Archive for July 20, 2018

Disclaimer: Sebenanya tulisan ini ditujukan untuk Language Assistant berikutnya,tapi belum tepat waktunya dipublish di blog LAP jadinya nebeng disini dulu.

Pada liburan musim dingin, tepatnya bulan Juli, pengumuman tentang pengurusan Tax-Return akan mulai masuk di email. Tax-Return adalah pembayaran uang pajak dari penghasilan yang diperoleh. Jadi saat gaji kita dibayarkan, ada pajak yang dikenakan, sekitar $200-an jumlahnya setiap kali terima gaji. Dari pajak itu akan dikumpulkan dan akan dibayarkan/diberikan kembali melalui proses Tax-Return ini pada bulan Juli untuk periode Juli tahun lalu sampai Juni tahun ini. Jadi uang pajak yang kita akan klaim adalah uang dari pembayaran gaji kita dari bulan Januari sampai Juni saja, sedangkan untuk gaji dari bulan Juli sampai Desember, nanti baru bisa diklaim tahun depan pada bulan Juli juga. Pengumuman ini dapat dicek juga di akun HRMIS masing-masing.

Untuk melakukan klaim atau lodge tax-return tersebut, bisa dilakukan secara online atau menggunakan agen. Dengar-dengar beberapa LA tahun sebelumnya menggunakan agen, tapi saya dan beberapa teman melakukan sendiri secara online dan prosesnya tidak terlalu sulit. Setelah membuat akun di MyGov (jika belum silahkan buat dulu, caranya sangat mudah, sama dengan pendaftaran media sosial saja, siapkan saja alamat surel/email, nomor telepon aktif, dan beberapa secret question/pertanyaan untuk verifikasi yang harus diberikan jawabannya saat login pertama kali). Setelah memiliki akun MyGov, silahkan login dan masuk ke Tab Services, seperti tampilan di bawah ini:

(more…)

Berusahalah, Selalu!

Posted: July 20, 2018 in Kata-Kata

“Hidup tiada mungkin, tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan, mulia adanya”

Kalimat tersebut adalah lirik lagu yang dulu selalu terngiang saat pentas seni kegiatan perkemahan diadakan. Hampir-hampir semua kegiatan yang berupa paduan suara akan menempatkan lagu ini sebagai lagu wajib, yang mau tak mau mengharuskan peserta menguasai dengan baik setiap nada-nada dan iramanya, bahkan beberapa menambahkan variasi nada khusus yang menjadikannya terdengar lebih indah lagi. Saya bukan salah satu dari kelompok paduan suara yang siap selalu bernyanyi, tapi keterlibatan saya sebagai anggota regu Organisasi Kepramukaan di sekolah tentu membuat saya hafal dengan baik lagu tersebut.

Saya sangat antusias dengan kegiatan Pramuka bahkan sejak saya SD. Menjadi kegiatan yang sarat kegiatan fisik dan menguji daya tahan tubuh menjadikan Pramuka sebuah pilihan terbaik bagi mereka yang ingin aktif dalam hal positif. Bukan hanya baris berbaris, menyusur sungai dan mendaki gunung hampir kami lakukan setiap bulan, belum lagi kegiatan perkemahan sabtu-minggu dan perkemahan akbar yang digelar sekali setahun, semua kalau memungkinkan pasti akan diikuti. Saat itu satu-satunya kendala yang selalu menghambat adalah permohonan izin dari pihak sekolah. Yah, terkadang jadwal kegiatan yang bertepatan dengan hari sekolah mengharuskan kami berusaha mati-matian meyakinkan pihak sekolah agar tetap memberikan izin mengikuti kegiatan. Jika tak kunjung mendapatkan persetujuan, tak jarang teman-teman sepakat ‘bolos’ bersama hanya untuk bisa ikut dalam sebuah kegiatan.

Terlihat sedikit nakal juga waktu itu, namun jika melihat kembali apa yang kini bisa dikenang dari kegiatan pramuka, tak ada sedikitpun sesal yang muncul. Bagaimana tidak, dengan tempaan rasa disiplin, kemandirian, kesetiakawanan, kecintaan terhadap alam dan lingkungan menjadikan mereka yang pernah menjadi anak pramuka merasa manfaat yang berarti dalam hidup mereka. Saya tak berbicara dengan asumsi semata, tapi begitulah adanya, setidaknya jika orang-orang yang pernah mengenyam asam garam berkegiatan di alam bebas dan berorganisasi di kepramukaan, tak akan mudah bagi mereka menyerah dengan keadaan.

Saya sendiri merasakan hal tersebut, menjadi terbiasa dengan hidup mandiri karena sering ikut perkemahan, terbiasa hidup sederhana karena sering tidur beralaskan tikar di tenda, bahkan terbiasa makan seadanya karena sering makan telur dan indomie rasa ‘hambar‘ di setiap perkemahan. Sungguh setelah kesusahan akan ada kemudahan. Selain terbiasa dengan itu, saya juga jadi sering bereksperimen dengan berbagai hal, mencoba mengeksplorasi tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi, atau berani melakukan apa yang belum pernah atau belum sempat saya lakukan.

