Archive for the ‘Rasa’ Category

Tulisan Tak Berjudul

Posted: July 23, 2018 in Curcol, Rasa

Tulisan ini tak berjudul, karena hanya sebuah bentuk keresahan saat berpikir tentang bagaimana masa depan akan hadir nantinya. Meski semua akan selalu jadi misteri, dan tak ada yang pernah bisa menebak seperti apa esok, apakah kita akan siap dengan segala konsekuensinya? Atau hanya berharap waktu yang akan membawa keajaiban dan tiba-tiba semua berjalan sebagaimana yang diharapkan semua orang.

Ketika saya melihat orang lain mendapatkan rezeki yang nampaknya lebih baik dari saya, entah itu masalah keluarga, pekerjaan atau pun pendidikan, lantas muncul keinginan untuk merasakan juga hal tersebut, muncul di benak ini semacam rasa tidak enak hati karena tidak bisa juga seperti itu. Kenapa orang bisa dengan mudahnya, yah bagi saya terlihat mudah, mendapatkan hal yang saya dambakan, sedang saya tidak bisa?

Parahnya, saya terkadang mulai menyalahkan masa lalu, mulai menyesali apa yang telah lalu, mirip anak kecil yang menangis karena es krimnya terjatuh, padahal si bocah itu sendiri yang berlarian di lantai yang licin lantas akhirnya tergelincir, jatuh lagi dengan pantat yang terbentur keras, tepat di tulang duduk, yang sakitnya bisa bikin mata kehilangan warna hitamnya. Dulu sering sekali terpikir pula, kenapa bukan kuliah di jurusan lain saja, kenapa tidak kuliah langsung di luar Sulawesi saja, tentu jaringan akan lebih baik, tentu prospek kerja akan lebih bagus. Dan penyesalan ini, kadang datang menghampiri berkali-kali, menitipkan beban rasa bersalah yang semakin hari semakin membuat hidup berat tak bergairah dan menjalani sisanya tanpa penuh makna. Maunya tidur saja, kerja pun tak ada yang dinikmati, hanya menghitung waktu hingga gajian tiba, dan begitu seterusnya, lagi dan lagi.

(more…)

senja

“Bersama dalam kebahagiaan tanpa kebohongan”

Baru-baru ini notifikasi akun sosial media saya tiba-tiba ramai dengan pemberitahuan komentar di sebuah postingan status yang saya komentari malam kemarin. Dari postingan seorang teman lama yang tiba-tiba menampilkan foto dirinya dan pasangannya di media sosial facebook, sayapun mendapatkan notifikasi dari banyaknya komentar yang muncul. Hubungan mereka memang tak terlalu mengumbar kemesraan di dunia maya, bahkan sangat jarang sekali mereka menampakkan hal tersebut. Dan begitu hal tersebut tiba-tiba muncul, seakan memberikan sinyal bahwa mereka sudah siap ‘go public‘ hingga berbagai komentar pun bermunculan di postingan tersebut.

Awalnya tak ada komentar yang aneh, banyak yang menggoda dan mengujarkan kegembiraan, ada yang menyarankan untuk segera menikah dan tak jarang pula yang bijak mendoakan, rasanya suasana di komentar berantai tersebut menunjukkan kebahagiaan dan restu untuk mereka.  Tapi tiba-tiba kebahagian itu terasa sedikit terusik, ada sebuah komentar yang awalnya saya pikir sekedar bercanda, namun komentar yang muncul tidak sekali-dua kali saja, membuat saya menarik kesimpulan sendiri, ada cinta segitiga yang terjadi disana, dan tentunya bakal ada hati yang harus tersakiti.

(more…)

Teruntuk Ibu,

Sudah lama aku tak berkabar padamu. Dalam rindu yang mulai menusuk tajam hingga melukai hati ini, aku mulai tertatih merangkai kata ini untukmu. Menyampaikan padamu betapa waktu yang tak kuhabiskan bersamamu adalah duka yang harus aku telan bersama malam yang kulalui sendiri dalam tiap tidurku. Aku merindu dekap pelukmu dari dingin yang merangkul tubuh ini, seperti rindu wejangan tak berpamrih yang kau berikan di semua tingkah dan gerakku.

Aku selalu teringat akan wajah teduh bermata penuh yang menemani kala sakitku. Semua rapalan doa-doa yang kau panjatkan demi kesembuhan, seakan menjadi musik-musik penenang jiwa yang masih tak pandai membahagiakan dirimu. Kala malam semakin larut, ingatku padamu seakan semakin membuncah dan penuh hingga tak jarang bermuara pada tangis merindu.

