Angkutan Umum di Australia Barat

Posted: July 16, 2018 in Australia Daily, Cerpen

Terlalu naive rasanya membahas berbagai hal tentang sebuah kota tanpa membahas moda transportasinya. Sebagai pengguna moda transportasi massal di kota besar salah satu negara maju di dunia ini, saya merasakan banyak sekali perbedaan, yang tentunya tidak ada, bahkan jarang ditemukan di negara asal saya, Indonesia tercinta.

Disclaimer: Tulisan ini dituliskan dengan gaya tulisan yang sedikit berbeda, kata-kata yang disusun sedikit ‘anu’.

Selama bermukim dan beraktivitas sementara di Western Australia, entah itu di kota Geraldton ataupun di kota Perth dan sekitarnya, saya banyak melakukan perjalanan dengan kendaraan umum yang tersedia, seperti bus atau kereta, dan seingat saya hanya sekali saya menggunakan taksi, itupun karena diajak oleh guru mentor saya, pun begitu dengan moda transportasi online Uber, baru sekali dan itupun ikut dengan teman yang pesan.

Selama perjalanan bersama mereka, sang roda-roda yang berputar itu, ada banyak perbedaan yang saya rasakan, dan mungkin juga mereka rasakan, tapi biarlah rasa ini terpendam dalam dada. Untuk mengobati rasa penasaran, saya akan berbagai tentang keadaan perjalanan menggunakan kendaraan umum di sini (Perth dan Geraldton) dan yang membedakannya dari kampung halaman.

Yang pertama adalah masalah waktu. Sejak teknologi telah bersahabat sangat baik dengan urusan-urusan publik, negara-negara maju semakin memanjakan penduduknya, tak terkecuali di Australia. Hampir semua jadwal perjalanan kereta dan bus sudah terintegrasi dengan baik dengan aplikasi peta di telepon pintar yang dimiliki hampir semua orang. Sebutkan saja alamatnya, maka sang om Google Maps akan dengan lincahnya memberikan rute terbaik. Untuk perjalanan dengan menggunakan moda angkutan umum, biasanya telah muncul jenis kendaraan yang tersedia, pilihan jadwal keberangkatan yang ditawarkan dan perkiraan waktu tempuh hingga sampai di tujuan. Kurang apa lagi si Om Gugel ini, sudah lengkap sekali tawaran yang diberikan, bahkan ia bisa disuruh-suruh juga, misalnya mengingatkan kita kapan harus berangkat, kapan bersiap untuk turun atau berhenti dimana, tapi sayang dia belum bisa menjawab pertanyaan “kapan nikah?”

Halte bus di WA

Dan silahkan percaya apa yang disampaikan oleh si Om Gugel Peta tersebut, karena yang diberikan adalah pilihan terbaik. Pernah sekali saya berjalan ke taman King’s Park, saya meminta tolong ke si Om untuk ditunjukkan jalan menuju spot pemandangan terdekat, dan beliau senang hati memberikannya, sayangnya saya tidak terlalu percaya, karena rute yang diberikan di peta terlihat sangat jauh untuk ditempuh, harus berputar dulu ke bundaran baru kembali ke tujuan. Karena agak lelah saat itu, saya memutuskan membuat rute sendiri, Dari peta yang ada di hape, saya menyusuri lahan yang terlihat kosong, terus berjalan sesuai arah di peta, dan akhirnya saya sadar, area tersebut tak bisa dilalui, pagar besi tak berduri dengan tanda larang, pohon yang tumbuh dengan semak yang tak bisa ditembus. dan akhirnya saya memutuskan tuk kembali ke jalan yang lurus, kembali ke tempat awal dan mulai perjalanan sesuai saran om Gugel yang selalu memberi dengan tulus.

Selain itu, ada pula si tante kartu pintar a.k.a smartrider, jadi smartrider ini merupakan alat pembayaran yang bisa digunakan di semua jaringan transportasi di wilayah Australia Barat. Jika tak memiliki kartu ini, kita tetap saja bisa menggunakan cash atau uang tunai untuk membeli tiket, tapi harga tiketnya akan lebih mahal dan lebih ribet tentunya.

