Posts Tagged ‘life’

 

IMG_4868

Teman-Teman Seperjuangan, Asisten Bahasa Australia Barat 2018!

 

Saya tiba-tiba teringat dengan penerus saya kelak. Sisa menghitung hari saya akan meninggalkan tugas saya sebagai asisten guru di Gero. Dan beberapa bulan lagi, pengganti saya akan hadir mengemban tugas yang sama dengan saya.

Kami tidak saling kenal, meski tentunya sudah saling bertukar informasi singkat serta tanya jawab tentang pengurusan visa dan persiapan keberangkatan melalui grup WhatsApp yang dibuat.

Ada beberapa catatan singkat dan subjektif dari saya, agar kelak menjadi language assistant tidak terlalu membebani tapi lebih dinikmati. (more…)

All Language Assistants 2018, Anwar, Ismail, Arif, dan Galuh!

Taruh dimana yah? Perasaan tadi ada di sini” pikirku dalam hati. Sembari mencari-cari, akhirnya saya sadar kacamata itu ada dia atas kepala saya.

Mungkin hal tersebut sering terjadi, mencari-cari sesuatu yang sebenarnya ada di dekat. Saking dekatnya ia sering tak terlihat.

Hidup kadangkala tak jauh-jauh dari hal seperti itu. Terkadang kita mencari kebahagian dengan sebuah perjuangan jauh ke penghujung dunia lain, tanpa sadar banyak kebahagiaan yang sudah disediakan dekat di lingkungan sekitar kita.

Keluarga dan kampung halaman pun sebenarnya adalah kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan yang dicari untuk rasa damai dan tentram. Mungkin jika berada di kampung dan di antara keluarga, sangat pasti kita takkan merasa hal itu berharga.

Rasa berharga akan nilai keluarga dan kampung ini akan begitu terasa saat kita jauh dari mereka. Terpisah jarak membuat kita menjadi lebih bijaksana menilai dari sudut pandang yang berbeda.

Jika masih merasa kebahagiaan belum dicapai, masih merasa perlu mencari dan mencari hingga kadang putus asa, cobalah berhenti sejenak. Jangan dipaksakan.

Kalau perlu berpetualang dulu ke tempat lain, berpindah dulu ke pekerjaan baru, atau masuklah di komunitas yang menawarkan suasana baru.

Jangan takut dengan perubahan, siaplah hadapi tantangan apapun itu. Karena bagaimanapun susahnya, sulitnya, rumitnya, sebuah persoalan pasti akan ada akhirnya.

Ingat selalu, semua akan terasa mustahil sampai kita selesai melakukannya.

img_0871

Bidiklah titik tertinggi!

 

Wah, akhirnya diterima juga jadi pengajar Bahasa Indonesia. Meski masih harus mengurus VISA untuk memastikan keberangkatan ke sana. Rasa bahagia dan senang saya hampir jadi luar biasa, jika ia memiliki wadah maka sudah tumpah-tumpah karena tidak dapat tertampung lagi. Masa-masa menunggu surel dari panitia penyeleksi dan departemen pendidikan yang mengurus kontrak kerja pun serasa mendebarkan, ada manis-manisnya ibarat menunggu balasan surat cinta kala SMP dulu.

Tapi ternyata semua penantian tak selalu berakhir bahagia, adakalanya menorehkan luka karena ketidakjelasan yang diberikan, kata anak jaman now itulah namanya di-PHP. Hal itulah yang terjadi, saya mengirimkan aplikasi visa saya saat teman yang lain belum mengirimkannya, saya memberikan semua informasi selengkap-lengkapnya tapi ternyata saya hanya digantung tidak jelas hingga tahun berganti. Malah teman yang lain, semua sudah mendapatkan kejelasan. Saat mereka sudah terbang ke negara seberang, saya masih memandang langit dari daratan pulau di Indonesia.

