Bagaimana Rasanya jadi Asisten Guru di Australia?

Posted: July 18, 2018 in Australia Daily, Cerpen, Kata-Kata

Wah, rasanya baru kemarin tiba di Ausi, tau-tau sudah satu semester terlewati. Sudah setengah jalan menuju akhir program asisten bahasa yang saya ikuti. Dan hari ini saya akan berbagi cerita tentang bagaimana keseharian saya selama menjadi Language Assistent atau LA kurang lebih 5 bulan terakhir. Saya bekerja sebagai asisten guru Bahasa Indonesia di dua sekolah setingkat SD dan satu sekolah setingkat SMP. Jadi sebenarnya tugas saya tidak terlalu sulit, yah namanya juga asisten, tapi karena berada di lingkungan yang sangat berbeda, proses menyesuaikan diri, baik itu budaya dan kebiasaan di Ausi membuat pekerjaan saya terasa sedikit menantang.

Saya biasanya bangun sebelum pukul 6 pagi, mungkin saat jam telah menunjukkan angka 5. Setelah melaksanakan kewajiban sebagai muslim, saya harus buru-buru ke dapur. Karena di sekolah kebanyakan staf dan guru membawa makanan sendiri, jadilah pagi hari saya terisi dengan kerusuhan mempersiapkan bekal makanan tuk dibawa ke sekolah. Yah, meski sudah sering masak-masak sendiri, tepatnya ‘bereksperimen‘ dengan bahan makanan yang tersedia di dapur, saya pun masih sering kebingungan mempersiapkan menu apa yang tepat untuk dua kali makan di sekolah nantinya.

Di semua sekolah yang saya tempati, ada dua waktu istirahat, walau waktunya tidak persis sama, semuanya berdurasi 30 menit lamanya. Sebagai contoh di Waggrakine PS, istirahat yang pertama atau disebut juga reses time. sekitar pukul 10.55 hingga pukul 11.25 sedangkan yang kedua atau lunch time, tepat dimulai 1.30 sampai pukul 2 siang. Sedangkan di Wandina PS, istirahat kedua berakhir 1.35 siang, 25 menit lebih cepat.

Jadi untuk memenuhi tuntutan itu, saya pun akhirnya harus mempersiapkan dua menu dalam sehari, yang pertama biasanya menu ringan dan manis dan selalu diberi pelengkap buah-buahan, sedangkan menu kedua berupa makanan yang agak berisi, biasanya saya padukan nasi ataupun mi sebagai bahan utamanya. Saya yang tak suka neko-neko, memiliki menu yang standar dan itu-itu saja, lebih mudah tuk disiapkan dan lebih cepat tentunya.  Menu reses time bisa saja roti lapis selai kacang dan keju, kue ‘lamington‘ dan sebuah apel atau pir. Sedangkan tuk makan siang, kalau sempat maka nasi dan ayam ‘tak jelas dimasak apa’, atau sejenis roti India berisi sayur dan tuna instan jadi pilihan. Tapi bila waktu tidak cukup karena bangun yang terlalu kesiangan, jadinya saya hanya membawa makanan instant saja, seperti indomie atau bihun kuah.

Penampakan bekal tuk sehari di sekolah.

Saat bekal telah siap, maka kemudian dimasukkan ke dalam kontainer atau kotak makan. Tak lupa botol minum diisi dengan air minum, karena sampai sekarang saya belum terlalu terbiasa minum air kran di Ausi, walau terkadang harus meminum juga saat tak ada pilihan lain. Botol minum adalah benda penting di sini, sebagian besar staf pasti membawa botol air mereka, tak jarang juga ada yang membawa gelas termos dan sejenisnya untuk bisa menikmati hangatnya teh dan kopi mereka saat sedang berjalan atau mengawasi anak-anak di lapangan. Pertama kali tiba di kota Geraldton, saya agak menyesal tidak membawa botol minum dari Indonesia, pasalnya di sini harganya lumayan mahal, bahkan menurut saya tidak masuk akal saja, maklum pola pikir masih keIndonesian. Pun begitu dengan kotak makan, saya tidak memiliki satupun kala itu, untungnya dulu ada tupperware peninggalan asisten sebelumnya, bisa menjadi penolong hingga gajian pun tiba.