Kartunya dapat dibeli seharga $10 dan setelah diisi dengan saldo semau kita, maka sudah bisa langsung digunakan. Bagusnya, setiap pembayaran dengan kartu akan dikenakan diskon 10%, lumayan kan. Untuk menikmati fitur lebih canggih lagi, sebaiknya dan seharusnya buatlah akun untuk mengelola kartu tersebut. Karena di akun bisa dilakukan pengaturan seperti pengisian otomatis saldo yang dapat meningkatkan diskon hingga 20%. Itu untuk penumpang umum, sedangkan untuk mahasiswa/pelajar dan lansia, mendapatkan potongan yang lebih banyak lagi, lebih murah lagi jadinya dan tentunya lebih nyaman, tinggal tempel saja di alat pemindai, kita bisa langsung naik dan duduk manis di atas bus atau kereta, bisa juga sambil senyum manis, siapa tahu ketemu jodoh, ya kan? Ingatlah, jodoh tak pernah kenal tempat, waktu dan suasana.

Berdasarkan pengalaman saya, sebelum bepergian, saya akan selalu mengecek terlebih dahulu peta, kemanapun itu, apalagi jika tempatnya baru. Setelah ada gambaran tentang dimana arah yang dituju, bagaimana dan apa yang ‘dinaiki’, saya lalu memutuskan untuk keluar dan memulai perjalanan. Dan untuk menghidari agar tidak terlihat kebingungan, apalagi seperti orang yang lagi kasmaran sama handphone, yaitu melihat handphone setiap saat karena takut posisi atau waktu yang salah, perhatikan saja jenis kendaraan yang digunakan, apakah bus atau kereta, terus perhatikan jam berapa dan dimana harus menunggu, lalu cek lagi peta pastikan bahwa anda tahu jalan menuju ke tempat menunggu bus atau kereta tersebut.

Jika naik bus, silahkan berdiri di tempat keberangkatan bus, baik berupa halte ataupun papan penanda halte, lalu lambaikan tangan. Ingat, lambaikan tangan ke bus nya, jangan ke cewek cantik yang lewat atau pesawat yang tiba-tiba melintas. Saya pernah dua kali tidak mendapatkan bus meskipun telah berada di halte, karena tidak melambaikan tangan. Yang pertama terjadi karena saya sibuk cerita dengan cowok berewok bernama Anwar Fadila, salah satu LA juga, jadi sudah di halte kita masih harus menunggu beberapa menit, saking bosannya kita bahas hal tidak penting, tapi semangat ceritanya, busnya tiba-tiba ada dihadapan kita dan tidak berhenti, lewat saja. Dan kita hanya bisa merelakan dia pergi🙄.

Yang kedua, saya juga sudah di halte, saya membaca tulisan jadwal kedatangan bus, tertulis di situ bus yang saya harus gunakan terjadwal 5.32, lantas saya melihat jam tangan digital saya, masih 5:31:55, dan begitu saya menurunkan tangan saya, sebuah bus melintas di samping saya. Saya yang memang posisinya lagi membelakangi arah datangnya si bus, akhirnya hanya bisa pasrah, meski sempat melambaikan tangan, tapi semua sudah terlambat, tak ada gunanya lagi. Jadilah saya berjalan selama 30 menit lamanya ke stasiun kereta.

Jika berjalan normal, setelah bus tiba, tunggu hingga pintu terbuka, jangan naik dulu kalau masih tertutup, tidak usah teriak untuk dibukakan, karena pasti akan terbuka otomatis. Setelah naik, silahkan beli karcis di Pak Supir yang sedang bekerja, mengendali kuda supaya baik jalannya, eh,,malah nyanyi, kalau tidak nyanyi mungkin kita tidak seumuran. Jika punya kartu pintar atau smartrider langsung tempel saja di mesin pemindai yang dipasang di tiang tepat di dekat pintu masuk. Setelah itu silahkan duduk, jangan lupa memberi salam basa basi pada si Supir, siapa tahu dia adalah jodoh yang baru sempat anda temukan. Sebagai catatan, yang kerja sebagai supir bus di Australia bukan hanya laki-laki, tapi juga kaum perempuan, bahkan kemarin saya bertemu dengan salah satu ibu supir yang cantik dan masih muda. Jadi jangan lupa berdoa, siapa tahu sudah saatnya jodoh bertemu.

Sebelum turun pastikan sudah mengecek kembali peta, pastikan bahwa anda berada di tempat yang tepat untuk turun ke bumi, eh salah, untuk turun dari bus. Silahkan pencet bel yang tersedia hampir di semua daerah yang terjangkau, usahakan pencet belnya dengan hati-hati, jangan sampai ada tangan orang lain yang juga menuju ke bel yang sama, apalagi setelah itu disusul dengan tatap-menatap yang bertabur bunga-bunga, jangan sampai yah, bahaya.

