Cerita Sumur Tua Buccello

Posted: July 30, 2018 in Cerpen, KKN

“Di sini nak, banyak orang pake ini tempat sebagai tempat mandi dan ambil air saat musim kemarau. Tidak pernah kering airnya” begitu kata ibu posko kami saat kami baru tiba di sumur berbentuk persegi dengan air yang terus mengalir keluar dari dasar sumur yang lebih mirip kolam kecil.

Saat KKN dulu, saya dan 12 orang lainnya ditempatkan di posko yang lokasinya terkesan unik. Berada tidak jauh dari pusat kota namun akses air bersih, baik untuk mencuci maupun mandi, sangat terbatas. Padahal lokasinya itu tepat di kaki bukit yang semestinya memberikan pasokan air tanah yang cukup melimpah. Tapi sayangnya, lokasi posko kami ini berada di lempengan batuan gunung, sehingga air tanah akan sulit untuk didapatkan dengan metode menggali sumur baik manual ataupun bor. Jadinya kami harus bergantung pada pasokan air PAM yang hanya mengalir dua kali seminggu, itupun akan selalu tak cukup jika dibandingkan dengan jumlah pengguna yang lebih dari sepuluh orang.

Solusinya pun tak kalah unik, kami harus mengambil air di sungai kecil di balik bukit yang dengan berjalan kaki maka dibutuhkan 10 hingga 15 menit baru tiba di sana, apalagi disertai dengan nyanyi menyanyi yang tidak jelas sepanjang perjalanan. Atau mengambil pilihan kedua, membawa jerigen air ke sumur tua Buccello di desa seberang yang cukup jauh. Dengan motor yang jumlahnya cukup memadai, entah mengapa kami selalu lebih memilih ke sumur daripada ke sungai.

Memang sungai yang kami selalu datangi tidaklah sebesar sungai pada umumnya. Mungkin lebih mirip selokan dengan air yang mengalir cukup deras meski debit airnya sangat sedikit, tak lebih tinggi dari lutut kami, bahka di beberapa titik airnya hanya setinggi mata kaki kami. Selain itu, karena berasal dari aliran mata air di gunung, jika hujan datang, maka airnya menjadi keruh dan tak layak lagi untuk digunakan memasak. Bahkan untuk mandi saja banyak teman yang segan. Teringat bagaimana rasa kecewa setelah berjalan naik turun lembah yang cukup melelahkan, tapi begitu tiba di sungai ternyata airnya lagi keruh.

Buccello sendiri sudah menjadi tempat mendapatkan air bersih sejak dulu. Lokasinya yang berada di sisi jalan menjadikannya cukup mudah ditemukan. Dengan mengikuti jalan yang ditunjukkan, setelah sebuah tanjakan melintasi persawahan, maka pada track menurun selanjutnya bersiaplah untuk berhenti. Sumur itu berada tepat di sebelah kanan jalan, berbatasan langsung dengan pohon beringin besar yang membuatnya terlihat angker jika hari menjelang malam. Akar-akar nafas dari beringin besar yang menjuntai di atas sumur dan akar-akar bawah tanah yang terlihat di dasar sumur seakan menjadikan pohon beringin ini laksana penjaga setia sang sumur.

Karena bentuknya yang persegi, orang-orang akan berada di sisi-sisinya untuk menggunakan air. Mulai dari mencuci pakaian, mengambil air bersih, hingga mandi dan gosok gigi menjadikan sumur ini terlihat ramai di jam-jam tertentu, biasanya pagi dan sore hari. Saya dan teman-teman akan mengantri berganti untuk mencuci, begitupun dengan mandi. Yang menarik adalah beberapa aturan yang terkesan sakral yang tidak boleh dilakukan di area sumur, pun juga begitu dengan waktu-waktu dimana sumur tidak dianjurkan untuk dikunjungi.

Cerita tentang ini akan saya lanjutkan di serial KKN selanjutnya. Terima kasih sudah membaca.

Comments
  1. Innong says:

    KKN membawa berkah 😂😙

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s