Bukan Rejeki Maka Bersabarlah!

Posted: September 18, 2018 in Australia Daily

Pertama kali tiba di Australia, rasanya lumayan nano-nano, kayak ada manis-manisnya gitu. Mirip kisah sedih orang terlantar, saya harus merasakan hidup tak jelas selama beberapa hari karena belum bisa langsung bekerja. Parahnya lagi, saya harus menanggung biaya hidup selama proses penantian tersebut, penantian selesainya pengurusan surat-surat administrasi hingga saya bisa bekerja sesuai kontrak yang sudah ditandatangani. Apakah saya ditipu? Atau saya yang kurang beruntung saja? Mungkin kita bisa lihat lagi apa yang terjadi hingga saya mengalami keterlambatan kerja tersebut.

Jika merujuk ke cerita saya yang ketinggalan pesawat dari Bali ke Perth, mungkin hal tersebut bisa sepenuhnya menjadi kesalahan saya, namun jika melihat lebih jauh lagi ke belakang, sebenarnya semua ada hubungannya dengan keterlambatan visa saya. Awalnya, semua asisten pengajar Bahasa sudah dibolehkan tiba di Australia dua minggu sebelum kontrak kerja dimulai, dan waktu tersebut memang disiapkan khusus dengan perkiraan sudah cukup memadai untuk mendapatkan legalitas bekerja sesuai aturan di sini. Mengapa sampai dua minggu? Karena kerja sebagai language asisten disini ternyata tak semudah kerja di Indonesia, ada beberapa berkas yang harus benar-benar dimiliki untuk bisa mulai bekerja di sekolah sesuai tugas yang diberikan. Walau hanya sebagai asisten pengajar, bukan guru inti, namun keamanan dan legalitas diatur dengan sangat ketat. Seingat saya, ada beberapa hal yang perlu disiapkan, yang pertama adalah pembukaan rekening bank, lalu dengan menggunakan rekening bank dan beberapa berkas, seperti passport dan visa lalu mengurus keterangan bebas dari tindakan kriminal, dan terakhir mengurus kartu berhak bekerja dengan anak-anak atau working with children check. Tak lupa juga membuat secara online nomor berkas pajak atau TFN yang nantinya akan sangat berguna dalam proses pengurusan pajak. Saya rasa nomor inilah yang jadi nomor sakti di Ausi, mungkin akan saya bahas tersendiri pendapat saya tentang nomor ini di tulisan lainnya, semoga.

Selama mereka menunggu waktu dimulainya sekolah dan mengurus berkas tersebut, mereka di tempatkan di asrama yang mana makanan dan sebagainya di jamin oleh pihak departemen pendidikan di sini, bahkan kata teman yang sempat menyinggung tentang asrama tersebut, memori di asrama merupakan salah satu moment terbaik dari program yang kami ikuti ini. Jadi meski mereka belum memulai kerja sebagai asisten, yang mana tentunya mereka belum mendapatkan bayaran sama sekali, namun setidaknya mereka tidak perlu membayar untuk sewa tempat tinggal dan makanan mereka. Dan begitu berkas mereka sudah siap, mereka lalu dikirim ke tempat tugas mereka, dan siap bekerja tentunya.

Dalam kasus saya, visa saya ditolak tepat saat semua language asisten sudah mulai proses orientasi dan pengurusan berkas-berkas selama di asrama. Saat-saat tersebut adalah saat paling mengalaukan sebenarnya, agak jengkel saja dengan keadaan, saat saya masih berpijak manis di pulau Indonesia, mereka semua sudah dalam proses siap kerja. Ibaratnya, cuma bisa dilihat saja tidak bisa dirasakan, apalagi dipegang-pegang, hehe. Bahkan saat itu, saya jadi belajar akan arti kesabaran dan keikhlasan. Jadi betul-betul percaya bahwa apapun rencana kita, jika Tuhan belum mengijinkan, takkan mungkin terwujud. Boleh dibilang, saya sudah pasti berangkat ke Ausi pada akhir bulan januari, kontrak sudah ditandatangani, asrama sudah disediakan, jadwal orientasi sudah diberikan, bahkan sekolah tempat tugas sudah memberikan jadwal kelas Bahasa yang akan saya dampingi nanti, semua hanya menantikan saya yang harus terbang ke Ausi secepatnya.

Tapi nyatanya, semua tidak semudah yang dibayangkan. Pengurusan visa yang normalnya hanya 2- minggu saja, ternyata tak berlaku bagi saya. Visa saya tak kunjung mendapat persetujuan tuk dikabulkan dari pihak imigrasi, sayapun tidak bisa terbang ke Ausi tanpa ada visa di tangan. Andai dekat dengan pulau Jawa, saya mungkin akan berenang saja ke seberang, apalagi saya sudah cukup puas dari hasil latihan renang selama di kampung Inggris Pare, meski gaya renang saya masih level pemula tingkat akut, tapi dengan semangat keluar negeri, jangankan lautan, samudra pun akan ku arungi, ea.

