Strategi (saya) Bertahan Hidup di Australia

Posted: November 24, 2018 in Australia Daily, Curcol

Berasal dari pengalaman pribadi, yang seluruhnya merupakan hasil coba-coba, tulisan ini hanya sebuah bentuk keresahan yang jauh dari sebuah hasil penelitian dan pemikiran yang matang. Di akhir masa tugas yang sisa menghitung hari saja, saya dapat menyimpulkan beberapa hal penting untuk diketahui dan diperhatikan agar dapat menikmati waktu tinggal sementara di negeri Kanguru, Australia.

Berasal dari pengalaman pribadi, yang seluruhnya merupakan hasil coba-coba, tulisan ini hanya sebuah bentuk keresahan yang jauh dari sebuah hasil penelitian dan pemikiran yang matang. Di akhir masa tugas yang sisa menghitung hari saja, saya dapat menyimpulkan beberapa hal penting untuk diketahui dan diperhatikan agar dapat menikmati waktu tinggal sementara di negeri Kanguru, Australia.

Tiba di Australia sebagai asisten guru Bahasa, saya ditempatkan di sebuah daerah yang jauh dari pusat kota. Tepatnya di Geraldton, bagian utara kota Perth, Ibukota Australia Barat. Begitu tiba, saya langsung dihadapkan dengan masalah administrasi dan aturan di Ausi. Tapi berkat bantuan orang-orang baik di Gero, nama imut untuk Geraldton, saya berhasil melaluinya walau dengan drama lucu bin mengharukan.

Si Gero yang lucu dan imut!

Jika kalian berkesempatan untuk ada di posisi saya, atau kebetulan terdampar di tempat yang tak jauh beda, ada beberapa tips yang mungkin bermanfaat menurut saya, apalagi jika kalian baru pertama kali hidup di luar negeri seperti noraknya diri saya ini:

  • Ubah pola pikir tentang nilai dollar. Jika melihat nilai tukar dolar Ausi dan Rupiah, kita akan banyak terganggu ketentraman jiwa dan batin saat berbelanja. Maksud saya, ketika akan berbelanja, jangan selalu bandingkan harga barang-barang di Ausi dengan di Indonesia. Misalnya melihat harga kos kaki di Woolworths seharga 8 dolar Ausi, setelah membandingkan kurs dolar maka harganya akan senilai 80 ribu rupiah. Shock dengan harga yang tidak biasa untuk anak kampung seperti saya, mungkin akhirnya kita tidak akan membelinya karena berpikir bahwa harganya tidak masuk akal. Jadilah beli kos kaki impian baru hanya bisa jadi keinginan saja. Padahal lima kos kaki yang dibawa dari Indonesia sisa dua pasang setengah, satu pasang terjatuh di jalan saat bersepeda ke sekolah dan satunya lagi hilang entah kemana. Silakan bayangkan sendiri, dalam lima hari kerja pakai dua kos kaki saja. Kasian si kaki dan juga orang-orang yang mungkin tersiksa dengan baunya. Makanya pola pikir tentang dolar harus diubah. Yang benar untuk dilakukan adalah membandingkan nilai dolar dan nilai rupiah secara adil. Misal di Ausi gaji perbulan bisa sampai 2400 dolar, sedang di Indonesia bisa dapat 2.400.000, jadi nilai 1 dolar itu sebanding dengan nilai 1000 rupiah. Iya, hanya setara 1000 rupiah. Jadi kalau kembali ke kasus kos kaki tadi, maka harganya tak mahal, justru lebih murah, $8 setara Rp.8.000. Hal ini sangat penting untuk membantu kita menikmati hidup di Ausi. Pada awalnya akan berat, tapi setelah dipikirkan lebih jauh akan masuk akal, kok. Dengan begitu kita bisa lebih bebas tekanan dalam membeli kebutuhan pokok yang benar-benar diperlukan.
  • Meskipun mindset sudah berubah, tapi jangan sampai juga berfoya-foya dengan makan di restoran atau café yang sekali makan bisa habis 20-30an dolar. Padahal kalau masak sendiri akan sangat jauh lebih murah. Olehnya itu, pola pikir nilai tukar dolar itu sebaiknya diberlakukan untuk barang kebutuhan pokok saja, yang benar-benar mendesak dan tidak bisa didapatkan alternative lainnya. Sedangkan untuk kebutuhan sekunder dan tersier, seperti pakaian dan barang elektronik, saya lebih menyarankan mencari barang bekas. Untuk itu, carilah forum jual beli barang bekas yang ada di Facebook. Ketik saja nama kota tempat tinggal diikuti “Buy and Sell” dan kata kunci sejenisnya. Juga check situs GumTree yang mirip dengan situs OXL di Indonesia. Dan selalu cek kapan ada Garage Sale, penjualan barang bekas di garasi/pelataran rumah warga, yang biasa harganya akan sangat murah. Saya pernah ke garage sale, beli kaca mata, tas, map plastik tebal dan beberapa pernak pernik lainnya, hanya diminta membayar lima dolar saja, yang berarti setara dengan lima ribu rupiah. Tentu saja terkesan tidak masuk akal, tapi begitulah adanya. Di Geraldton sendiri ada beberapa event penggalangan dana yang menjual barang bekas berkualitas sepanjang tahun, biasanya akan diumumkan di grup facebook juga. Selain itu ada juga beberapa toko-toko barang bekas pakai yang umum ditemukan di Ausi, seperti Red Cross, Salvos dan Vinnies, yang jika beruntung bisa mendapatkan barang-barang berkualitas yang mungkin saja kita butuhkan.
  • Untuk barang elektronik, saya lebih suka beli yang bekas, karena memang kebiasaan saya dari Indonesia adalah membeli barang bekas. Hampir semua telepon seluler saya tidak pernah beli yang baru, selalu senang hati membeli yang bekas saja, buat apa bayar mahal kalau bisa lebih murah dengan kualitas yang sama. Bagusnya di sini, saya bisa mendapatkan barang yang harganya bisa jatuh jauh sekali, bahkan terkadang tidak masuk akal. Seperti kamera dslr yang terbilang masih baru dijual setengah harga dari harga pembelian. Alasan penjualannyapun hanya karena yang punya kamera tidak ada waktu kosong lagi untuk menggunakannya setelah diterima kerja. Bahkan kata teman saya di Down South, orang di sini biasanya kalau sudah tidak suka, akan menjual begitu saja. Dan jangan khawatir dengan barang palsu atau imitasi, karena bisa dipastikan hampir semua barang asli dan bukan imitasi seperti yang dulu saya sering temukan di Indonesia.
