Posts Tagged ‘#geraldton’

 

IMG_4868

Teman-Teman Seperjuangan, Asisten Bahasa Australia Barat 2018!

 

Saya tiba-tiba teringat dengan penerus saya kelak. Sisa menghitung hari saya akan meninggalkan tugas saya sebagai asisten guru di Gero. Dan beberapa bulan lagi, pengganti saya akan hadir mengemban tugas yang sama dengan saya.

Kami tidak saling kenal, meski tentunya sudah saling bertukar informasi singkat serta tanya jawab tentang pengurusan visa dan persiapan keberangkatan melalui grup WhatsApp yang dibuat.

Ada beberapa catatan singkat dan subjektif dari saya, agar kelak menjadi language assistant tidak terlalu membebani tapi lebih dinikmati. (more…)

 

IMG_4291

Sudut kota Gero Bebas nan Damai

 

Kenapa terlalu cepat berhenti, saat kita belum sama sekali memulai.

Saya tak pernah memungkiri bahwa memulai sesuatu yang rutin merupakan perjuangan berat. Dalam berbagai bentuk usaha membangun sebuah kebiasaan, langkah awal menjadi penentu memulai, tapi menjaga konsistensi melakukan adalah kunci keberhasilan.

Saya selalu mencoba, memaksa diri menghasilkan sebuah tulisan dalam sehari, sekurang-kurangnya satu tulisan saja, namun selalu saja berakhir dengan halaman kosong tanpa sebaris kalimatpun. Paling banter sebuah judul dan kalimat pengantar. Begitu saya menulis, tiba-tiba khawatir dengan hasilnya. Terlalu berharap banyak dari ketidakpastian respon pembaca.

Orang-orang memang banyak berkata bahwa, cara termudah dalam menulis adalah menceritakan ulang sesuatu yang sudah dialami. Tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dalam perjalanan di Australia, saya belum mampu melihat pengalaman pribadi sebagai cara termudah mendapatkan ide tulisan.

Konsumsi publik dan selera pembaca selalu jadi pertimbangan saya. Selama ini menjadikan tulisan sebuah sumber informasi selalu jadi landasan saya menulis. Ketika tak ada unsur informasi yang ada dalam tulisan saya, rasanya tulisan tak berfaedah, hanya untuk kepuasan diri sendiri.

Tak jarang, saya pun banyak mencontoh tulisan-tulisan yang menurut saya bermanfaat untuk dibaca, apakah itu informasi yang berbeda, ataukah cara penyajian berbeda untuk informasi yang sama.Ujung-ujungnya rasa kecewa selalu ada, selalu menggebu-gebu diawal, tapi kembali pesimis di akhir.

Tulisan ini adalah sebuah bentuk keresahan dari penulis biasa, seperti saya. Ketidakpercayaan atas tulisan sendiri melihat pembaca yang nampak tak menikmati. Dan ujung-ujungnya adalah tulisan yang lari ke sana kemari tanpa arah dan tujuan pasti. Beruntung jika jadi sebuah tulisan, jika tidak, maka hanya sebuah kekecewaan lagi dan lagi.

Dan sudah saatnya saya berhenti, dari semua ketidakpercayaan itu, saya percaya, suatu saat, tulisan saya akan merajai banyak media, menjadi trending topik, dan tidak perlu lagi melihat tulisan orang lain sebagai contekan yang kadang menjadi lebih buruk. Dan mungkin tulisan saya berikutnya adalah sebuah bentuk kebebasan ekpresif dari diri saya. Tak perlu lagi menanyakan kenapa tulisan berubah dan tidak terarah, jawabannya singkat, saya hanya mau menjadikan tulisan saya media aktualisasi diri saya dan eksistensi saya.

Jangan jadikan acuan, dan jangan jadikan penghakiman, semua orang berhak atas kemerdekaan berekspresi!

 

14 Februari adalah hari kasih sayang sedunia, katanya, dimana banyak orang di belahan dunia lain merayakan dengan bunga dan coklat yang  diberikan kepada orang terkasih. Namun, bukan hal tersebut yang spesial bagi saya hari ini. Hari ini perjalanan pertama kali melintasi batas negara Indonesia, semua mimpi yang tercipta ratusan hari yang lalu, akan terwujud. Ku tatap nomor tiket pesawat Sriwijaya Air yang akan mengantarkan menuju pintu keluar Indonesia, Bali International Airport, saat masih menunggu di bandara Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan.

Tiba di sini agak telat karena hujan yang membasahi jalanan, om mobil gocar, saya lebih senang menyebutnya seperti itu, membawa saya tiba sekitar sejam lebih awal. Ada om Lias, adik Ibu yang bekerja di Makassar, dua adik saya yang kebetulan ada di Makassar, dan juga si Rahmat, teman kerja di Pare yang ikut semangat mengantar hari ini, meski nyatanya ia datang untuk mengambil barang titipan yang tertinggal di Pare minggu lalu. Rahmat ini adalah mahasiswa penerima beasiswa LPDP, yang seminggu lagi akan berangkat ke Australia, yang akan menjadikan dirinya satu di antara sekian banyak mahasiswa international dari Indonesia di Melbourne University.

Di dalam pesawat mulai ramai dengan penumpang yang berjalan menuju kursinya, saya mendapat tempat duduk di dekat lorong, jadinya hanya bisa melihat dari jauh jendela pesawat yang masih cerah meski hujan cukup deras di luar sana. Ah, terbayang sudah perjalanan yang akan teringat selamanya ini, mendarat dan merasakan sensasi di luar negeri, walau sudah jelas bagaimana keadaan di daerah barat Australia yang tidak semewah di daerah selatan dan ibukotanya. Lebih mirip gurun katanya namun tetap saja bagian dari Australia, salah satu negara maju di dunia.

(more…)