Seperti Apa Anak-Anak Ausi?

Posted: July 21, 2018 in Australia Daily, sosial
Tags: ,

Selama berada di Geraldton, saya banyak melihat perbedaan antara sikap dan perilaku seorang anak dan perlakuan yang didapatkan oleh anak kecil di sini jika dibandingkan di kampung halaman saya.

Anak-anak merupakan makhluk lucu-lucu nan menggemaskan yang selalu membuat situasi jadi tak menentu. Terkadang kehadirannya begitu diharapkan, tapi tak jarang keberadaanya menjadi masalah yang tak dirindukan. Yang pasti dimanapun berada, anak kecil selalu mendapat perlakuan istimewa, tak terkecuali di negara-negara maju. Tulisan ini akan melihat seperti apa perlakuan yang diberikan terhadap anak-anak dan bagaimana sifat dan kelakuan anak-anak yang sering saya temui.

Di negara maju seperti Australia, anak-anak adalah aset berharga yang keberadaanya selalu diperhitungkan dalam berbagai situasi. Taruhlah sebagai contoh kecil di pusat perbelanjaan, hampir semua supermarket yang menjual buah segar akan menyediakan keranjang penuh jenis buah-buahan khusus diberikan gratis kepada anak-anak yang datang di tempat tersebut. Jadi mereka bisa makan buah segar sambil menemani orang tua mereka berbelanja. Pun juga begitu dengan fasilitas khusus tuk bayi dan ibu menyusui, jika berada di tempat umum berupa pusat keramaian, pasti ruangan khusus ini ada di salah satu sudut bangunan tersebut.

Selain itu, penyediaan fasilitas penunjang keaktifan dan kreativitas anak secara gratis juga banyak ditemui di taman-taman yang hampir ada di semua sudut perumahan. Setidaknya akan ada ayunan, seluncuran dan wahana panjat-panjat sederhana. Terlebih jika taman tersebut berada di pusat kota, akan selalu ditemui fasilitas bermain anak yang lebih lengkap dan beragam, seperti contoh taman bermain anak di area foreshore yang menyediakan permainan ayunan berbagai model, wahana ketangkasan panjat memanjat berbagai ketinggian, wahana ketangkasan yang melatih keseimbangan berjalan, belum lagi yang menggunakan media pasir dan air juga disediakan, dan yang terpenting adalah semuanya gratis. Terlihat jelas bagaimana usaha pemerintah memanjakan anak-anak yang ada di wilayah kerja mereka agar mereka dapat tetap aktif dan bermain tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun.

 

taman1

Salah satu dari sekian banyak fasilitas bermain untuk anak.

 

Di sekolah pun demikian, banyak fasilitas bermain yang disediakan untuk merangsang kreativitas dan keberanian anak-anak mencoba hal baru dan terkesan ‘berbahaya’. Sejak usia dini mereka telah diajari untuk aktif dan tidak takut mencoba melakukan apa terlihat menakutkan. Saat saya mengawasi anak-anak usia 3-4 tahun yang berada di kelas pre-primary atau setingkat TK, saya sempat kaget dan tak habis pikir bagaimana beraninya anak kecil meloncat dari sebuah landasan yang tinggi ke daratan tanpa sedikitpun rasa takut, belum lagi melihat mereka bergelantungan dengan kaki di atas dan kepala di bawah, sambil memanggil-manggil nama saya untuk memperlihatkan aksinya. Mungkin karena telah dilatih sejak kecil mereka jadi terbiasa dan memiliki kekuatan untuk melakukan itu.

Belum lagi kebiasaan yang senada dengan jargon sebuah iklan produk pembersih di Indonesia, yaitu berani kotor itu baik. Di sini terlihat betul bagaimana anak kecil tidak takut akan yang namanya kotor. Mereka dengan bahagianya bermain pasir dengan mobil-mobilan, apalagi pasirnya diberikan air biar lebih seru. Ada lagi yang menggali-gali tanah dengan tangan mereka untuk menanam ranting kayu yang jatuh, atau yang membawa air seember lalu menumpahkan semuanya ke kebun mini yang percikan air bercampur lumpurnya menempel semua di celana mereka. Dan masih banyak lagi yang terlihat tidak bersih dalam kebiasaan di Indo, tapi di sini semua terlihat difasilitasi dan bahkan sudah jadi kebiasaan.

