Berapa Biaya Hidup di Ausi?

Posted: July 29, 2018 in Australia Daily, Curcol, experience

Ini adalah salah satu pertanyaan yang muncul dari kebanyakan teman-teman di Indonesia, dan memang masalah biaya ataupun jumlah uang yang dihabiskan untuk hidup di negara besar seperti Australia selalu jadi hal yang menarik untuk dipertanyakan. Namun sayangnya, tak ada jawaban pasti berapa total biaya yang dikeluarkan, hanya bisa memberikan gambaran kasar saja, kisaran total biaya yang dihabiskan dalam seminggu atau sebulan. Itupun akan bervariasi tergantung tempat tinggal dan kebutuhan pribadi.

Saya sendiri tinggal di Kota Geraldton, sebuah kota yang tidak terlalu besar namun memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Untuk kebutuhan sehari-hari, seperti bahan makanan, alat-alat kebersihan dan pakaian dapat diperoleh dengan mudah di kota ini. Untuk pilihan tempat belanja kebutuhan pokok pun ada beberapa yang bisa jadi pilihan, seperti supermarket Woolsworth, IGA, ataupun Coles, sedang untuk kebutuhan pakaian dan sebagainya ada yang namanya Target, pun juga dengan alat-alat perkakas atau perlengkapan rumah akan mudah didapatkan di Toko Bunnings. Semua yang tadi saya tuliskan adalah toko-toko besar yang hampir semua ada di daerah Australia yang lain. Selain itu tentunya ada juga toko-toko kecil yang menyediakan pilihan yang lebih beragam tuk jenis barang tertentu di masing-masing kota.

Untuk berbelanja di toko besar di atas, harganya akan relatif sama untuk beberapa produk, tapi tak jarang ada yang harganya sangat jauh berbeda apalagi jika mereka sedang mengadakan diskon, harganya bisa turun dua kali lipat lebih murah. Jadi, biasanya untuk menghemat, banyak yang memilih melihat terlebih dahulu katalog online dari masing-masing supermarket, dan menentukan mana yang lebih murah, atau bisa juga memilih untuk datang ke supermarket yang sedang menawarkan banyak produk setengah harga.

Meski saya terima gajinya per dua minggu, namun saya tidak berbelanja setiap dua minggu juga. Boleh dikatakan saya berbelanja sesuai dengan kebutuhan saja, artinya saat sedang butuh baru menuju ke supermarket mencari barang yang saya butuhkan. Jadi jika ditanya berapa dolar yang saya habiskan untuk biaya hidup sebulan, maka saya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Di awal-awal datang dan beradaptasi saya tentu banyak mengeluarkan uang untuk kebutuhan yang tidak habis pakai, seperti kotak makan, botol minum, dan beberapa alat elektronik sehingga jika dihitung akan jauh dari biaya sebenarnya yang saya habiskan untuk hidup selama sebulan.

Tapi sebagai gambaran saja, untuk dua minggu, biaya yang saya habiskan dari berbelanja di Woolsworths dan IGA untuk kebutuhan dasar makanan sebesar $60. Belanja saya ini sudah termasuk buah-buahan seperti apel dan pir, ayam, daging giling, roti, indomie, susu, air minum dan berbagai jenis snack dan juga coklat sebagai cemilan. Semua itu tentu saja tidak termasuk harga bahan-bahan makanan lain yang masih tersisa dari bulan sebelumnya seperti minyak goreng, margarin, keju, kopi, teh, dan gula. Jika harus belanja semua itu lagi, bisa habis sekitar $20 lagi. Sedangkan untuk kebutuhan mandi dan cuci, saya bisa menghabiskan sekitar $10 untuk sebulan sampai dua bulan pemakaian, tergantung seberapa rajin saya mandi dan mencuci.

Karena saya termasuk orang yang tidak pilih-pilih dalam hal makanan, jadi biasanya saya akan memilih mana yang paling murah, karena menurut saya rasanya sama saja. Jadi dari hitungan belanja barang-barang kebutuhan dengan harga termurah, kasarnya bisa dikatakan tuk sebulan saya bisa menghabiskan sekitar $200 untuk bahan dasar makanan saja.