(more…)

Rasanya baru beberapa bulan saya meninggalkan rutinitas sebagai seorang mahasiswa. Rutinitas mengerjakan tumpukan tugas dan diskusi kelas telah berganti dengan kesibukan-kesibukan kantor yang sangat jauh berbeda dengan proses perkuliahan. Tak ada kelas dan tak ada tugas yang wajib dikumpulkan setiap minggunya menjadi kesenangan tersendiri bagi saya. Sayangnya, kesenangan tersebut nampaknya sedikit terusik dengan tugas baru yang diberikan di Kelas Menulis Kepo. Membuat tulisan dengan tema bebas menjadi tugas mingguan perdana yang harus diselesaikan tepat sebelum pertemuan kedua dimulai.

Tugas pertama yang diberikan ini ternyata menjadi beban tersendiri bagi saya. Beberapa kali saya terbangun dan terjaga memikirkan materi tulisan yang belum juga muncul di kepala. Tuntutan dan keharusan menyelesaikan tugas tepat waktu seakan berputar-putar bak burung kecil beterbangan di atas kepala saya. Bahkan burung-burung tersebut sudah mulai beterbangan sejak pertemuan pertama berakhir. Tanpa lelah mereka mengingatkan saya untuk terus mencari ide tulisan dari berbagai hal di sekeliling saya.

Dalam perjalanan pulang dari kelas malam itu, mata saya tak henti berpindah dari setiap objek yang saya lalui, mencoba mencari fenomena menarik dari keramaian jalan yang cukup padat merayap di ruas-ruas jalan Kota Makassar. Saya berharap inspirasi akan hadir dari objek-objek yang terekam di ingatan saya. Seperti kebanyakan tulisan yang pernah saya baca, menjadikan objek sehari-hari yang terlihat biasa saja menjadi objek yang indah dan begitu menarik untuk disampaikan kepada orang lain merupakan jenis tulisan yang asyik untuk dinikmati. Orang-orang tanpa sadar akan terhipnotis oleh cerita-cerita sederhana namun memberikan kesan akrab dan bersahabat. Sehingga sepanjang apapun tulisan tersebut, orang-orang takkan berhenti sebelum tuntas membacanya.

(more…)

Kata “Cie” Yang Memisahkan Kita

Posted: November 21, 2015 in Rasa
Tags: , , ,

Beberapa hari terakhir ini, aku merasakan ada banyak hal yang berbeda dari apa yang biasa kita jalani. Kita yang dulu melakukan hal bersama, belajar bersama, mengerjakan tugas bersama, latihan menyelesaikan soal TOEFL bersama, bahkan terkadang makan pun kita tak berpisah, yah walau terkadang memang kita tetap bersama teman-teman yang lain juga saat makan. Tapi, aku mulai sadar bahwa apa yang kita lakukan dari dulu itu merupakan hal yang tidak wajar bagi hubungan yang sebatas teman. Aku bukan merasa aneh dengan mereka yang bersahabat dekat dan menganggap semua sebatas keakraban sebagai sahabat semata. Namun aku melihat itu sebagai hal yang tak wajar dilakukan oleh orang yang tidak berpacaran. Kata mereka sih kita ngedate, padahal kan  apa yang kita lakukan tak lebih dari hal-hal positif sebagai teman yang saling membantu satu sama lain.

(more…)

Pesan dari Sang Hujan

Posted: November 19, 2015 in motivasi, Rasa
Tags: ,

image

Saat hujan kembali turun dengan derasnya, seketika itu ia menjadi menarik tuk dinikmati. Beberapa dari kamipun menyambangi tepian jendela kaca yang menampilkan betapa derasnya hujan menghujam tumpukan debu-debu di permukaan kota Makassar. Sejenak seakan terasa dinginnya suasana di luar sana menyelimuti ruangan tempat kami berkumpul ini. Titik-titik embun bermunculan di sisi luar kaca-kaca jendela. Kabut yang kian menebal seakan membatasi jarak pandangan kami atas pemandangan gedung-gedung tinggi di sekitar menara Bosowa ini. Dari sudut kiri lantai ke delapan Gedung tertinggi di kota daeng inilah, sebuah pemandangan akan hujan menjadi sedikit berbeda. Ruas-ruas jalan yang basah, gedung-gedung yang terlihat lembab, dan awan-awan hitam yang bergelayut memuntahkan beban titik-titik hujan yang sedari tadi tumpah ke bumi.
(more…)

Seruput Kopi di Pagi-Pagi

Posted: March 4, 2015 in daily life, Rasa
Tags: , ,

Secangkir kopi instan berperisa mocha tersaji di atas meja tua. Sepiring kudapan tradisional menemani rasa yang terasa menggoda ini. Pagi yang selalu ramai di kantin kolong kampus merah ini. Terlihat dua mahasiswa duduk tepat di depanku. Mereka bersama tapi tak saling sapa. Yang tua sesekali menyeruput kopi hitam pekat yang mulai kehilangan asapnya. Yang gadispun sibuk mengunyah remah remah gorengan yang begitu dinikmatinya. Mereka semeja dan mereka terdiam saja. Di sebelah dudukan saya ada seorang mahasiswa lagi. Ia terlihat serius membolak balik halaman buku kecil berbahasa Indonesia yang tak jelas terlihat apa isi buku itu. Sekali dua kali ia menghembuskan asap putih dari sela-sela bibirnya. Matanya yang agak merah tetap menatap lembaran kekuningan yang seakan memberinya candu tuk terus membacanya. Ia mungkin seorang mahasiswa akhir, dari jurusan budaya ataukah sastra. (more…)