Saya pun mulai pesimis, saya berubah apatis menjalani keseharian tanpa mau menjadikan hasil keputusan imigrasi hal yang penting lagi. Saya hanya berpikir jika rejeki takkan kemana, jadi biarlah waktu yang menjawabnya. Dampaknya pun tak main-main, saya hampir-hampir melupakannya, saya tak mempersiapkan apapun untuk memenuhi tugas saya kelak di sana. Awalnya saya berjanji untuk belajar tarian daerah, musik-musik tradisional bahkan seni kriya asli Toraja yang bisa saya tampilkan kelak di sekolah. Namun kemalasan pun tak lagi bisa dibendung. Semua seakan tinggal kenangan saja.

Setelah tak lagi ditunggu kabarnya, pihak imigrasi pun muncul menggoda saya. Namun bukan kabar baik yang ia berikan, sebuah lampu merah yang dikirimkan sebagai tanda VISA saya ditolak. Biaya pengurusan VISA pun hangus dan tak dapat dikembalikan. Sayapun mencoba untuk kembali berprasangka baik, mungkin ada doa-doa orang lain yang lebih menginginkan saya di Indonesia ketimbang merantau sebentar ke Australia. Berkabarlah saya ke keluarga di kampung. Sang ibu, juru bicara dan juru kunci di keluarga saya, menyerahkan semua keputusan ke saya. Tapi sebelum beliau mematikan sambungan telepon, disempatkannya memberikan semangat agar saya mau mencoba sekali lagi, kalau memang tidak berhasil, berarti itulah rejeki saya. (more…)

Patung Kangguru di salah satu taman di pusat kota Perth.

“Iya, memang Kangguru itu hewan nasional di Australia, tapi kami juga makan kangguru, dan saya waktu kecil pernah punya kangguru sebagai hewan peliharaan di rumah” cerita seorang guru yang pernah mengantar saya ke sekolah. Mungkin kita yang ada di Indonesia tahunya kangguru itu hewan asli Australia yang tentunya mendapat perlakuan spesial, tapi ternyata kangguru itu sama sekali tidak spesial di sini.

Sebelum saya lanjut cerita, saya mau berbagi pengetahuan dulu bagi mereka yang belum tahu, nama Kangguru jika dilihat dalam kamus Bahasa Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ternyata ia bukan penulisan yang benar, menurt KBBI yang benar itu Kanguru, berikut kutipan yang saya peroleh dari KBBI versi online: (more…)

Meski telah lebih dari dua minggu lebaran berlalu, hari ini masyarakat muslim di Geraldton baru merayakan hari kemenangan tersebut. Perayaan yang diumumkan secara langsung di Masjid Geraldton sehari sebelumnya ini terlihat cukup meriah. Selain tenda-tenda yang terpasang dengan hiasan tulisan dan balon warna-warni, wahana bermain untuk berbagai jenjang usia pun disediakan.

Gerbang masuk dihiasi dengan rumbai pita aneka warna, papan kecil bertuliskan kata sambutan dipasang tepat di sisi kiri gerbang. Beberapa meter saja di belakang papan tersebut sebuah arena permainan khusus anak-anak menjulang tinggi menutup separuh bagian depan masjid. Di bagian belakang wahana tersebut terlihat dua tikar terhampar beserta permainan ketangkasan dari kayu, empat anak-anak sudah sedari tadi berusaha membangun puzzle setinggi mungkin, sedang dua gadis berjilbab senada dengan bajunya terlihat sibuk memilih-milih kolom yang tepat untuk memenangkan game tic-tac-toe yang terbuat dari papan dan tali goni. (more…)

IMG_0052

Hari ketiga libur musim dingin membawa saya ke kunjungan setengah hari di Museum yang terdapat di bibir pantai Geraldton, di kawasan Marina tempat bersandarnya kapal-kapal pesiar milik orang-orang kaya di sini. Kegiatan operasional museum dimulai pada pukul 9:00 pagi hingga tepat pukul 3 sore. Saya memilih datang setelah mengisi perut siang ini, biar lebih semangat mengeksplore lebih lama seluruh sisi museum. Teringat dulu sempat mampir melihat-lihat sekilas, namun sayang, saat itu keadaan sangat ramai, jadi lebih memilih untuk datang lagi di lain waktu.