Selain untuk makanan, ada kebutuhan lainnya yang juga harus saya bayarkan tiap bulannya yaitu biaya sewa tempat tinggal, asuransi kesehatan, dan pulsa telepon. Untuk sewa tempat tinggal saya yang berupa kamar dengan fasilitas yang lengkap dengan dapur saja yang digunakan bersama, saya dikenakan biaya sewa $600 perbulannya. Untuk asuransi kesehatan, saya harus membayar $100 perbulannya, sedangkan biaya pulsa untuk telepon saya perbulan tergantung penggunaan internet saya. Dulu waktu masih di tempat yang menyediakan wifi gratis saya hanya mengeluarkan $30 perbulan, sekarang karena tidak ada lagi wifi gratis, saya harus mengeluarkan hingga $60 perbulannya agar bisa berinternet bebas tanpa khawatir dengan kuota data terbatas.

Selain biaya tersebut, tak jarang juga saya harus mengeluarkan biaya tak terduga untuk makan di luar saat berada di kota lain yang tidak memungkinkan tuk bisa masak sendiri misalnya saat liburan ke Perth, atau saat mengikuti kegiatan di luar yang mengharuskan untuk belanja makanan dari stand makanan atau di restaurant. Saat harus makan di luar, maka pengeluaran akan membengkak, sekali makan bisa sampai $20 lebih, menikmati secangkir kopi dan kue bisa habis $10 lebih, bahkan untuk minuman dingin botolan harus merogoh $5 sampai $7, tiga hari saja dengan jalan dan makan diluar bisa sama dengan pengeluaran selama seminggu. Tapi untungnya semua itu tak harus terjadi setiap hari, hanya hari-hari tertentu saat liburan saja.

IMG_3704

Mencoba tuk masak sendiri, menghemat biaya makan.

Selain biaya makan, biaya yang cukup tinggi adalah transportasi. Kalau misal harus naik bus pulang pergi dengan biaya sekitar $5 perhari, maka selama sebulan bisa habis sekitar $150 dollar. Jadi, dengan menambahkan semua pengeluaran mulai dari biaya makan, internet, akomodasi, asuransi dan transportasi maka sebulan pengeluaran  saya bisa sekitar $1000, dengan kurs rupiah terhadap dollar Australia misalnya 10.500, maka setara dengan Rp. 10.500.000,-. Itu hanya untuk biaya kebutuhan pokok yang tadi saya sebutkan saja, artinya untuk kebutuhan pribadi seperti belanja pakaian dan alat elektronik tidak termasuk dalam itu.

 

Terus bagaimana dengan penghasilan di Ausi, apakah dapat menutup pengeluaran tersebut?, jawabnya tergantung gaya hidup masing-masing. Ada yang setengah mati menyeimbangkan pengeluaran dan pemasukan, ada yang merasa tidak terlalu sulit untuk hidup dengan gaji yang diperoleh, bahkan ada yang berhasil menabung dengan jumlah yang sangat banyak, bahkan bagi mereka yang memang kerja fulltime, belum setahun udah bisa membeli rumah sendiri di Indonesia.

Kemarin sempat melihat siaran Instagram salah seorang mahasiswi Indonesia yang sedang kuliah dengan biaya sendiri di Adelaide, Australia bagian Selatan. Katanya penghasilan yang ia dapatkan dari bekerja paruh waktu sudah bisa menutupi biaya hidupnya sehari-hari. Jika digunakan perbandingan persentase penghasilannya terhadap pengeluaran, maka dari penghasilannya, 50% bisa ia tabung, 25% untuk biaya hidup, dan 25% untuk biaya kuliah. Itu pun dia menggunakan visa student yang mana ia tidak bisa bekerja lebih dari 20 jam perminggu, jadi penghasilannya tidak terlalu banyak tentunya. Bayangkan penghasilan mereka yang memegang working holiday visa (WHV) dengan jam kerja yang lebih banyak, tentu bisa menghasilkan pundi-pundi dolar dalam jumlah yang tak sedikit tentunya.

Sebenarnya saat ini ada banyak teman saya yang berada di Sydney dan bekerja di sana sejak tahun 2014, sayangnya saya belum sempat menggali lebih jauh tentang biaya hidup mereka, mudah-mudahan akhir tahun bisa ketemu mereka dan menulis lebih komprehensif lagi tentang kehidupan mereka di sana, siapa tahu ada bocoran cara mudah bekerja dan bertahan hidup di Australia dari mereka yang sudah sangat berpengalaman. Aku mah apa atuh, hanya remah-remahan roti yang tak begitu dianggap, hehe.

Comments
  1. Zoelk says:

    Nice information

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s