  • Tapi tetap waspada juga, karena bisa-bisa kita mendapatkan barang menyedihkan jika tidak teliti. Saya pernah kecolongan, karena mengejar jadwal bus pulang ke rumah, saya pun tak sempat mengecek baik-baik handphone yang baru saya beli. Saya yang sudah beberapa kali melakukan transaksi dengan orang-orang di sini, mulai percaya bahwa orang di sini tidak akan berbuat curang seperti orang di beberapa negara berkembang sana. Celakanya, begitu sampai di rumah, saya baru sadar ternyata layarnya memiliki dead pixel dan bentuknya melengkung, dilihat dari samping ia nampaknya bengkok akibat tekanan yang cukup keras, entah tertindih atau terjatuh. Kurang beruntung mungkin tepatnya saat itu. Parahnya, saat saya coba komplain, saya tak bisa berbuat banyak karena memang semua keteledoran saya. Syukurnya, handphone ini masih saya pakai sampai sekarang. Selalu bersyukur. Setidaknya saya pernah mendapatkan barang lain dengan harga yang tidak masuk akal. Contohnya sebuah ebook reader seharga $250 dijual hanya $20 dan semua masih bekerja dengan baik. Jadi ada plus minus dari semuanya, hanya perlu pintar-pintar melihat yang mana lebih banyak plusnya.
  • “Kalau bisa gratis, kenapa harus bayar?”, mungkin ini jargon yang tepat menggambarkan kepribadian saya. Makanya saya selalu mencari hiburan di akhir pekan dengan memantau fasilitas hiburan gratis yang ditawarkan dari pemerintah lokal di Gero. Biasanya tiap bulan akan ada perayaan yang gratis untuk dinikmati. Adakalanya mereka juga menyediakan makanan ringan gratis beserta minuman, tentunya. Tapi kebanyakan stand makanan akan berbayar, olehnya itu lebih baik untuk membawa minuman sendiri atau ‘kalau mau’ membawa makanan sendiri. Jadi hal penting yang perlu dimiliki adalah kontainer tempat makanan/kotak makan siang dan botol minuman. Pertama kali datang ke Ausi, saya tidak punya botol minuman satu pun. Saat di asrama saya pernah malam-malam kehausan, baru sadar kalau tidak air minum di kamar, keluar mau mencari Indomaret dan Alfamart, tapi sia-sia, karena sejenis itu tak ada di sini. Sayapun menemukan kran air langsung minum dekat dari kantin asrama, tapi karena tak punya botol minum saya hanya bisa memuaskan dahaga di lokasi kran air tersebut. Sayangnya, jarak yang terlalu jauh, terkadang membuat saya haus lagi sebelum tiba di kamar. Akhirnya saya memutuskan menggunakan kantong plastik, mirip deh es teh yang dijual abang-abang di pinggir jalan Indonesia. Sejak saat itu saya merasakan betapa pentingnya botol minum di sini.
  • Untuk masalah kotak makan sendiri, saya juga mulai merasakan pentingnya saat harus membawa bekal ke sekolah, awalnya saya hanya punya satu, itupun peninggalan asisten Bahasa sebelumnya. Setelah belajar dari pengalaman menghemat makanan, keberadaan container jadi sangat penting. Sesuai dengan tips dari teman asisten lain, untuk berhemat waktu dan uang, disarankan masak sekaligus untuk beberapa hari, terus masukkan dalam kontainer-kontainer, jadi nanti sisa dipanaskan saja dengan microwave saat akan dinikmati. Sepengalaman saya, makanan disini tidak gampang basi, apalagi jika disimpan dalam wadah tertutup dalam lemari pendingin. Belilah kontainer bekas untuk harga yang lebih murah, tapi kalau punya uang berlebih, silahkan beli di Woolworths saat ada potongan setengah harga.
  • Jika benar-benar mau berhemat, jangan lupa untuk memantau terus promo-promo di toko swalayan besar seperti di Woolworths, IGA dan Coles, karena begitu mereka mengadakan diskon promo, maka harganya akan betul-betul murah dibanding hari-hari biasanya. Selain itu, usahakan untuk belanja pada jam-jam menjelang tutup, biasanya akan kemungkinan mendapat barang-barang diskon setengah harga untuk produk fresh, seperti buah, roti dan makanan siap saji, yang tidak bisa dijual lagi esok hari. Saya sendiri suka membeli jenis makanan kaleng, seperti ikan tuna dan sayuran seperti jagung dan kacang-kacangan, jika mereka lagi mendapatkan promo potongan harga, saya biasa memborong secukupnya untuk dijadikan simpanan atau stok cadangan makanan. Stok tersebut dapat bertahan lama dan pasti akan sangat berguna saat nanti berada di situasi darurat kelaparan tengah malam. Jangan sampai tangan sudah gemetaran, tapi hari esok masih lama. Ingatlah selalu dunia malam di Ausi, tak seindah di Indonesia, di mana penjual makanan masih berkeliaran hingga dini hari.
