Maaf saya lupa!

Posted: September 19, 2018 in Australia Daily

Hari pertama di kelas adalah pengalaman yang tak mudah untuk saya gambarkan dengan kata-kata. Mungkin karena perasaan yang campur aduk kala itu, akhirnya tak banyak yang bisa saya ingat dengan detail. Tapi, daripada tidak ada sama sekali yang tercatat, lebih baik saya tuliskan saja seadanya, siapa tahu nanti bisa jadi pengingat di hari tua nanti.

Saya berdiri sebentar sambil melirik jam yang terpasang di sudut kelas, sisa 5 menit lagi, pikirku memastikan jadwal yang sudah diberitahu guru mentor saya tadi. Saya pun lalu duduk kembali, mengecek presentasi sederhana tentang perkenalan diri saya di komputer di meja saya. Kembali merasa ada yang kurang, meski sudah dicek berkali-kali sejak tadi malam.

Saya mulai penasaran seperti apa anak-anak SD di sini saat belajar di kelas. Begitu bel telah berbunyi, murid-murid dengan warna rambut tak hanya hitam mulai tampak berjalan dari kejauhan. Mereka terhenti tepat di depan pintu masuk sambil berbaris menantikan guru mentor saya menyambut mereka. Tentu saja, tak ada pemeriksaan kuku seperti yang dulu saya alami ketika SD. Mereka harus berjalan dari kelas mereka didampingi guru wali mereka, lalu di depan kelas Bahasa ini, barulah diambil alih oleh guru Bahasa Indonesia. Kayaknya proses serah terima ini selalu berlangsung seperti itu, tak jarang saya melihat ada pesan rahasia yang disampaikan oleh guru wali atau pendamping mereka saat proses ini berlangsung. Mungkin sekedar informasi kehadiran, atau pun keadaan stabilitas jiwa dan kedamaian suasana hati siswa-siswa yang datang, entahlah, saya hanya bisa menebak-nebak saja.

Saya melihat anak-anak kelas pertama ini masuk dan berjalan satu persatu menuju meja yang ada di sisi kanan dan kiri kelas. Setelah meletakkan tempat pensil di atas meja, mereka pun duduk berhamburan di atas lantai karpet di bagian tengah kelas. Antara dua baris meja itulah mereka duduk menghadap papan tulis putih dan juga sebuah TV layar datar yang mungkin seukuran 42 inci, yah kayaknya seperti itu, saya juga belum pernah mengukurnya secara langsung. Mereka duduk bersila, dengan perhatiaan tertuju kepada guru yang duduk di kursi di depan mereka.

Ibu guru pun harus memulai kelas dengan sedikit ketegangan. Suasana yang tadinya diam-diam, tiba-tiba agak gaduh ketika suara seorang anak lantang membalas pertanyaan sang guru. Yah, saat itu salah seorang siswa harus menjawab dengan nada cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dari suara anak-anak lainnya, mungkin karena lagi emosi, padahal ia hanya diminta untuk menjelaskan keadaannya yang memang sudah terlihat marah-marah saat berjalan masuk ke kelas. Jika saya artikan dalam Bahasa Indonesia, mungkin akan terlihat sangat tidak sopan, namun seiring waktu, saya menyadari bahwa kebiasaan menyebut “you” yang berarti kamu atau anda, tidak bisa saya pastikan kadar kesopanannya, karena lebih tergantung kepada mereka yang berbicara, apakah dia niatnya memakai makna kamu ataukah makna anda yang tentunya lebih sopan. Singkat cerita, suasana kelas dapat dengan mudah dikendalikan oleh guru senior saya tersebut. Kelas dimulai dengan sapaan salam dan kabar, lalu setelah sedikit pengantar, tibalah saat saya dipersilahkan untuk memperkenalkan diri.

“Nama saya Pak Ismail” “Pak Is-Ma-il” dengan pelafalan yang saya pelankan, mereka mencoba untuk menyebut kembali nama saya. Ternyata cukup sulit bagi mereka menyebutnya dengan benar, bahkan si ibu guru pun sempat kaget saat saya mengeja nama saya secara perlahan, katanya saya menyebutnya berbeda saat pertama kali ketemu beliau. Baru sadar saya, ternyata orang di sini sangat menghargai cara pengucapan nama dengan tepat dan benar, meski hanya berbeda penekanan, beda bunyi a dan ae saja, sudah jadi sebuah kesalahan. Apalah dayaku yang tak pernah mementingkan pelafalan nama, jika sudah jelas saya tetap dipanggil dengan nama tersebut, maka tak perduli lagi apakah harus dua silabel atau tiga, ataukah dua harus dengan dua tarikan nafas atau sekali nafas saja, asalkan yang menyebutnya tetap bernafas, hehe.

Saat selesai memperkenalkan diri, saya merasa lega, tuntas sudah perjuangan saya menjelaskan kepada mereka tentang diri saya secara sederhana. Tapi ternyata, mereka belum merasa tuntas dengan perkenalan itu. Sesi pertanyaan pun menjadi kelanjutannya. Mereka pun berlomba-lomba mengacungkan tangan mereka, bahkan ada yang sampai mengangkat pantat mereka, hampir terlihat setengah berdiri, yah dengan tujuan agar terlihat menonjol dari yang lain sehingga mereka bisa dipilih untuk bertanya. Jika tak juga dipilih pada kesempatan pertama, maka mereka akan menggoyang-goyangkan tangannya, menghentak-hentakkan jari jemarinya mirip orang yang sedang memberikan kode keberadaannya di tengah-tengah keramaian. Bagi orang-orang yang terbiasa datang terlambat saat ada janji dengan seseorang, apalagi janji bertemunya di tengah keramaian, maka pasti sudah terbiasa dengan gaya lambaian tangan yang saya maksudkan tadi.

Namun, jika semua itu tak berhasil, anak-anak di sini takkan berputus asa. Tangannya akan tetap diangkat ke atas, menunjukkan bahwa ia punya pertanyaan yang berharga untuk ditanyakan. Jika sudah lelah dengan tangan yang satu, maka ia akan mengganti tangan yang lainnya, lelah lagi dengan yang satu, maka diganti lagi dengan tangan pertama, bahkan ada yang sampai menopang tangan kirinya dengan tangan kanannya agar tetap terangkat, betul-betul perjuangan haqiqih. Oh iya, masalah tangan penggunaan tangan ini sedikit berbeda, di sini tak ada norma kesopanan dalam menggunakan tangan seperti di Indonesia, mau tangan kiri dan kanan takkan jadi masalah bagi mereka. Yang penting maksud dan tujuan tersampaikan, hidup kesetaraan tangan!!!

Dan pada akhirnya, setelah mengangkat tangan cukup lama, sang guru pun akhirnya menunjuk anak-anak yang mulai kelelahan tadi, setelah melihat tangan yang diangkat berganti. Sambil menghela nafas, ia lalu berusaha mengingat pertanyaan yang akan ia tanyakan tadi, tak berapa lama ia lalu tersenyum manis, memasang wajah termanisnya lalu berkata “maaf, saya lupa!”

Dan begitulah mereka, anak-anak yang karakternya sangat berbeda, sangat pandai berbahasa Inggris dengan pronunciation/pelafalan kata yang sempurna, tapi penuh dengan kepolosan dan kejujuran. Mereka sedari kecil sudah diajak untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan, mengeluarkan pendapat dan akhirnya menentukan jawaban akhir mereka, dan yang paling penting, tak ada yang salah dari mencoba, meski akhirnya harus menjawab dengan jujur bahwa pertanyaannya tiba-tiba hilang atau terlupakan oleh waktu. Semoga ada manfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s