Mas Pur dan Novita: Peperangan Rasa Ikhlas dan Kasihan

Posted: July 19, 2018 in Curcol, Rasa
senja

“Bersama dalam kebahagiaan tanpa kebohongan”

Baru-baru ini notifikasi akun sosial media saya tiba-tiba ramai dengan pemberitahuan komentar di sebuah postingan status yang saya komentari malam kemarin. Dari postingan seorang teman lama yang tiba-tiba menampilkan foto dirinya dan pasangannya di media sosial facebook, sayapun mendapatkan notifikasi dari banyaknya komentar yang muncul. Hubungan mereka memang tak terlalu mengumbar kemesraan di dunia maya, bahkan sangat jarang sekali mereka menampakkan hal tersebut. Dan begitu hal tersebut tiba-tiba muncul, seakan memberikan sinyal bahwa mereka sudah siap ‘go public‘ hingga berbagai komentar pun bermunculan di postingan tersebut.

Awalnya tak ada komentar yang aneh, banyak yang menggoda dan mengujarkan kegembiraan, ada yang menyarankan untuk segera menikah dan tak jarang pula yang bijak mendoakan, rasanya suasana di komentar berantai tersebut menunjukkan kebahagiaan dan restu untuk mereka.  Tapi tiba-tiba kebahagian itu terasa sedikit terusik, ada sebuah komentar yang awalnya saya pikir sekedar bercanda, namun komentar yang muncul tidak sekali-dua kali saja, membuat saya menarik kesimpulan sendiri, ada cinta segitiga yang terjadi disana, dan tentunya bakal ada hati yang harus tersakiti.

Sebuah komentar dari seorang perempuan yang saya sendiri tak mengenal siapa dia, yang dengan nada judesnya, menyatakan diri sebagai pacar dari si pria yang ada di foto. Bahkan ia sampai marah-marah sambil mengancam, katanya “Jangan sampai hubungan saya dan dia bermasalah karena postingan tersebut”. Wah, jadi ngeri melihat komentar yang diumbar di ruang publik dunia maya tersebut. Meski tak langsung ditanggapi, naluri saya pun bergerilya dengan cepat memberitahu teman yang memasang foto tersebut menanyakan kebenaran apa yang saya baca. Tak berapa lama teman saya dengan tenangnya pun membalas. Hal itu memang benar, ia membalas singkat, katanya si wanita tersebut dan pasangan teman saya, telah pacaran dua tahun lamanya. Dan parahnya, menurut wanita tersebut, teman saya tidak diakui sebagai pacarnya, hanya sebagai teman saja, tidak lebih dari itu.

Setelah berbalas komentar, lanjut berkomunikasi lewat aplikasi pesan, dan merasa yakin dengan kebenaran yang mereka punya, akhirnya mereka memutuskan bertemu secara langsung. Yah, saya sendiri sempat berpikir masalah tersebut akan menjadi-jadi, semakin memanas, hingga terjadi perkelahian fisik dengan massa tanpa bayaran ala-ala adegan perebut laki orang yang sering viral di media sosial. Tapi nyatanya semua itu tak terjadi. Meski sempat tersulut emosi pada awal berkomentar, sang perempuan yang tak berkalung sorban itu, akhirnya menyatakan ‘mundur‘ dan mengikhlaskan hubungan teman saya dan pasangannya berlanjut. Entah seperti apa hubungan mereka dulunya, namun kerelaan untuk melepaskan, dan bahkan secara implisit menyatakan rasa maaf telah menggangu jalannya hubungan percintaan teman saya, yang telah berjalan hampir delapan tahun lamanya, mungkin bisa disebut sebagai bentuk ikhlas melihat orang tersayang berbahagia dengan orang lain, atau justru ia sadar bahwa hadirnya dirinya justru membuat luka mendalam bagi teman saya, hingga akhirnya rasa kasihan dan iba hingga menjadi pendorong ia memutuskan untuk pergi dari hidup keduanya.

Memang jika sejenak merenung, maka tak bisa disangsikan lagi bahwa saat seseorang mampu merelakan orang yang ia cintai bahagia dengan orang lain, maka ia telah menunjukkan rasa ikhlas yang sebenarnya. Seperti banyak orang sepakat bahwa, rasa ikhlas itu adalah kerelaan tanpa beban dalam melakukan atau memberikan sesuatu kepada orang lain, baik berupa materi ataupun sebuah perasaan.

Dalam kisah cinta Mas Pur yang lagi hangat diperbincangkan netizen baik penggemar sinetron Tukang Ojek Pengkolan (T.O.P) maupun hanya pembaca setia lini masa media sosial, tergambar bagaimana ketegaran hati seorang pria merelakan kekasihnya menjadi milik orang lain dengan restu dan cinta yang tetap ia tawarkan. Meski perjuangan Mas Pur tak terbilang mudah mendapatkan cinta si Novita, namun lika-liku perjalanan cinta mereka harus kandas juga. Selain perbedaan sosial ekonomi yang terbilang jauh, hingga restu orang tua pun tak bisa mereka dapatkan. Ternyata, awal cerita cinta mereka bisa jadi alasan terhentinya jalinan asmara keduanya.

Dalam sebuah adegan setelah mereka berpacaran, terungkap alasan kenapa si Novita mau menerima Mas Pur menjadi kekasih hatinya. Sang sahabat yang menjadi tempat berbagi Novita menanyakan alasan dibalik keputusannya yang terbilang tidak masuk akal tersebut, apalagi melihat kondisi dan keadaan Mas Pur sebagai seorang tukang ojek. Jawaban Novita pun ternyata sangat klasik, Ia merasa kasihan atau iba dengan perjuangan lelaki yang sehari-harinya bekerja mencari nafkah dengan menawarkan jasa ojek motornya. Mungkin tak ada yang salah, namun bagi mereka yang percaya dengan kekuatan niat, maka semua akhir yang tidak bahagia dari hubungan mereka adalah sebuah hal yang lumrah. Jika tak ada keikhlasan menerima, hanya keterpaksaan karena ketidakinginan menyakiti hati orang lain, maka pada akhirnya semua akan berakhir dengan rasa sakit.

Memang hal tersebut hanya terjadi dalam adegan rekaan yang sudah diatur sang sutradara, namun ternyata hal itu juga kerap terjadi di kehidupan nyata. Pada akhirnya saya pun mengetahui bahwa sang wanita yang sempat masuk dalam hubungan teman saya dan pacarnya itu tak pernah ikhlas menerima keadaan bahwa ia telah dibohongi, bahkan rasa ikhlasnya tersebut tak mampu membendung rasa emosi yang akhirnya ia luapkan dengan membanting smartphone miliknya dan tangisan yang tak lagi tertahankan.

Pepatah pun mengisyarakat hal yang sama, lebih baik menyakiti dengan kebenaran, daripada membahagiakan dengan kebohongan. Dan sayapun percaya bahwa selalu ada nilai lebih dari sebuah kejujuran. Berani jujur itu baik. Jangan ada kebohongan lagi  di antara kita. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s