Museum merupakan tempat murah untuk menghabiskan waktu luang, apalagi saat liburan seperti sekarang. Biasanya akan ada kegiatan khusus selama musim liburan yang disediakan oleh pihak museum. Pada liburan kali ini, museum Western Australia di Geraldton ini mengangkat tema “Thuri Munga” yang artinya siang dan malam. Tema tersebut menjadi rujukan bentuk kegiatan yang disediakan untuk diikuti oleh anak-anak atau juga pengunjung lainnya. Saya yang sedang ingin menjelajah seisi museum mencoba salah satu kegiatan tuk anak-anak SD di sini, berburu benda-benda yang ada dalam kertas panduan. Setelah membayar biaya 3 dollar, petugas jaga memberikan selembar kertas menampilkan hewan-hewan dan benda yang harus di temukan dalam museum. Sederhana namun sangat menarik, karena untuk menemukan semua benda itu, mau tidak mau kita harus mengelilingi museum dan memperhatikan semua sudut yang telah diberi tanda matahari (siang) dan bulan (malam).  (more…)

JPEG image-A26AC4C31196-1Seorang bocah laki-laki berambut pirang berlari kecil berkejaran dengan seorang anak perempuan di sela-sela lemari buku yang berjejer tak jauh di depan tempat saya duduk. Seorang ibu dan anak yang umurnya lebih muda dari bocah yang berlari tadi, duduk berdampingan sambil memegang buku yang mereka baca bersama, sesekali sang ibu membenarkan pengucapan kata yang dilafalkan sang anak secara perlahan-lahan.

Beberapa orang sibuk bermain dengan laptop mereka masing-masing di deretan meja tepat di belakang saya, satu dua kali terlihat salah satunya menjawab telepon, sedang yang lain memainkan jemari mereka di tuts keyboard laptop mereka. Di sisi kanan saya dan sepanjang ruangan pegawai hingga meja resepsionis perpustakaan ini, orang-orang bergantian menggunakan komputer perpustakaan yang dibatasi hanya 30 menit saja perorang. Di depan meja resepsionis, terlihat kesibukan petugas yang sedang melayani mereka yang akan menjadi anggota perpustakaan atau sekedar bertanya tentang layanan perpustakaan. Di depan meja tersebut berjejer beberapa meja lagi yang sangat favorit, mungkin lokasi yang sangat dekat dengan pintu masuk dan akses colokan yang diberikan, menjadikannya tempat sempurna bagi mereka yang tidak ingin berlama-lama di perpustakaan ini ataupun kebetulan hanya ingin mencharge gadget yang lagi kekurangan daya.  (more…)

Pengalaman berharga untuk sebuah toleransi yang sangat tinggi dan rasa persaudaraan dari muslim yang menjadi minoritas di Negeri Kangguru ini. Selamat Hari Raya Idulfitri, semoga kita selalu dalam kesehatan dan keselamatan menjalankan hidup yang lebih bermanfaat.

IMG_0258Puasa pertama tahun ini dimulai hari kamis, 17 Mei 2018, bertepatan dengan segera dimulainya musim dingin di Australia. Meski tinggal di bagian barat Australia dan lumayan dekat dengan Indonesia, bahkan tak ada perbedaan waktu disini dan di tempat asal saya. Tapi, untuk masalah ibadah Ramadan yang berdasarkan kalender hijriah, durasi menjalankan puasa akan berbeda, waktu mulai berpuasa lebih lambat sedangkan waktu berbuka puasa lebih cepat, sekitar 30 menit.