Untuk ke sekolah, saya biasanya dijemput oleh guru saat akan ke sekolah yang jauh, untuk yang dekat dan terjangkau saya selalu usahakan untuk pergi sendiri. Saat harus menumpang ikut dengan guru, biasanya saya bisa berangkat setelah pukul tujuh, bahkan terkadang setelah pukul delapan. Tapi jika harus berangkat naik sepeda, pukul tujuh, saya harus sudah memulai perjalanan agar tidak telat tiba di sekolah. Di tiga bulan pertama saya harus ke sekolah bersama guru selama empat hari, sedang sehari lainnya saya cuma berjalan kaki, karena memang saya tinggal sangat dekat dengan salah satu sekolah tempat kerja saya. Namun setelah akhirnya pindah kost ke daerah pusat kota, saya hanya diantar ke sekolah tuk dua hari saja, karena hari lain saya bisa mengendarai sepeda ke sekolah. Sebenarnya cukup melelahkan, tapi terasa lebih bebas dan tidak lagi bergantung ke orang lain, dan bisa berhemat karena tak harus menunggu bus lagi jika pulang sekolah. Sebelumnya, saat pulang sekolah saya harus menghabiskan hampir 2 jam menggunakan bus dikarenakan jadwal bus yang hanya sekali sejam dan saya harus dua kali ganti bus baru tiba di rumah kost saya.

Jam pelajaran dimulai 8.45, namun semua staf dan guru sudah ada di sekolah pukul 8.30. Pagi hari biasanya anak-anak akan melakukan olahraga atau fitness dengan beraktivitas di lapangan, apakah itu berlari, melompat ataupun bermain bola yang jelas mereka harus bergerak aktif sebelum memulai kelas. Biasanya saya telah berada di kelas menunggu siswa bersama guru mentor saya, satu jam pelajaran akan berlangsung selama 60 menit, dan biasanya ada empat sampai kelas yang kami hadapi setiap hari. Sebagai seorang asisten, saya selalu berusaha membantu dan bersikap responsif untuk segala bantuan yang diharapkan, walau terkadang juga saya harus berjuang memahami maksud dari guru-guru yang akan terkadang belum mudah saya pahami. Bukan hanya guru, terkadang saya masih harus berjuang memahami cara anak-anak di sini berbicara,  tahulah bagaimana berbedanya bahasa Inggris di Ausi, bahkan teman dari Inggris dan Amerika juga kesulitan dengan banyaknya perbedaan cara pengucapan dan singkatan yang dimiliki orang-orang Ausi. Tapi mau diapa lagi, harus berusaha terbiasa dan mencoba tuk mengerti meski kadang tak selalu bisa diterima.

Saat reses time-istirahat pertama dan lunch time-istirahat kedua, saya selalu berusaha untuk bisa bergabung bersama staf dan guru yang lain di ruang makan yang selalui ramai.  Biasanya saya tidak banyak bicara, saya bisa mendengar cerita-cerita para staf dan guru yang menikmati makanan mereka. Tak jarang pula mereka mengajak saya bercerita, menanyakan keadaan saya atau juga sekedar basa basi dan bercanda. Namun ada saatnya saya tak bisa berlama-lama, menikmati 30 menit yang disediakan tersebut, karena bertugas mengawasi siswa di area bermain, biasanya 15 menit sebelum waktu istirahat selesai. Saat lunch time, saya menyempatkan shalat dhuhur dulu sebelum mulai mengisi perut agar tidak lupa dan tidak terlalu buru-buru. Sayangnya, saat hari Jumat, waktu tuk shalat di masjid yang cukup jauh tidak memungkinkan, jadinya saya hanya bisa shalat dhuhur di sekolah berjamaah dengan salah seorang guru yang kebetulan sesama muslim, nanti saat Ashar sepulang sekolah, kami menyempatkan diri berjamaah di masjid.

Waktu pulang sekolah selalu sama di semua sekolah, tepat pukul tiga sore. Terkadang waktu berlalu dan tidak terasa sama sekali, apalagi jika banyak kegiatan atau siswa-siswa yang tiba-tiba diluar kendali. Namun tak jarang juga saya mendapati kebosanan dan mencoba menghitung-hitung menit yang tersisa, melirik-lirik jam tangan hingga waktu pelajaran selesai. Yang selalu membuat saya semangat kembali adalah ketika mengingat wajah-wajah lucu nan imut murid-murid yang selalu berusaha dengan sangat baik saat mengulang kata-kata bahasa Indonesia, menanyakan banyak hal, atau kegembiraan mereka saat bermain permainan tradisional sederhana sebagai hadiah telah bersikap baik selama pelajaran berlangsung. Lain kali mungkin kegiatan pembelajarannya akan saya ceritakan lebih lengkap lagi, banyak hal yang tentunya berbeda dari sistem pengajaran di Indonesia.

