukan alamat yang saya maksud tadi, maka jangan berharap akan melihat ada tanda-tanda mushalla ataupun tempat shalat yang terpampang disitu, yang ada hanya sebuha jalan masuk ke apartemen yang pintu kacanya akan selalu tertutup, dan untuk masuk dibutuhkan kartu akses yang tentunya hanya dimiliki oleh mereka yang menyewa apartement di gedung tersebut. Tapi tenang saja, ada cara untuk masuk bagi mereka yang akan mengunjungi mushallah.

Untuk bisa masuk dan melaksanakan shalat di mushalla cukup dengan menekan tombol nomor 3 lalu menekan lagi lambang bel atau lonceng di papan tombol masuk di dekat pintu kaca tersebut. Jika beruntung, setelah beberapa detik saja, maka pintu kaca akan terbuka otomatis dan kita dapat masuk ke dalam. Ruangan mushallah berada di area belakang, jika kita berjalan terus, lurus saja, setelah melewati jejeran kotak surat di sebelah kiri, maka pintu mushalla akan terlihat jelas di sebelah kanan. Kalau misalnya tidak menemukan pintu tapi malah menemukan lift atau elevator di hadapan anda, berarti ruangannya telah terlewat. Memang pintu mushallah tidak begitu mencolok, selain dikarenakan warna yang senada dengan dinding yang ada disekelilingnya, kaca pintupun tidak memiliki label atau tanda berupa tulisan. Namun jika telah melihat gagang pintu, jangan ragu untuk menuju ke pintu tersebut, cobalah mengetuk dan membuka pintu tersebut, biasanya dari dua daun pintu, yang sebelah kanan akan dibiarkan terkunci, sedangkan yang terbuka dan bisa didorong adalah yang sebelah kiri, jadi jangan paksa untuk mendorong pintu yang kanan, atau menarik pintu yang kiri karena rumus membukanya adalah pintu kiri dan didorong. Jika berhasil membuka, maka sambutan salam akan diberikan saat ada di dalam.

Tepat di depan pintu saat masuk, sebuah meja kantor dan kursi dengan posisi menghadap langsung ke pintu menyambut kita, sang pengurus mushallah satu-satunya yang saya ketahui, namanya Haji Munir dari Turki, akan menyambut dengan basa basi menanyakan kabar dan asal kita. Ia yang bertanggungjawab penuh dengan mushalla tersebut, jika ia tak ada beliau, maka mushalla tidak dapat digunakan karena kuncinya hanya dimiliki oleh dia, sepengetahuan saya. Di samping kiri setelah masuk, ada tempat menyimpan sepatu yang bertingkat empat membujur sejajar shaf yang ada. Di sisi kanan  ada ruang kubik tempat shalat bagi wanita dan di depannya ada kotak penyimpanan sandal yang biasa digunakan untuk ke toilet ataupun untuk berwudhu.

Ruangan mushalla kota Perth ini sangat kecil, mungkin tak lebih dari sepuluh jamaah pria saja yang mampu ditampung. Terlebih hanya ada dua shaf yang terlihat dari sajadah yang terhampar, sedang satu sajadah disediakan untuk imam di depan dengan posisi agak serong sedikit. Tempat wuduhnya sendiri ada di bagian belakang kubik ruang shalat perempuan tadi. Aksesnya mudah, terus saja dari pintu masuk, setelah melewati meja kerja Haji Munir, maka berbeloklah ke kanan, maka dua kran air terlihat disana tersedia untuk orang-orang berwudhu. Sedangkan tempat shalat perempuan berupa ruang kubik kecil tadi, saya tak ketahui pasti apa ada ruang wudhu di dalam sana atau tidak, yang pasti kaum hawa akan diarahkan masuk ke sana jika ingin shalat. Jika ingin buang air kecil atau besar, atau pun menggunakan toilet, mintalah kunci toilet dari bapak pengurus mushalla tersebut, karena toilet yang terdapat di luar mushalla tepat di samping kanan ruangan mushalla, hanya bisa diakses jika memiliki kunci khusus tersebut.

Terkadang banyak orang yang gagal menemukan bahkan tidak beruntung untuk bisa shalat di mushalla ini karena datang pada saat yang tidak tepat. Seperti yang saya katakan tadi, H. Munir, yang menjadi juru kunci mushallah tersebut, harus berada di dalam mushalla agar kita bisa masuk. Saya pernah sekali disuruh oleh H. Munir menggantikan dia menjaga mushalla karena dia sedang ada urusan keluar selama 1 jam. Dia mengajari saya bagaimana jika ada orang yang masuk dan apa yang harus saya lakukan. Dari situ saya bisa mengerti dengan jelas bahwa ketika ada yang menekan tombol 3 dan simbol lonceng di tombol kunci depan pintu masuk, maka telepon di ruang mushalla yang ada di belakang meja bang Haji tadi akan berbunyi, dan untuk membuka pintu maka seseorang harus mengangkat gagang telepon tersebut lalu menekan tombol angka 1, dan secara otomatis pintu masuk di depan akan terbuka memberikan akses pada mereka yang akan masuk. Jadi, jika pintunya tidak terbuka setelah menekan tombol berkali-kali, bisa dipastikan tidak ada yang mengangkat, mungkin pak Haji belum ada diruangan atau ia sedang shalat berjamaah.

IMG_8716

Tombol untuk meminta dibukakan pintu, ingat pencet 3 kemudian simbol lonceng/bel.

Beberapa kalipun saya tidak dapat masuk ke mushalla saat datang ke sana, tapi beruntungnya saya selalu menemukan Pak H.Munir saat akan meninggalkan pintu masuk. Pernah malah saya berpapasan dengannya saat saya sudah berada 100 meter di jalan seberang lokasi mushalla. Dia yang bertubuh sangat pendek karena kelainan bentuk tulang belakang nampaknya sangat mudah dikenali di keramaian. Jika ingin datang untuk shalat, usahakan datang pada saat lebih lambat dari jadwal shalat yang umumnya berlaku di aplikasi-aplikasi waktu shalat. Misalnya untuk shalat Dhuhur, silahkan datang setelah pukul 1 siang, sedangkan Ashar setelah pukul 3 atau 4 saja. Saya sering datang pada waktu-waktu tersebut dan beberapa kali masih sempat shalat berjamaah dengan Pak Haji Munir.

Demikianlah ulasan singkat pengalaman pribadi selama berkunjung di Kota Perth, semoga informasi ini dapat membantu saudara muslim yang akan berkunjung dan menikmati suasana kota Perth, tanpa khawatir harus meninggalkan kewajiban ibadah shalat.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s