Sependek pengetahuan saya, anak-anak disini juga sangat aktif dengan kegiatan di luar sekolah, seperti mengikuti klub olahraga dan seni. Jika akhir pekan tiba, biasanya orang tua di sini menjadi sangat sibuk, mengatur jadwal anak mengikuti kegiatan yang bisa bermanfaat bagi mereka. Bahkan biasanya kegiatan itu akan berganti seiring bergantinya musim, seperti contoh saat musim panas anaknya bermain olahraga Footy, lalu saat musim dingin anaknya akan bermain Hokky. Memang tak semua akan melakukan seperti ini, karena memang kegiatan tersebut tidaklah gratis, tapi sebagian besar akan berusaha menghabiskan waktu terbaik untuk anak saat akhir minggu tersebut, apakah dengan menemani ke pusat perbelanjaan, menghadiri acara karnaval, atau kegiatan hiburan yang banyak diadakan secara gratis untuk keluarga. Kata seorang guru, justru hari Sabtu-Minggu dia dan keluarga adalah hari tersibuk mereka, bukan hari kerja dari Senin sampai Jumat. Mungkin inilah mengapa dulu waktu kerja sama dengan seorang bule Inggris, mereka sangat tidak mau dan menolak keras jika harus bekerja pada hari Sabtu dan Minggu.

Tak hanya perhatian dalam bentuk menfasilitasi anak dalam kegiatan-kegiatan olahraga, kegiatan seni seperti menari dan menyanyi juga menjadi pilihan orang tua kebanyakan. Anak-anak akan ikut dalam kelas seni tersebut dan akan mengadakan pementasan yang nantinya yang hadir akan membayar untuk melihat pementasan mereka dan biasanya keluarga-keluarga akan hadir menunjukkan dukungan dan rasa bangga dengan kemampuan yang dicapai si anak. Dan satu hal yang sangat saya sukai dari orang-orang disini adalah rasa hormat dan penghargaan yang tulus, untuk hal apapun yang dilakukan, jadi anak-anak selalu termotivasi dan jarang merasa kecewa, karena perlombaan dan kompetisi bukan iklim pendidikan yang ditonjolkan, tapi lebih kepada partisipasi dan kemauan untuk berusaha semaksimal mereka, fokus sama proses bukan pada hasil.

Saya teringat kemarin seorang anak perempuan di kelas 3 yang sangat senang menceritakan bahwa ia akan pentas menari bulan Desember nanti, diapun mengajak saya untuk hadir menyaksikannya. Dan ketika saya bilang saya akan hadir, dia terlihat sangat gembira bahkan berteriak ke teman satu klub tari dia, saat temannya tak mendengar, dia terpaksa berlari ke tempat duduk temannya dan berbisik dan terlihat wajah-wajah sumringah mereka. Ah, semoga saya sempat melihat mereka pentas nanti.

Satu hal yang penting diperhatikan terkait dengan anak kecil baik di sekolah ataupun di tempat umum adalah jarak yang harus ada antara kita dan anak, khususnya anak kecil yang tidak kita kenal. Saat membuat video saja, saya beberapa kali ditegur sama ibu-ibu yang mengira saya merekam anak mereka, mungkin ketakutan akan ancaman pedofil menjadi alasannya, tapi selain itu, memang guru-guru mentor saya sudah mewanti-wanti untuk sebisa mungkin tidak menyentuh anak-anak. Mungkin saat di Indonesia, jika ada anak murid yang tiba menangis dan datang ke kita melapor, mungkin kita akan mengusap punggungnya atau bahkan memeluknya dan menenangkanya, tapi disini, guru-guru akan berusaha menjaga jarak, mereka akan bertanya kepada anak apa yang terjadi tanpa menyentuh mereka.

Setelah menimbang-nimbang, saya rasa apa yang dilakukan dengan jaga jarak tersebut adalah sebuah bentuk proteksi terhadap privasi anak, dan lebih jauh lagi, di kacamata pendidikan mental anak, perlakuan itu akan menanamkan rasa mandiri dan mawas diri. Saat anak TK yang saya awasi terjatuh atau terlihat kesusahan menaiki wahana panjat tebing mini, saya tak bisa memberikan bantuan dengan memegang tangan mereka, mereka akan berusaha sendiri dan berhasil melakukannya atau memilih menyerah dan mencoba lagi permainan yang lain. Dengan begitu, mereka akhirnya mampu melakukan hal yang terlihat berat serta menjadikan mereka lebih percaya diri untuk melakukan itu tanpa bantuan orang lain, atau malah mereka jadi tahu sejauh mana kemampuan mereka, dan bisa memaksimalkannya dengan memilih permainan yang lain.

Demikian tulisan singkat tentang anak-anak Ausi dari sudut pengamatan saya, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s