Setelah tiba di rumah biasanya saya hanya berada di kamar, apalagi saat musim dingin yang terkadang beraktivitas di luar membutuhkan perjuangan menahan rasa dingin yang tak biasa, apalagi disertai dengan angin yang cukup kencang. Namun, jika cuaca cukup cerah, saya akan segera menuju ke perpustakaan, menikmati akses internet gratis kecepatan tinggi atau menyusuri tepi pantai yang selalui ramai di sore hari oleh orang-orang yang berjalan kaki, berlari dan juga bersepeda.

Campur-campur apa yang ada.

Saat malam setelah Isya, biasanya saya baru menuju dapur, membuka kulkas dan berusaha memaksimalkan sisa-sisa bahan yang tersedia. Belanja bahan makanan biasaya saya lakukan sekali tiga hari, bahkan biasa saya belanja cuma sekali seminggu, tapi tak menutup kemungkinan saya bisa berada di pusat perbelanjaan setiap hari, apalagi saat sedang ‘galau’ entah karena masalah apa, maka melihat-lihat barang dirak-rak yang tersusun rapi sambil membandingkan harga yang tertera adalah terapi yang bisa membuat saya melupakan kegalauan yang ada. Paling sering kalau malam hari tiba saya hanya menyantap masakan siap saji seperti bihun dan mie instan, atau jika telah masak nasi pagi harinya, maka malam hari akan ada nasi goreng atau nasi hangat dengan lauk ikan tuna, sarden atau apa saja yang ada.

Karena sekolah hanya sampai hari Jumat saja, maka Sabtu dan Minggu menjadi hari bebas tuk beraktivitas. Kalau minggu pagi saya telah rutin mengikuti kegiatan lari di Harriers Runner Club, maka sabtu pagi dan waktu selain itu akan lebih bervariasi kegiatan yang saya lakukan. Paling sering saya mendatangi pasar murah barang bekas atau garage sale yang pasti ada tiap minggunya, dimana orang-orang akan menjual barang yang tidak mereka gunakan lagi dengan harga lebih murah, tapi jika ingin benar-benar mendapatkan harga yang sangat murah, maka kunjunginya garage sale yang dilakukan oleh mereka yang akan pindah rumah, karena mau tidak mau mereka akan membuang barang tersebut karena tidak bisa mereka bawa saat berpindah rumah, jadinya mereka akan memberikan harga yang menurut saya terkadang tidak masuk akal. Tapi begitulah, karena saya tak mungkin membawa banyak barang pulang ke Indonesia, saya hanya bisa mengusap dada saat melihat speaker bluetooth kualitas sangat baik hanya diharga $5 saja, setara 50 ribu rupiah, padahal dari mengecek harganya secara online, speaker tersebut bisa mencapai harga satu juta rupiah.

Sepeda pinjaman dari Pak John, sangat membantu.

Di akhir pekan, tak jarang pula saya berkeliaran di kota dengan sepeda saya, biasanya banyak kegiatan menarik yang gratis untuk dinikmati, namun jika tak ada yang menarik, sang matahari terbenam juga selalu indah untuk menutup hari. Saya bisa melihat kemilau keemasan sang mentari yang mulai terbenam dengan jingga kemerahan di antara air laut dan awan yang secara langsung tenggelam membentuk lukisan yang indah. Tapi tak juga selalu seperti itu, ada kalanya hanya layar tv dan berita-berita terkini dari berbagai belahan dunia yang menemani hingga malam berakhir. Atau sekedar gambaran wajah orang-orang terkasih dari seberang pulau yang nampak dalam aplikasi pesan sosial media, untungnya saat ini teknologi sudah sangat maju, sekali pencet saja suasana kampung sudah bisa terasa hingga beribu kilometer jauhnya. Saya hanya bisa bersyukur membayangkan beberapa tahun silam saat internet belum secanggih ini, mungkin saya harus menahan kerinduan yang cukup berat, atau justru tenggelam kesibukan dan tak sempat mengingat keluarga yang jauh disana.

Itulah cerita singkat keseharian sebagai seorang asisten pengajar bahasa Indonesia, tak cukup mudah tuk dijalankan, namun tak sulit untuk dinikmati. Semoga bermanfaat.

Comments
  1. Masnijuri says:

    sangat bermanfaat, akan dibaca oleh banyak orang yang juga ingin merasakan kesempatan yang sama. Terima kasih sudah membagi hal baik, take care and enjoy another half year.
    Cheers,
    M

    Like

  2. Zul says:

    Super, tulisan berikutnya akan saya tunggu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s