Setelah bus berhenti, barulah beranjak dari tempat duduk, dan berjalanlah menuju ke pintu keluar, biasanya akan dibukakan pintu keluar terdekat, dan jangan lupa tempelkan kartu pintar ke mesin pemindai agar biaya perjalanan bisa dipotong dari saldo, jika tidak ditempelkan, maka akan dikenakan biaya maksimal dari total perjalanan yang mungkin terjadi. So, jangan sampai lupa yah.

Stasiun Warwick, pintu masuk dan mesin penjualan tiket

Saat menggunakan bus dan kereta, maka saat turun nanti akan langsung ke stasiun, jadi langsung tersambung perjalanannya. Jika hanya menggunakan kereta, maka harus datang ke stasiun dulu, prosesnya akan sama, kita menggunakan kartu pintar atau membeli karcis. Di stasiun akan ada mesin untuk membeli tiket kereta dan juga isi ulang saldo kartu kita. Setelah menempelkan kartu maka jalan masuk akan terbuka. Silahkan menuju ke flatform tempat kereta akan diberangkatkan, perhatikan baik-baik kereta apa yang digunakan, dan di flatform berapa, karena salah tempat menunggu akan fatal, keretanya tidak akan muncul. Tapi tenang saja, hanya ada 2 stasiun yang memiliki banyak flatform di Perth, sisanya hanya ada dua, dari atau menuju Perth, jadi tidak mungkin salah naik kereta.

Suasana mencekam dalam kereta

Saat sedang menunggu usahakan jangan berhenti di tempat terlarang, biasanya di area setelah tangga dan di dekat rel kereta, ada cat warna kuning yang jadi penanda batas tersebut biasanya. Jika menggunakan eskalator atau tangga jalan, berdirilah disamping kiri jika ingin berhenti atau tidak bergerak, jangan di sisi kanan, karena sisi kanan akan digunakan orang-orang yang berjalan buru-buru. Saat kereta datang, berdirilah dekat pintu masuk, jangan di depan pintu menghalangi jalan keluar. Jadi biarkan dulu orang-orang keluar semua, baru kita masuk. Silahkan duduk atau berdiri di tempat yang disediakan.

Hal yang paling berbeda dari suasana di angkutan umum di Indonesia dan di sini adalah interaksi penumpangnya. Akan sangat kurang yang namanya interaksi sosial di kereta, pun juga di bus. Orang-orang akan saling menghormati privasi masing-masing, berusaha tidak menganggu yang lain. Ada yang mendengarkan musik dengan headset terpasang di telinga, membaca buku baik berupa novel atau sekedar ebook ringan di handphone mereka. Dan bahkan saya jarang melihat orang lain yang tidak saling kenal saling menyapa, tidak ada proses perkenalan basa basi tanyakan asal dari mana, tidak ada cerita merunut nama-nama kakek dan nenek buyut dan tak ada tawa-tawa renyah dari kebahagian saat tersadar bahwa ternyata mereka yang baru bertemu di bus atau kereta tersebut adalah saudara jauh sepupu beberapa kali, semua itu tak saya lihat di sini.

Suara yang terdengar di kereta akan berupa pengumuman saja, nama stasiun berikutnya dan peringatan bersiap-siap untuk turun. Jadi jika ingin menggunakan headset jangan lupa untuk tetap memperhatikan tulisan merah berjalan di tengah kereta yang akan menampilkan nama stasiun di perhentian berikutnya. Saat akan turun, berdirilah langsung dekat pintu keluar, jangan sampai kereta langsung tancap gas, dan kita baru berjalan cantik ke pintu. Untuk membuka pintu, pencet tombol buka di samping pintu, karena banyaknya pintu kereta, saat singgah hanya pintu yang dipencet sajayang terbuka, pastikan untuk tidak melamun saat berada di posisi ini, atau akan berlanjut lagi perjalanan ke stasiun selanjutnya.

Saat turun pastikan menggunakan cara yang sama, naik tangga jalan berdiri di posisi yang tepat dan jangan lupa kartunya digunakan di mesin pemindai.

Dari pengalaman singkat ini, saya bisa merasakan betapa peningkatan fasilitas dan pelayanan dari sistem transportasi massal bisa memberikan kenyamanan sehingga orang-orang bisa menikmati waktu mereka di perjalanan dan merasa tetap aman saat bepergian. Semoga bermanfaat.

Stand tempat penanda bus di stasiun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s