  • Yang saya juga sering cari adalah produk yang berlabel reduced to clear, dijual murah karena stoknya mau dihabiskan. Biasanya produk-produk ini adalah produk yang tidak laku, atau kurang diminati. Adakalanya juga mereka dijual murah seperti itu saat waktu kadaluarsanya sudah dekat atau bahkan sudah lewat best before timenya. Harganya akan sangat jauh dari harga sebenarnya, bisa turun hingga 70%. Bayangkan beberapa banyak penghematan yang bisa dilakukan. Tapi tetap hati-hati, jangan sampai malah keracunan, ingat selalu, keamanan dan keselamatan adalah hal yang utama, apalagi ongkos berobat mahal masbro!.
  • Terakhir, sering-seringlah berkhayal tingkat tinggi. Saya sendiri selalu menghayal. Banyak-banyak memikirkan apa yang saya mau lakukan di Ausi. Saya selalu merasakan besarnya kekuatan pikiran saat berada di sini. Ada ada saja caranya sehingga terkadang apa yang saya pikirkan tiba-tiba terwujud begitu saja. Saya pernah membayangkan akan menonton di satu-satunya bioskop yang ada di Gero, tapi begitu melihat harga tiketnya yang lumayan, saya hanya bisa mengurut dada, sambil berkata, “nanti saja yah nak kalau sudah balik ke Indonesia. Sebulan setelah itu, saat hari ulang tahun saya, teman-teman guru yang akrab dengan saya memberikan hadiah tiket eksklusif untuk nonton di bioskop. Luar biasanya lagi, saya mendapatkan tiket premium yang mana selain menggunakan kursi sofa empuk yang bisa dibuat tiduran dan ada selimutnya, saya juga mendapatkan bonus makanan yang bisa diantarkan saat film sedang berlangsung. Semacam tak percaya, tapi semua tak jauh beda dari khayalan saya.
  • Pernah juga saya merasa sangat ingin ke Kalbarri, sebuah tempat wisata terkenal di Australia Barat, tapi berada lumayan jauh ke arah lebih utara dari Gero. Teman saya yang berada di Perth saja sudah pernah mengunjuginya, masa saya tidak menyempatkan diri ke sana. Akhirnya saya menyusun rencana dan mencari cara mewujudkan khayalan ini. Awalnya saya sempat berkeinginan naik bis sendiri ke sana, bahkan rencana perjalanan sudah saya rancang sedemikian rupa agar dapat pergi dan pulang tepat waktu, sesuai dengan jadwal bus yang hanya ada sekali sehari. Tapi begitu melihat lokasi objek-objek wisatanya yang berjauhan, dan tidak mungkin dijangkau hanya dengan berjalan kaki saja, saya pun membatalkannya. Akan sia-sia tiba di kota Kalbarri jika ujung-ujungnya tak bisa melihat Nature’s Window dan Pink Lake yang saling berjauhan. Berselang beberapa bulan kemudian, kami, masyarakat Indonesia di Gero, mendapatkan kunjungan dari Ibu Konsulat yang baru beserta rombongan KJRI dari Perth. Kunjungan yang bertujuan menjalin silahturahmi dan hubungan akrab dengan masyrakat Indonesia, mereka juga menyempatkan untuk makan malam bersama dengan guru-guru Bahasa Indonesia. Saat makan malam berlangsung, rombongan menanyakan tentang potensi wisata di Gero, dan muncullah Kalbarri dalam pembahasan mereka, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menyempatkan diri mengunjungi Kalbarri, dan jadilah saya diajak bersama mereka karena mobil mereka masih memiliki kursi kosong di deretan belakang. Masih terbayang saat ibu konjen berkata, “kamu spesial ini, ke Kalbarri bersama ibu Konjen”. Saya pun hanya bisa tersenyum bahagia mensyukuri kebaikan beliau.
  • Dan masih banyak lagi keinginan yang awalnya hanya bisa dibayang-bayangkan, tapi akhirnya terwujud juga berkat kekuatan semesta, yang katanya ditarik oleh kekuatan pikiran. Tapi terlepas dari semua itu, saya selalu percaya bahwa Tuhan sang Maha Segalanya-lah, Allah SWT, yang telah menuntun orang-orang baik tersebut untuk selalu menjaga saya.

Sebenarnya masih ada banyak lagi yang harus saya tuliskan, tapi takutnya malah membosankan. Semoga nantinya bisa lebih detail lagi. Selamat berakhir pekan

Gero, 24 November 2018.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s