Parahnya, rasa sedih saya menjadi-jadi saat menerima email dari pengurus asrama, memberikan himbauan batas waktu meninggalkan asrama yang ditujukan kepada semua language asistent, termasuk saya juga. Siapa yang tidak sensi kalau begitu, orang saya hanya berada di Indo, eh, disuruh meninggalkan asrama, kayaknya petugas ini sengaja menambah rasa-rasa kecewa saya. Saya hanya bisa bersabar jadinya. Bayangan Ausi dan Kangurunya semakin kabur di hari-hari berikutnya, hingga saya betul-betul ikhlas dengan apapun hasilnya. Menyerahkan semua kepada sang Maha Pengatur segalanya, pikiran saya kembali mengenang masa-masa kelam saat kerja dulu, saat semua sudah terlihat kehancurannya di depan mata, saya hanya bisa berserah diri. Satu hal yang selalu saya ingat kala itu, jika memang sudah rejeki, maka bagaimanapun, ia akan menjadi miliki kita, tapi jika itu bukan rejeki kita, maka takkan ada jalan untuk kita menikmatinya.

Saya baru berhasil mendapatkan visa saya, tepat di hari semua asisten sudah mulai bekerja. Akhirnya saya harus buru-buru mengejar ketertinggalan saya, terburu-buru memilih jadwal penerbangan ke Perth, yang akhirnya mengharuskan saya merelakan denda hampir sejuta karena keterlambatan check in di Bandara Ngurah Rai Bali.

Keterlambatan visa ini pun sebenarnya cukup menjengkelkan, saya tidak tahu kenapa, di antara empat orang yang menjadi language assistant dari Indonesia, tiga di antara kami harus mengurus ulang visa setelah ditolak di kali pertama, yang artinya harus bayar dua kali pula. Dan sedihnya, hanya saya sendiri yang pengumuman bahwa visa saya ditolak paling lama durasinya. Dua teman lainnya sudah mengurus kembali untuk kedua kalinya, bahkan sampai sudah berhasil mendapatkan visanya, sedangkan saya belum mendapatkan pengumuman dari pengurusan yang pertama.

Aneh rasanya, tapi memang begitu adanya. Sempat berpikir negatif, tapi akhirnya jadi malu sendiri. Ternyata dari pihak imigrasi Australia terdapat tiga dokumen tambahan yang mereka inginkan demi kelancaran aplikasi visa saya, dan parahnya saya hanya memberikan dua berkas saja waktu itu, tanpa memperhatikan bahwa ada lagi berkas ketiga yang menanyakan tentang keterangan dari tempat kerja sebelumnya. Saya pun tersipu malu-malu sambil senyum-senyum sendiri saat baca email dari imigrasi di saat tahu permohonan visa saya ditolak.

Saat semua berhasil saya penuhi, tak sampai seminggu saja, visa saya akhirnya disetujui, dan sayapun terpaksa kehilangan kesempatan merasakan kebersamaan dengan 19 asisten bahasa lainnya di asrama. Terlebih lagi, saya harus merasakan masa-masa mengurus berkas dengan akomodasi dan konsumsi yang harus saya tanggung sendiri. Saya pun hanya bisa berdiam diri saja di rumah setelah kembali dari mengurus berkas yang diperlukan. Karena berkas yang digunakan saling terkait, saya harus sabar mengurus satu persatu bersama guru mentor saya, beliau sangat baik dan penuh perhatian memastikan saya bisa bekerja secepatnya. Sesekali saya menghibur diri dengan berkeliaran di area kota yang sangat sepi di banding kota Makassar. Tapi sebagai salah satu negara maju, fasilitas di sini lumayan lengkap dan membuat lebih betah berlama-lama berkeliaran. Sampai seringnya berada di luar, sayapun akhirnya membuat kartu perpustakaan karena menghabiskan waktu lebih banyak di tempat tersebut. Dan setelah dua minggu lebih berlalu, akhirnya saya pun dapat mulai kerja sebagai asisten guru Bahasa Indonesia. Dan begitulah awal dari perjalanan saya di kota pesisir Australia Barat ini, singkatnya, apapun itu, nikmati saja, itulah rejeki kita. Semoga ada manfaat dari tulisan sederhana ini.

 

DCIM102MEDIA

Foto menggalau di antara buku-buku. Foto hanya pencitraan!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s