Walau waktu berpuasa yang lebih singkat sedikit, tapi tantangan berpuasa di sini lebih banyak, karena ada banyak perbedaan dari bulan puasa yang selama ini saya rasakan di Indonesia.

Yang pertama adalah suhu udara yang lebih rendah, karena sudah menjelang dan masuk musim dingin saat menjalankan ibadah puasa. Yang paling susah adalah bangun tepat waktu untuk sahur, berhubung pemanas ruangan hanya di kamar, begitu menuju dapur ataupun ke kamar mandi untuk berwudhu, maka serangan udara dingin, lantai yang dingin, piring yang dingin apalagi air yang tentu bisa sedingin es. Dan terkadang yang paling menjengkelkan adalah makanan yang terlalu cepat dingin. Tentu tahulah bagaimana susahnya membangun selera makan saat sahur, apalagi jika makanannya terasa dingin semua, nafsu makan akan berkurang drastis. Namun ternyata suhu yang lebih dingin di sini, justru membuat rasa lapar tidak terlalu sering menghampiri pun begitu dengan rasa haus, Alhamdulillah. (more…)

14 Februari adalah hari kasih sayang sedunia, katanya, dimana banyak orang di belahan dunia lain merayakan dengan bunga dan coklat yang  diberikan kepada orang terkasih. Namun, bukan hal tersebut yang spesial bagi saya hari ini. Hari ini perjalanan pertama kali melintasi batas negara Indonesia, semua mimpi yang tercipta ratusan hari yang lalu, akan terwujud. Ku tatap nomor tiket pesawat Sriwijaya Air yang akan mengantarkan menuju pintu keluar Indonesia, Bali International Airport, saat masih menunggu di bandara Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan.

Tiba di sini agak telat karena hujan yang membasahi jalanan, om mobil gocar, saya lebih senang menyebutnya seperti itu, membawa saya tiba sekitar sejam lebih awal. Ada om Lias, adik Ibu yang bekerja di Makassar, dua adik saya yang kebetulan ada di Makassar, dan juga si Rahmat, teman kerja di Pare yang ikut semangat mengantar hari ini, meski nyatanya ia datang untuk mengambil barang titipan yang tertinggal di Pare minggu lalu. Rahmat ini adalah mahasiswa penerima beasiswa LPDP, yang seminggu lagi akan berangkat ke Australia, yang akan menjadikan dirinya satu di antara sekian banyak mahasiswa international dari Indonesia di Melbourne University.

Di dalam pesawat mulai ramai dengan penumpang yang berjalan menuju kursinya, saya mendapat tempat duduk di dekat lorong, jadinya hanya bisa melihat dari jauh jendela pesawat yang masih cerah meski hujan cukup deras di luar sana. Ah, terbayang sudah perjalanan yang akan teringat selamanya ini, mendarat dan merasakan sensasi di luar negeri, walau sudah jelas bagaimana keadaan di daerah barat Australia yang tidak semewah di daerah selatan dan ibukotanya. Lebih mirip gurun katanya namun tetap saja bagian dari Australia, salah satu negara maju di dunia.

(more…)

JANGAN rencanakan Kegagalanmu

Posted: February 27, 2014 in Asal, motivasi
Tags: , , ,

Apakah ada di antara kita yang pernah berpikir untuk merencanakan yang namanya kegagalan? Atau ada di antara kita yang dengan sengaja berusaha untuk gagal? Saya rasa jawabannya tidak ada. Bahkan dalam film atau serial tv pun kegagalan bukanlah menjadi sebuah tujuan. Dan begitupun di dunia nyata kita.
Namun banyak yang tidak menyadari, ternyata selama ini kita terkadang merencanakan untuk gagal. Atau dengan sengaja menjemput kegagalan tersebut. Kegagalan ini sering dihubungkan dengan rencana yang kita susun. Orang bijak berkata “barang siapa yang gagal berencana maka ia juga telah berencana untuk gagal“. (more…)