Kala Waktu Tak Lagi Setia

Posted: March 3, 2015 in Curcol, Rasa
Tags: , ,

Sejak dulu selalu dikata bahwa waktulah yang mampu setia. Katanya ia tak pernah ingkar, selalu sama dan tak pernah beda.
Ia mengabadikan setiap detik menjadi menit.
Mengumpulkan menit menjadi jam
Bersama jam itu menuju hari
Berganti dan berputar bak roda

Namun ia tetap setia pada hitungannya
Detik yang selalu menjadi awal menit
Menit yang tetap pada hitungan ke-60nya
Hari yang berputar pada ke-7 jenisnya
Masih seperti itu…
Tak pernah berganti meski mungkin ia merasa lelah

Aku heran padanya
Apakah ia tak merasakan kebosanan?
Berlaku seperti itu trus dan trus
Tak henti meski tak ada yang peduli

Mungkin nanti jika aku menjadi seseorang
Kan ku bebaskan waktu dari penindasan
Seperti dulu senior kami benci akan penindasan
Meski ini mungkin sebuah kegilaan

Waktu yang bebas dan tanpa hitungan
Tanpa paksaan tuk berganti di tiap putaran
Semaunya ia akan menetap dan menunggu
Hingga semua akan tertawa tanpa perlu berhenti

Bayangkan waktu mengikuti maunya
Ia tak lagi menjadi penyebab musibah
Ia takkan membuatmu terlambat lagi
Ia takkan mengurangi kesenanganmu lagi
Ia akan tetap menyimpan ruang bersama keluargamu nanti
Dan waktu pun kan menjadi penyelamat dalam hidupmu nanti

Sampai waktu terbebas nanti
Ku ingin mengenang dulu
Sepenggal bait lagu yang lampau
Hingga ku lupa kapan kan berganti
Waktuku takkan lama lagi
Ia akan bebas dan tak bertepi
Tak lagi ada menit yang dibatasi
Tak lagi ada hari yang tak terganti
Bahkan bulanpun tak lagi selusin
Semua bebas berimaji
Hingga kau merasa nanti
Bahwa saatnya tuk mati
Maka saat itulah waktumu kan terhenti
Dan tak bisa berganti lagi

Waktu yang mati
Tak bisa bebas berkreasi
Ia tahanan kehidupan yang pasti
Ia mengabdi pada kesetiaan yang abadi
Dan itulah waktu..menunggu waktu tuk hidup tak terbatas waktu.

Bersama Hujan

Posted: March 2, 2015 in Curcol, Rasa
Tags: , , ,

Dan hujan menyamarkan semuanya
Deras rintiknya menutupi derunya suara
Mendendangkan alunan kesepian
Mengajak kita tuk sejenak sendiri dan diam
Tak usah kau katakan yang kau rasakan
Teriakan mu juga takkan terdengarkan

Sekali lagi hujan merayumu
Tuk berembuk dulu pada sibukmu
Pada mereka yang menantimu
Pada mereka yang membanggakanmu
Sejenak saja, pikirkan dirimu

Dan bila hujan pun pergi
Ia meninggalkan tetesnya yang membasahi
Bukan tuk mengotori,
Namun tuk membersihkan pikirmu yang tertatih

Bersama hujan, awan dan langit
Diiringi semilir angin nan dingin
Begitulah sepertinya kita
Ada waktu bersama yang dirindukan

#UNM.15:50

Cinta Tali Pusar

Posted: February 24, 2015 in Curcol, Rasa
Tags: , ,

image

Selamat datang pembaca yang tak setia, kali aku tak bermaksud cerita,  hanya sedikit mengumpulkan kenangan atas masa lalu yang mungkin terkesan bejat. Antara X dan Y biarlah seperti itu. X dan Y itu rumit. Mereka adalah hitungan matematis yang tak terduga, tergantung kalian merubahnya dengan variabel apa dan mengapa. Terserah. Begitupun kisah ini..semua terserah pada saya. Ini objektivitas yang subjektif. Saya melihat dua mata yang saling bertautan. Antara X dan Y. Mari kita menemukan jawaban dari rumusan sederhana ini.
Analisis awal X:
Yah, ini tentang cinta, namun jika itu adalah pertemuan yang tdk disengaja, maka akan aku tuliskan pada catatanku, lalu ku tempelkan tepat di layar depan Tab yang mungil ini.tepat di depannya..”tak satupun yang kebetulan,semua ada dalam skenario dan semua itu harus dijalani”…begitu mungkin tepatnya tertulis sudah dicatatan itu.
(more…)