Selama berada di Ausi pun saya sangat sering mencoba-coba sesuatu. Terkadang membeli makanan atau produk baru yang ujung-ujungnya berakhir di tempat sampah, tidak habis dikonsumsi karena rasanya yang aneh atau tidak cocok dengan selera saya yang suka rasa asin dan pedas. Belum lagi dengan aneka masakan hasil kreasi saya dari melihat resep-resep yang berseliweran di sosial media, atau resep dari orang tua di kampung, yang berakhir dengan bentuk menyeramkan atau rasa yang diluar perkiraan. Semua itu seakan menjadi pengalaman yang tentunya takkan bisa saya dapatkan jika tidak berani untuk mengambil risiko, tak berani untuk mencoba. Setidaknya dengan begitu rasa penasaran saya dapat terjawab dan saya tak harus ragu lagi mengakui bahwa saya bisa atau tidak bisa memasak makanan tersebut.

Jika saya hitung-hitung lumayan banyak resep masakan yang telah berhasil saya coba di negeri Kangguru ini. Bakwan adalah produk pertama saya. Setelah berhasil menemukan adanya sayur kol, sayapun membuatnya dengan campuran terigu tanpa ada takaran, hasilnya pun tak mengecewakan. Juga saya berhasil membuat perkedel jagung beberapa bulan lalu, meski rasanya belum terlalu pas, namun kata guru yang mencoba, perkedel tersebut rasanya sangat enak. Pun begitu dengan sambal tomat tumis yang menjadi pilihan percobaan saya setelah mendapati banyak tomat dan lombok yang diberikan seorang teman guru di sekolah, rasanya tak kalah enak buatan mereka yang di kampung nan jauh sana. Saya bahkan sempat berhasil membuat bakso dari campuran daging giling dan tepung tapioka, meski bentuk dan rasanya lebih mirip siomay, namun setidaknya bisa mengobati rasa rindu akan makanan berkuah tersebut.

Terkadang pula hasil dari masak-memasak saya tidak sesuai hasil jika bahan-bahan yang dibutuhkan tak begitu lengkap saya dapatkan. Sebutlah proses membuat pisang goreng Peppe‘ yang merupakan penganan atau olahan pisang muda goreng yang gurih dan renyah karena digeprek dan digoreng lagi. Meski telah berhasil mendapatkan pisang berwarna hijau yang menandakan pisang yang masih muda, namun ternyata jenis pisang yang berbeda dan kesegaran pisang yang mengecewakan karena ternyata sudah lama dipetik, membuat rasa dan tekstur gorengan tersebut tak begitu memuaskan, alih-alih mendapatkan rasa gurih dan renyah, malah manis dan empuk yang didapatkan. Tak berbeda jauh dari percobaan saya membuat Sarabba, minuman jahe tradisional, yang rasanya justru terasa aneh dengan pedas yang sepat dan pahit. Saya tak tahu pasti apakah gula merah yang bentuknya memang aneh, ataukah takaran kurang tepat dari jahe super mahal (jahe benar-benar mahal disini, bisa mencapai 400 ribu rupiah satu kilo) yang saya gunakan.

Juga begitu saat saya mencoba membuat kue donut dengan resep dari hasil berguru pada ibu tersayang. Dengan merasa bahwa bahan berupa terigu yang telah tercampur pengembang akan menghasilkan adonan yang sama dengan terigu yang diberi ragi pengembang, saya membuat donat dalam jumlah yang tak sedikit. Bukan sengaja membuat dalam porsi besar, namun karena campuran adonan yang begitu lembek, mengharuskan saya menambah tepung lagi dan lagi hingga akhirnya hampir satu bungkus terigu berat satu kilogram habis tercampur. Tak tanggung-tanggung ada 20 lebih biji donat yang saya hasilkan. Setelah matang dan diberi pelengkap meses coklat memang kue donat saya masih lumayan enak tuk dinikmati, tapi jika dibandingkan dengan donat yang sering dibuat ibu di kantin, maka akan sangat-sangat jauh berbeda kelembutan dan tekstur rotinya.

Tapi dari pengalaman itu semua, saya bisa belajar banyak hal, salah satunya dengan tidak asal-asalan dalam takaran bahan yang digunakan dan selalu menggunakan bahan dan petunjuk yang disebutkan di resep yang ikuti, jika tidak maka jangan harap hasilnya pun akan sama. Mungkin sama halnya dengan hidup ini, terkadang kita mengeluh dengan hidup yang kita jalani, bahkan terkadang berharap bisa sukses seperti orang-orang yang sedang berlimpah rejeki, padahal memiliki daya juang seperti orang sukses atau mengerjakan apa yang orang-orang tersebut kerjakan kita masuk tidak mau. Jika berharap tumbuh padi, maka tanamlah padi. Semoga bermanfaat.