Archive for November 24, 2018

img_0871

Bidiklah titik tertinggi!

 

Wah, akhirnya diterima juga jadi pengajar Bahasa Indonesia. Meski masih harus mengurus VISA untuk memastikan keberangkatan ke sana. Rasa bahagia dan senang saya hampir jadi luar biasa, jika ia memiliki wadah maka sudah tumpah-tumpah karena tidak dapat tertampung lagi. Masa-masa menunggu surel dari panitia penyeleksi dan departemen pendidikan yang mengurus kontrak kerja pun serasa mendebarkan, ada manis-manisnya ibarat menunggu balasan surat cinta kala SMP dulu.

Tapi ternyata semua penantian tak selalu berakhir bahagia, adakalanya menorehkan luka karena ketidakjelasan yang diberikan, kata anak jaman now itulah namanya di-PHP. Hal itulah yang terjadi, saya mengirimkan aplikasi visa saya saat teman yang lain belum mengirimkannya, saya memberikan semua informasi selengkap-lengkapnya tapi ternyata saya hanya digantung tidak jelas hingga tahun berganti. Malah teman yang lain, semua sudah mendapatkan kejelasan. Saat mereka sudah terbang ke negara seberang, saya masih memandang langit dari daratan pulau di Indonesia.

Saya pun mulai pesimis, saya berubah apatis menjalani keseharian tanpa mau menjadikan hasil keputusan imigrasi hal yang penting lagi. Saya hanya berpikir jika rejeki takkan kemana, jadi biarlah waktu yang menjawabnya. Dampaknya pun tak main-main, saya hampir-hampir melupakannya, saya tak mempersiapkan apapun untuk memenuhi tugas saya kelak di sana. Awalnya saya berjanji untuk belajar tarian daerah, musik-musik tradisional bahkan seni kriya asli Toraja yang bisa saya tampilkan kelak di sekolah. Namun kemalasan pun tak lagi bisa dibendung. Semua seakan tinggal kenangan saja.

Setelah tak lagi ditunggu kabarnya, pihak imigrasi pun muncul menggoda saya. Namun bukan kabar baik yang ia berikan, sebuah lampu merah yang dikirimkan sebagai tanda VISA saya ditolak. Biaya pengurusan VISA pun hangus dan tak dapat dikembalikan. Sayapun mencoba untuk kembali berprasangka baik, mungkin ada doa-doa orang lain yang lebih menginginkan saya di Indonesia ketimbang merantau sebentar ke Australia. Berkabarlah saya ke keluarga di kampung. Sang ibu, juru bicara dan juru kunci di keluarga saya, menyerahkan semua keputusan ke saya. Tapi sebelum beliau mematikan sambungan telepon, disempatkannya memberikan semangat agar saya mau mencoba sekali lagi, kalau memang tidak berhasil, berarti itulah rejeki saya. (more…)

Berasal dari pengalaman pribadi, yang seluruhnya merupakan hasil coba-coba, tulisan ini hanya sebuah bentuk keresahan yang jauh dari sebuah hasil penelitian dan pemikiran yang matang. Di akhir masa tugas yang sisa menghitung hari saja, saya dapat menyimpulkan beberapa hal penting untuk diketahui dan diperhatikan agar dapat menikmati waktu tinggal sementara di negeri Kanguru, Australia.

Berasal dari pengalaman pribadi, yang seluruhnya merupakan hasil coba-coba, tulisan ini hanya sebuah bentuk keresahan yang jauh dari sebuah hasil penelitian dan pemikiran yang matang. Di akhir masa tugas yang sisa menghitung hari saja, saya dapat menyimpulkan beberapa hal penting untuk diketahui dan diperhatikan agar dapat menikmati waktu tinggal sementara di negeri Kanguru, Australia.

Tiba di Australia sebagai asisten guru Bahasa, saya ditempatkan di sebuah daerah yang jauh dari pusat kota. Tepatnya di Geraldton, bagian utara kota Perth, Ibukota Australia Barat. Begitu tiba, saya langsung dihadapkan dengan masalah administrasi dan aturan di Ausi. Tapi berkat bantuan orang-orang baik di Gero, nama imut untuk Geraldton, saya berhasil melaluinya walau dengan drama lucu bin mengharukan.

Si Gero yang lucu dan imut!

Jika kalian berkesempatan untuk ada di posisi saya, atau kebetulan terdampar di tempat yang tak jauh beda, ada beberapa tips yang mungkin bermanfaat menurut saya, apalagi jika kalian baru pertama kali hidup di luar negeri seperti noraknya diri saya ini: (more…)